Filsafat Ketuhanan Vaiṣṇava Perspektif Pemikiran Caitanya Mahāprabhu: Doktrin Acintya Bhedābheda dan Budaya Bhakti dalam Teks Śrī Śikṣāṣṭakam

MUTIARAHINDU.COM -- Filsafat Ketuhanan Vaiṣṇava Perspektif Pemikiran Caitanya Mahāprabhu: Doktrin Acintya Bhedābheda dan Budaya Bhakti dalam Teks Śrī Śikṣāṣṭakam. Śrī Caitanya Mahāprabhu hidup sekitar 500 tahun yang lalu di Navadvīpa, Benggala Barat, India. Meskipun Śri Caitanya sangat terkenal sebagai seorang ilmuwan di masa mudanya, Dia hanya menyisakan delapan syair, yang disebut Śikṣāṣṭaka. Delapan ayat ini dengan jelas mengungkapkan misi dan ajaran-Nya. Namun diyakini karena kecerdasan, seluruh pemikirannya mampu dituangkan dalam delapan ayat ini. 

Para Ācārya Vaiṣṇava umumnya menolak pandangan filsafat Śaṅkara tentang konsep māyā vāda dan konsep jaganmithyātva atau kepalsuan dari keberadaan dunia. Demikian pula tentang konsep Tuhan yang Impersonalis, dimana Tuhan Tertinggi tak dapat diwujudkan. Namun demikian para Ācārya Vaiṣṇava tetap memiliki perbedaan-perbedaan doktrin tentang Brahman, Jiva maupun cara mencapai pembebasan. Śrī Caitanya Mahāprabhu menselarasan dan menyatukan berbagai konsep, termasuk mengadopsi sejumlah pemikiran dari Śaṅkara dengan membangun konsep Acintya Bhedābheda. Ia menegaskan bahwa terdapat perbedaan yang tak dapat dipahami dan juga ketidakberbedaan yang tak dapat dipahami. Olehnya, manusia harus mengelevasi tingkat kesadarannya untuk dapat memahami dengan jalan bhakti. Śrī Caitanya terkenal dengan gerakan bhakti dan devosi yang meluap dan memberikan pengaruh yang kuat pada masa kehidupan maupun masa setelahnya. Bahkan ia memberikan pengaruh yang kuat pada semangat bhakti dan devosi pada jaman modern yang mencairkan filsafat dengan semangat bhakti sehingga tidak hanya menjadi perdebatan intelektua yang kering dengan makna. Caitanya berhasil meleburkan logika dan semangat bhakti, sehingga devosi memiliki akar yang kuat dalam pikiran manusia. 


Sebagai Ācārya yang terkenal reformer dalam tubuh Vaiṣṇava, Caitanya juga membangun konsepnya secara egaliter dengan tidak mengistimewakan kelahiran seseorang, sehingga sapa saja diterima sebagai bagian dari gerakan bhaktinya yang luar biasa. Sistem ini sangat cepat menyebar terlebih ketika ajaran Islam mulai merambah dunia dengan konsep egaliternya yang sangat terkenal. Sistem inilah tampaknya Gerakan bhaktinya dapat diadopsi hingga dunia Barat dan lahirnya banyak pemimpin rohani yang non-Indian. Selain itu, sistemnya menawarkan kesejahteraan universal.

II. METODE

Metode yang digunakan adalah penelitian teks, yang dilakukan dengan metode kualitatif dengan dimensi kedalaman (depth dimension). Interpretasi dilakukan mengikuti teori interpretasi Paul Ricoeur dengan analisis data menurut pola analisis isi Ethnographic Content Analysis (ECA). Mengkaji teks dalam golongan Susastra Hindu juga harus menggunakan ketrampilan khusus yang dikenal sebagai Vedic Hermeneutic, yakni serangkaian cara dan metode untuk memahami teks Veda sebagaimana adanya teks itu sendiri. Olehnya, metode yang digunakan juga dikombinasikan secara utuh dalam kajian Vedic Hermeneutic dan dilanjutkan dengan pola interpretasi dari Paul Ricoeur. 

III. PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum dan Pemikiran Caitanya Mahāprabhu

Śri Caitanya merupakan Guru yang pengaruhnya sangat kuat hingga jaman modern dalam tradisi bhakti. Thākura (1896) dalam (Prabhupāda, 1984) menyatakan Śri Caitanya Mahaprabhu dilahirkan di Mayapur di kota Nadia pada waktu magrib tanggal 23 bulan Phalguna tahun 1407 Sakabda, yaitu 18 Februari tahun 1486. Pada saat Sri Caitanya di lahirkan, ada gerhana bulan. Sesuai dengan kebiasaan pada saat-saat seperti itu, para penduduk Nadia sedang mandi di sungai Bhagirathi (Gangga) dengan mengucapkan ‘Haribol’ dengan suara yang keras. Ayah Śri Caitanya bernama Jagannatha Misra adalah seorang brahmana miskin yang mengikuti ajaran Veda. Ibu Śri Caitanya bernama Saci Devi adalah wanita yang memiliki segala sifat yang baik. Ayah dan ibu Sri Caitanya keturunan dari keluarga-keluarga brahmana. Śri Caitanya Mahaprabhu anak yang tampan sekali, dan ibu-ibu tetangga datang untuk melihat Śri Caitanya Mahaprabhu dengan membawa bingkisan. 

