Pembagian Yajna Berdasarkan Kualitas dan Kuantitasnya

MUTIARAHINDU.COM -- Dalam artikel hindualukta.blogspot.com dijelaskan bahwa Yadnya (Yajna) berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. 

Pembagian Yajna Berdasarkan Kualitas dan Kuantitasnya

Yajna secara garis besar di bagi menjadi 2 yakni Nitya dan Naitimika Yajña. Nitya Karma (Yajna) atau nitya adalah yajña yang dilaksanakan