Kakek Śri Caitanya yang bernama Pandita Nilambara Cakravarti adalah seorang ahli ilmu perbintangan yang terkenal. Nilambara Cakravarti meramalkan bahwa anak itu akan menjadi kepribadian yang agung sekali sesudah beberapa waktu. Karena itu, Nilambara Cakravarti memberikan nama Visvambhara kepada Śri Caitanya. Ibu-ibu dari daerah itu memberikan nama– Caurahari kepada Śri Caitanya Mahaprabhu karena wajah-Nya berwarna kuning emas, dan ibu-Nya menjulukinya dengah nama Nimai karena Beliau dilahirkan dekat sebatang pohon Nimba. Anak itu tampan sekali. Karena itu, semua orang senang melihat Beliau setiap hari. Dalam masa kanak-kanak-Nya Sri Caitanya Mahaprabhu suka bermain dan bercanda. Sesudah Sri Caitanya berumur lima tahun, Beliau diterima sebagai murid di sebuah pathasala (sekolah). Disekolah itu Beliau menguasai bahasa Bengala dalam waktu–yang singkat. Dalam kebanyakan riwayat hidup Śri Caitanya yang disusun pada waktu itu, disebutkan cerita-cerita tertentu mengenai Caitanya. Cerita-cerita itu merupakan catatancatatan sederhana mengenai keajaiban yang dilakukan selama usia muda Beliau. Disebutkan bahwa waktu Śri Caitanya masih bayi di pangkuan ibunya Beliau menangis terus menerus, dan bila ibu-ibu tetangga menyanyi ‘Haribol’ Beliau berhenti menangis. Karena itu ‘Haribol’ senantiasa diucapkan di rumah Sri Caitanya. Kejadian ini merupakan ramalan tentang missi Sri Caitanya pada kemudian hari (Prabhupāda, 1984). 

Ketika Śri Caitanya berumur delapan tahun, beliau diterima sebagai murid di sekolah ṭola Gaṅgādasa Paṇḍita di Ġangānegara dekat desa Māyāpur. Dalam waktu dua tahun Śri Caitanya menguasai tata Bahasa dan pidato Bahasa Sankerta. Sesudah itu Śri Caitanya membaca dan mempelajari buku sendiri di rumahnya milik ayahnya. Śri Caitanya membaca smṛti dan nyāya. Dalam usia sepuluh tahun, Śri Caitanya sudah menjadi seorang sarjana yang ahli dalam bidang tata Bahasa, ilmu pidato, smṛti dan nyāya (Prabhupāda, 1984). Lebih lanjut dinyatakan pada usia 14 atau 15 tahun beliau menikah dengan Lakṣmīdevī putri Vallabhācārya yang juga berasal dari Nadia. Nadia saat itu terkenal sebagai pusat pembelajaran nyāya dan Bahasa Sanskerta. Namun para Smārta Paṇḍita dan para Naiyāyika takut menghadapinya dalam diskusi tentang kesusasteraan. Karena Śrī Caitanya Mahāprabhu sudah menikah ia pergi ke Benggala Timur di tepi sungai Padma untuk melakukan pengajaran dan mendapatkan sejumlah uang. Ketika itu, istrinya meninggal dunia karena digigit ular. Ketika pulang ia mendapatkan ibunya yang sedang berkabung, ia menenangkan hatinya dengan ceramah tentang kegiatan manusia yang tidak ada kepastiannya. Atas permohonan ibunya, Śrī Caitanya menikah dengan Viṣṇu Priyā putri Rājā Paṇḍita Sanātana Miśra. Seorang Paṇḍita Keśava Miśra dari Kashmir yang sudah menyandar gelar digrijayī datang ke Nadia dengan maksud berdiskusi dengan para Paṇḍita. Para professor dari ṭola ṭola takut karena Paṇḍita itu dapat mengalahkan semuanya dan mereka memilih keluar kota. Paṇḍita itu bertemu dengan Śrī Caitanya, melakukan diskusi singkat dan Keśava dikalahkan dengan anak itu. 

Caitanya memiliki pandangan yang luas dan murah hati. Ia menerima pertaubatan orang Islam secara bebas. Muridnya, Haridasa, adalah seorang fakir Islam (Sivananda, 2007). Tampaknya, sifat murah hatinya ini juga berperan dalam membangun konsep berpikirnya. Caitanya membangun konsep bahwa alam dan roh tergantung pada Tuhan, walaupun mereka terpisah dan berbeda dengan-Nya. Mereka tidak satu dengan Tuhan atau pun berbeda dengan-Nya. Ada perbedaan yang tak dapat dipahami dan juga ketidakberbedaan yang tak dapat dipahami (Acintya Bhedābheda). Olehnya, Caitanya berpegang teguh pada kesatuan dari ketuhanan yang menopang sejumlah besar pemujaan arca atau murti pemujaan yang populer (Surpi, 2019). 

Sebagaimana pandangan Ācārya Vaiṣṇava umumnya, Caitanya menolak pandangan filsafat Śaṅkara tentang konsep māyā vāda dan konsep jaganmithyātva atau kepalsuan dari keberadaan dunia. Para pengikut dari filsafat Caitanya mendasarkan filsafatnya pada sumber Daśa mūla śloka (sepuluh sloka dasar) yang dianggap berasal Gauḍīya (Bengal) Vaiṣṇava yang dihubungkan dengan Caitanya sendiri (Radhakrishnan, 1953). Caitanya dianggap sebagai reformer Vaiṣṇava terakhir setelah Nimbārka dan Vallabha. Caitanya dianggap membawa pembaharuan yang besar, terlebih ditengah serangan Islam di berbagai wilayah di India. Caitanya juga berhasil memadukan logika dan bhakti yang penuh dengan emosi.

Caitanya memulai pembahasan tentang realitas dengan pertanyaan inti apakah pembebasan sebagaimana dinyatakan dalam Veda sehubungan dengan prameya atau objek pengetahuan tertinggi? Menurut Caitanya dan pengikutnya, ajaran Veda tentang realitas tertinggi adalah sebagai berikut:

Hari adalah realitas tertinggi, yaitu Hari yang merupakan Bhagavān atau Tuhan. Halo orang atau sosok non-materi Hari (aṅga-kānti) adalah Brahman tak tentu dari Śaṁkara dan hanya sebagian kecil dari esensi Hari (aṁśa) adalah Paramātman atau Diri tertinggi sebagai diri sebagai roh yang berdiam di dunia ciptaan. Hari adalah keseluruhan (aṁśin) di mana Paramātman adalah bagian (aṁśa) dan Hari adalah realitas sentral di mana lingkaran cahaya yang memancar adalah Brahman nir-veśeṣa. Hari adalah kesatuan dari keindahan sempurna (śrī), keagungan sempurna (aiśvarya), kekuatan sempurna (vīrya), kemuliaan sempurna (yaśas), kecerdasan sempurna (jñāna) dan detasemen sempurna (vairāgya). Dia adalah perwujudan dari enam atribut ini dalam kelimpahannya yang tak terpikirkan. Atribut ini tidak semuanya memiliki peringkat yang sama, karena terkait sebagaimana adanya, sebagai utama dan tambahan. Śrī atau kesempurnaan keindahan adalah yang paling mendasar dari atributatribut ini yang terkait sebagai aṅgin (utama, utama atau esensial) di mana keagungan, kekuatan dan kemuliaan berfungsi sebagai anak perusahaan (Radhakrishnan, 1953).

Caitanya menyatakan bahwa Hari adalah realitas tertinggi yaitu Hari yang merupakan Bhagavān atau Tuhan. Lingkaran cahaya dari gambaran immaterial Hari (aṅga-kānti) adalah katidaktentuan Brahman dan sebagian kecil dari esensi Hari merupakan Paramātman atau Diri Tertinggi sebagai semangat berdiam diri dari ciptaan dunia. Hari adalah keseluruhan (aṁśin) Paramātman adalah bagiannya (aṁśa) dan Hari adalah realitas utama dimana lingkaran cahaya yang terpancar adalah nir-veśeṣa Brahman. Hari adah kesatuan dari keindahan (śrī) yang sempurna, keagungan (aiśvarya) yang sempurna, kekuatan (vīrya) yang sempurna, kemuliaan (yaśas) yang sempurna, kecerdasan (jñāna) yang sempurna dan ketidakterikatan (vairāgya) yang sempurna. Beliau adalah perwujudan dari keenam atribut ini dalam kelimpahan yang tidak terpikirkan. Atribut ini tidak seluruhnya memiliki peringkat/derajat yang sama karena terkait, sama seperti primer dan subsider (Chari, 2000). 

Śrī atau kesempurnaan kecantikan adalah atribut paling mendasar yang dikaitkan dengan aṅgin (primer, utama atau esensial) yang menjadi keagungan; kekuatan dan kemuliaan berfungsi sebagai subside/pembantu. Apa yang kita sebut jñāna atau kecerdasan dan vairāgya atau keterpisahan dalam Tuhan hanyalah sebuah kilasan filsafat dari yaśas atau kemuliaan. Oleh karena itu, jñāna dan vairāgya, kedua kualitas yang ditekankan oleh Śaṁkara merupakan atributatribut pembantu dari Tuhan dan ini menjelaskan mengapa mereka muncul sebagai lingkaran cahaya dari kepribadian/sosok Tuhan. Karena kedua ateribut ini merupakan esensi dari ketidak pastian mutlak Śaṁkara, Brahman  sebagaimana yang dikandungnya bukanlah realitas independan namun hanya aspek adjiktival dari Hari sebagai Mahluk yang memiliki keberanian, kegembiraan dan kesadaran. Sama seperti cahaya, api yang membakar mengendalikan api sebagai sumber dan substratnya, demikian juga Brahman yang tidak pasti seperti lingkaran cahaya Tuhan yang mengendalikan pribadi rohan tuhan sebagai sumber dan substratnya. Tuhan Hari dalam kelengkapannya adalah dualitas dalam kesatuan, jika Kṛṣṇa dan Rādhā (sebagaimana Tuhan dan Shakti (Śakti)-Nya), masing-masing terikat pada ikatan-ikata pengabdian, cinta dan kasih sayang yang tak terpisahkan (Surpi A, 2019). 

Apa yang dikenal sebagai Paramātman atau spirit di dalam pada dunia adalah Inkarnasi terfragmentasi atau pecahan dari Hari sebagai Tuhan dalam kelengkapan dan kesempurnaan-Nya. Hari telah menciptakan dunia maya dari ketidaktahuan dengan bantuan dua atribut-Nya keagungan dan kekuatan dan setelah menciptakannya, telah memasuki atau dibebankan dengan sebagian kecil dari esensi-Nya dalam bentuk Viṣṇu. Meski sebagian kecil Hari, Viṣṇu sebagai dunia jīvanya belum jauh dari kesempurnaan dan kelapangan dari Tuhan Hari yang merupakan sumber-Nya. Karena memang benar kenyataan spiritual yang tak terbatas itu tidak hanya lengkap dan tak terbatas seperti keseluruhan keseluruhan yang tak terbatas, di luar yang tidak ada apa-apa, tetapi juga bahwa bagian (aṁśa) yang tak terbatas juga dapat berbagi ketidakterbatasan keseluruhan yang merupakan bagiannya. Dan begitulah yang telah dikatakan bahwa pengurangan bahkan yang tak terbatas dari warisan yang tak terbatas namun utuh tanpa batas tanpa berkurang.

Pertanyaannya diajukan tentang bagaimana Tuhan, Hari, yang merupakan keberadaan, kegembiraan dan kesadaran tak berhingga, namun memiliki bentuk Kṛṣṇa yang terbatas di ruang-waktu. Memiliki wujud bentuk tidak hanya kehilangan harta benda di mana-mana atau tak terbatas tapi juga terbatas kehendak dan efisiensi. Sebagai balasannya, ini menunjukkan bahwa keberatan timbul dari transferensi yang keliru terhadap kualitas badan material terhadap benda-benda yang pada hakikatnya bersifat spiritual. Sejauh ini menyangkut objek material, ini disebabkan karena kumpulan sattva, rajas dan tamas yang tidak setara yang kemudian mengungkapkan sifat keterbatasan dalam ruang dan waktu sehingga, agar benda material berada di satu tempat pada satu waktu harus absen dari tempat lain pada waktu bersamaan.

Tapi sosok Tuhan adalah bentuk spiritual yang terdiri dari sattva murni dan tidak bercampur (śuddha-sattva), dan tidak, seperti dalam kasus tubuh material, miśra-sattva atau sattva yang dicampur dengan unsur tāmasika dan rājasika. Jadi sementara tidak mungkin sebuah benda material berada di satu tempat dan juga di semua tempat pada saat bersamaan, ini tidak mustahil bagi badan material yang terbuat dari śuddha-sattva sebagai pribadi Tuhan. Sebenarnya, ini adalah salah satu dari sifat a-cintya atau tak terpikirkan dari Tuhan bahwa Dia dapat dibatasi dan didefinisikan secara jelas dalam garis besar dan gambar dan juga berada di mana-mana dalam bentuk-Nya yang dapat dibedakan secara jelas pada waktu yang bersamaan.

Caitanya juga menjelaskan mengenai sifat yang tidak terbayangkan (Radhakrishnan, 1953), yakni sifat tak terbayangkan yang membedakan figur atau personalitas Tuhan juga mencirikan sva-rūpa atau esensinya dan berbagai jenis kekuatan-Nya. Hubungan antara esensi Tuhan atau sva-rūpa dan berbagai jenis kekuatan-Nya adalah salah satu perbedaan yang tak terpikirkan - tidak selaras sehingga sementara Tuhan dalam satu hal tidak berbeda dengan berbagai energi (śaktī). Dia juga memiliki sifat transenden yang tidak habis dalam berbagai manifestasi esensinya. Juga kekuatan-kekuatan yang Tuhan jalankan dalam manifestasi-Nya yang berbeda dapat dipahami dengan istilah logis yang ketat. Kekuatan energi (sva-rūpa śaktī) sebagai realitas spiritual tertinggi, namun kekuatan esensial ini Dia laksanakan dalam tiga bentuk yang berbeda dari citśakti atau kekuatan iluminasi dan kecerdasan, jīva-śakti atau kekuatan fragmentasi diri dan perbanyakan diri sendiri menjadi diri yang terbatas dan māyā-śakti atau kekuatan jika terwujud dan insentien dalam bentuk dunia mati. Bagaimana sva-rūpa atau esensi yang secara inheren spiritual dapat muncul sebagai insentensi dunia material atau bagaimana realitas spiritual yang tak terbatas mungkin telah memecah dirinya menjadi roh terbatas yang tak terbatas tanpa mengurangi integritas keberadaannya, adalah salah satu misteri dari dunia material. Realitas akhir yang menentang resolusi logis.

Mengenai filsafat Acintya Bhedābheda dari Sri Caitanya, (Das, 2012) menganggap konsep ini sebagai konsep universal yang dapat menyelaraskan tujuan penting dari semua pengetahuan, filsafat, agama dan aktivitas lain manusia. menyatakan:

Prinsip acintya-bhedäbheda menyelaraskan konsep berbeda dari disiplin ilmu yang berbeda. Ini memungkinkan kerjasama yang harmonis antara ilmu material dan spiritual. Ini menjawab pertanyaan penting tentang epistemologi (teori sifat dan batas pengetahuan) dan ontologi (teori hakikat realitas tertinggi). Ini mensintesis pendekatan parsial monisme (advaita) dan dualisme (dvaita) menjadi satu kesatuan yang utuh. Ini menyelaraskan agnostisisme eksklusif (manusia tidak dapat mengetahui realitas lengkap/Tuhan sama sekali), imanensi eksklusif (realitas lengkap /Tuhan melekat dan dapat direalisasikan secara mandiri oleh siapa saja) dan transendensi eksklusif (realitas lengkap/Tuhan hanya dapat diwujudkan setelah mencapai alam spiritual ). Ini memberikan bukti bahwa diri berada di luar tubuh materi dan memiliki tubuh spiritual, dan dengan demikian membantu memecahkan masalah kesalahan identifikasi tubuh seperti rasisme, seksisme, keserakahan materi dan penyakit mental. Ini mengungkapkan hubungan Roh Ilahi, roh manusia dan materi dan menawarkan metode untuk mengakses realitas lengkap. Ini paling penting untuk kesejahteraan universal, karena hanya yang lengkap yang benar-benar dapat memuaskan dan prinsip ini memungkinkan masuk ke dalam persepsi, realitas, dan harmoni yang lengkap (Das, 2012).

Keunggulan dari filsafat Acintya Bhedābheda adalah dianggap mampu menselaraskan berbagai konsep yang berbeda, adanya kerjasama yang harmonis antara pengetahuan material dan spiritual, mensintesiskan dua pendekatan besar yakni advaita dan dvaita, menawarkan metode yang lengkap guna mengungkapkan realitas serta menawarkan kesejahteraan universal. Penjabaran Veda yang universal yang menaungi semua doktrin dibawahnya serta mampu mensintesiskan doktrin yang bertentangan. Sehingga doktrin ini dianggap sebagai aspek transenden dari Sanatana Dharma. Aspek terdalam dari Sanatana Dharma, dengan aspek luar yang tampak berbeda. 

Ketika Śrī Caitanya Mahāprabhu berumur 16 atau 17 tahun, beliau berjalanjalan ke Gayā bersama rombongan murid-muridnya. Di Gayā beliau diterima sebagai seorang murid oleh Īśvara Purī, seorang Sannyasī Vaiṣṇava. Īśvara Purī adalah murid Mādhavendra Purī, seorang Vaiṣṇava terkenal. Setelah pulang, Śrī Caitanya mulai mengajarkan prinsip-prinsip keagamaan dan sifat kerohanian menjadi sangat kuat yang membuat banyak Vaiṣṇava heran dengan perubahan hati pemuda itu. Sebelumnya ia tidak lebih dari seorang Naiyāyika yang suka berdebat, seorang Smārta yang suka argumentasi dan seorang ahli pidato yang suka mencela (Gupta, 2007); (Prabhupāda, 1984). Karena pengaruh perasaan rohani, Śrī Caitanya menggerakkan semangat bhakti dan Nadia menjadi pusat kelompok ācārya Vaiṣṇava yang mempunyai misi merubah manusia menjadi rohani dengan pengaruh yang paling luhur dari ajaran Vaiṣṇava. Ia mulau memerintahkan pengikutnya untuk pergi ke jalan-jalan kota mengajak setiap orang menyanyikan nama Hari dan hidup secara suci. Keberhasilan Śrī Caitanya membuat smārta brāhmaṇa menjadi iri hati dengan melakukan berbagai penolakan. Śrī Caitanya menyatakan kelompok-kelompok tersendiri dan pembentukan sekte-sekte merupakan dua musuh utama yang merintangi kemajuan. Demikian pula Śrī Caitanya menjadi warga dunia, menjadi seorang sannyāsī pada umur 24 tahun. Selain mengajarkan gerakan bhakti, ia menyusun sejumlah buku tentang filsafat Vaiṣṇava dan memberikan tugas kepada sejumlah muridnya untuk menyusun buku-buku kerohanian yang menjelaskan secara ilmiah mengenai bhakti dan premā yang murni. Śrī Caitanya melanjutkan misinya dengan melakukan pengajaran maupun diskusi-diskusi dalam berbagai kunjungannya. 

Caitanya mengajarkan bahwa Tuhan dapat diwujudkan hanya dengan cinta kasih yang menggelora dan menyerap segalanya. Menurut Caitanya, kegairahan berasal dari budaya bhakti dan bila kegairahan bertambah mendalam ia disebut cinta kasih (prema) (Sivananda, 2007) Ajaran penting lainnya dari Sri Caitanya adalah pemujaan kepada para guru merupakan gambaran mendasar dari ajaran Sri Caitanya. Belajar Veda, Bhāgavata Purāṇa ditanamkan. Pelaksanaan etika dan pengembangan etis kebajikan semacam murah hati terhadap segala mahluk, kemanusiaan, kemurnian hati, terbebas dari keinginan duniawi, ketenangan dan kejujuran adalah hal yang utama. Sementara itu, Caitanya mengajarkan untuk tidak membedakan golongan karena siapapun dapat memperoleh karunia Tuhan. Dalam Śikṣāṣṭaka, ayat pertama ia menguraikan:

ceto-darpaṇa-mārjanaṁ bhava-mahā-dāvāgni-nirvāpaṇaṁ śreyaḥ
kairava-candrikā-vitaraṇaṁ vidyā-vadhū-jīvanam
ānandāmbudhi-vardhanaṁ prati-padaṁ pūrṇāmṛtāsvādanaṁ
sarvātma-snapanaṁ paraṁ vijayate śrī-kṛṣṇa-saṇkīrtanam ॥1॥

Kemuliaan bagi śrī-kṛṣṇa-saṅkīrtana, yang membersihkan jantung dari semua debu yang terkumpul selama bertahun-tahun dan memadamkan api kehidupan bersyarat, kelahiran dan kematian yang berulang. Gerakan Saṅkīrtan ini adalah berkat utama bagi umat manusia pada umumnya karena menyebarkan sinar bulan pemberkatan. Ini adalah kehidupan dari semua pengetahuan transendental. Ini meningkatkan samudra kebahagiaan transendental, dan memungkinkan kita untuk sepenuhnya merasakan nektar yang selalu membuat kita cemas (Prabhupāda, 1975).

Sifat-sifat seorang Vaiṣṇava menurut Caitanya adalah welas asih, jujur, saleh, tak merugikan, dermawan, kṣatriya, murni, tanpa noda, rendah hati, tenang, lembut, ramah dan pendiam. Ia adalah seorang dermawan universal, yang hanya bergantung pada Śri Kṛṣṇā. Berpantang dalam makanan dan pengendalian diri, menghormati orang lain dan tdak mempedulikan penghormatan dari orang lain. Caitanya meninggal dunia pada 1455 Saka (1533 masehi) dan Caitanya-Bhāgavata ditulis segera setelah itu (Dasgupta, 2011). 

Navadvip atau Nabadwip adalah sebuah kota dan kota di distrik Nadia di negara bagian Benggala Barat, India. Ini adalah tempat holi tempat Chaitanya Mahaprabhu dilahirkan. Terletak di tepi barat Sungai Hooghly, itu dianggap telah didirikan pada 1063 M, dan berfungsi sebagai ibukota lama dinasti Sena. Belakangan, tempat lahir Caitanya menjadi pusat yatra yang sangat menarik bagi pemuja Krishna dan pengikutnya di seluruh dunia. Berbagai festival digelar yang menarik minat para pemuja, seperti Navadvipa Mandala Parikrama yang menjadi festival yang sangat terkenal.

3.2 Acintya Bhedābheda dan Budaya Bhakti dalam Teks Śrī Śikṣāṣṭakam

Sri Caitanya Mahaprabu merupakan salah satu pemikir besar dalam diskursus Tuhan tradisi Vaiṣṇava. Setelah mengambil Sanyasa pada usia 24 dan setelahnya, Sri Caitanya berkeliling melakukan pengajaran filsafat ketuhanan dan bhakti untuk mencapai-Nya, melawan sistem-sistem lain yang dianggapnya melemahkan Sanatana Dharma. Sri Caitanya mengajarkan murid-muridnya agar menyusun buku-buku mengenai ilmu pengetahuan ketuhanan dan pemujaan terhadap Tuhan Kṛṣṇa. Tugas tersebut terus dilanjutkan hingga kini (Prabhupāda, 1984). Diskursus ketuhahan Sri Caitanya sangat menarik bagi para pemikir filsafat. Berbeda dengan pemikiran lainnya, pemikiran Sri Caitanya dianggap mampu menaungi berbagai sistem dalam semangat universalitas.

Dalam Śrī Śikṣāṣṭakam dijelaskan tentang bagaimana Tuhan Tertinggi memiliki banyak nama seperti Kṛṣṇa dan Govinda, yang bermurah hati, melalui upaya pengucapan nama-Nya membantu pemuja untuk menggapai kemuliaan dan mengerti tentang-Nya. Secara tersirat dalam sejumlah baitnya menjelaskan tentang doktrin yang dibangun yakni Acintya Bhedābheda, perbedaan yang sulit untuk dimengerti, karena sifat Tuhan, atributnya yang misterius dan sulit dimengerti. Olehnya budaya bhakti dibangun guna membangun kesadaran agung manusia dan sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi umat manusia berupa penderitaan. 

Keunggulan dari Acintya Bhedābheda adalah dianggap mampu menselaraskan berbagai konsep yang berbeda, mensintesiskan dua pendekatan besar yakni advaita dan dvaita, menawarkan metode yang lengkap serta menawarkan kesejahteraan universal. Penjabaran Veda yang universal yang menaungi semua doktrin dibawahnya serta mampu mensintesiskan doktrin yang bertentangan. Sehingga doktrin ini dianggap sebagai aspek transenden dari Sanatana Dharma. Aspek terdalam dari Sanatana Dharma, dengan aspek luar yang tampak berbeda (Surpi et al., 2020).

Doktrin Acintya Bhedābheda dari Sri Caitanya dianggap sebagai bentuk penjabaran Veda yang universal yang menaungi semua doktrin dibawahnya serta mampu mensintesiskan doktrin yang bertentangan. Sehingga doktrin ini dianggap sebagai aspek transenden dari Sanatana Dharma. Aspek terdalam dari Sanatana Dharma, dengan aspek luar yang tampak berbeda. (Das, 2012) menggambarkan sebagai berikut:

Menurut Caitanya, Tuhan tertinggi, Kṛṣṇa mewujudkan dirinya sebagai Brahman kepada para jnani, sebagai paramatman pada para yogin, dan sebagai Bhagavan yang penuh dengan segala kemuliaan, segala keindahan, segala kelembutan dan segala atribut kepada para Bhakta. Sri Kṛṣṇa adalah roh dari segala roh dan penguasa dari semua itu (Sivananda, 2007). Menurut Caitanya, realitas terakhir adalah Viṣṇu, yang merupakan Tuhan cinta kasih dan karunia, satu-satunya tanpa yang kedua. Ia sat-cit-ananda. Ia adalah nirguṇa dalam pengertian bahwa ia bebas dari sifat-sifat māyā dan saguṇa, karena dilengkapi dengan atribut maha kuasa dan maha tahu. Ia merupakan penyebab efisien dan penyebab material dari alam semesta. Viṣṇu merupakan sumber, penopang dan  akhir dari alam semesta ini. Ia adalah penyebab efisien melalui energi-Nya yang lebih tinggi (Para-Śakti) dan penyebab material melalui energi lainnya (AparaŚakti dan Adya-Śakti).

Caitanya berpandangan bahwa sakti Tuhan bersifat misterius dan tak dapat dipahami. Dinyatakan, seperti matahari yang memiliki sinar dan api yang memiliki panas, demikian pula Tuhan tertinggi, Kṛṣṇa memiliki energi alami atau sakti yang misterius yang tidak dapat dipahami. Śakti-śakti ini tidak memiliki keberadaan yang bebas, tetapi tergantung pada Tuhan. Tuhan dan daya-Nya adalah identik atau pun berbeda (Sivananda, 2007). Lebih lanjut dikatakan, energi-energi ini ada tiga jenis, yaitu: Cit Śakti, Jīva-Sakti dan Māyā-Śakti yang juga disebut antaraṅga, Tatastha dan Bahiraṅga. jīva Sakti disebut Tatastha karena menempati kedudukan antara (perantara) antara Cit-Śakti dan Māyā-Śakti. CitŚakti menciptakan Vaikuntha, tempat yang ada hanya kemurnian dan maya tidak memiliki hak di Vaikuntha dan kāla (waktu) tak dapat menjalankan daya perusaknya. Roh-roh diciptakan oleh Tatastha-Śakti atau Jīva-Śakti dari Tuhan, dalam Svarupa Śakti-Nya Tuhan menunjang Jīva Śakti-Nya. Tuhan menciptakan alam semesta dari prinsip besar mahat. Ia mewujudkan kitab Veda dan mengkomunikasikan dengan Brahma dan pekerjaan penciptaan tahap lanjutan diberikan kepada Brahma. Māyā ditentukan dalam getaran hanya dengan tatapan Tuhan. 

Ciri utama pengikut Vaiṣṇava dari Caitanya adalah mengenakan dua garis tegak lurus dari pasta kayu cendana atau Gopicandana (sejenis tanah yang dianggap suci), menurun di dahi dan bertemu pada pangkal hidung, yang berlanjut mendekati ujung hidung. Selain itu mengenakan kalung dari tiga untaian tasbih kecil pohon tulasi (Sivananda, 2007). Bhakti menjadi doktrin utama dari para pengikut Vaiṣṇava, melalui bhakti, berangsur-angsur manusia dapat meningkatkan kualitas dirinya untuk dapat merasakan rasa rohani Tuhan.

Sri Caitanya secara kuat mengembangkan budaya bhakti (Gupta, 2014) menyatakan Caitanya mengajarkan bahwa Tuhan dapat diwujudkan hanya dengan cinta kasih yang menggelora dan menyerap segalanya. Kegairahan berasal dari budaya Bhakti dan bila kegairahan bertambah mendalam, disebut cinta kasih (prema). Prema merupakan wujud tetap dari bhakti kepada Kṛṣṇa. Dinyatakan Caitanya, Kṛṣṇa prema merupakan pencapaian kehidupan tertinggi. Prema ini membuat para penyembah melayani Kṛṣṇa tanpa pamrih dan menikmati rasa atau manisnya kasih Tuhan. Bhakti merupakan cara untuk senantiasa dekat dan dengan pencapaian tertinggi bagi yang menginginkan penyatian dengan Śri Kṛṣṇa. Caitanya juga menegaskan, Sankirtana merupakan penyembuh tertinggi dari penyakit dan kelemahan manusia. Olehnya, gerakan sankirtana menjadi ciri luar utama yang paling gampang terlihat. Dengan metode sankirtana, karunia Tuhan akan lebih mudah dicapai dan manusia tidak lagi digelapkan dengan kekaburan batin.

IV. PENUTUP

Sistem Filsafat Acintya Bhedābheda dari Sri Caitanya merupakan konsep yang mensintesakan, memadukan dan menyeleraskan berbagai konsep filsafat dalam tubuh Sanatana Dharma sehingga terbangun menjadi sebuah Gerakan reformasi yang hebat. Keunggulan sistem fislafat ini yakni mampu menyatukan berbagai konsep dari acarya sebelumnya dan berhasil memadukan antara logika dan bhakti. Sehingga bhakti, devosi dan berbagai pemujaan memiliki landasan nalar yang kuat. Selain itu, gerakan vaisnava dari Sri Caitanya dibangun dengan pola egaliter yang menerima seluruh umat manusia kedalam sistemnya tanpa membedakan kelahiran. Konsep ini sangat penting terlebih ekspansi Islam pada berbagai wilayah di India yang mengusung konsep egaliter dan meniadakan stratifikasi sosial yang dirasakan menindas bagi Sebagian golongan. Sri Caitanya tidak menulis banyak buku, akan tetapi menganjurkan para murid untuk produktif menulis sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Sri Caitanya hanya meninggalkan Śikṣāṣṭaka namun diyakini seluruh pemikirannya termaktub dalam delapan ayat tersebut. 


Judul: Filsafat Ketuhanan Vaiṣṇava Perspektif Pemikiran Caitanya Mahāprabhu: Doktrin Acintya Bhedābheda dan Budaya Bhakti dalam Teks Śrī Śikṣāṣṭakam
Oleh: Ni Kadek Surpi
Dari: Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

0 Response to "Filsafat Ketuhanan Vaiṣṇava Perspektif Pemikiran Caitanya Mahāprabhu: Doktrin Acintya Bhedābheda dan Budaya Bhakti dalam Teks Śrī Śikṣāṣṭakam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel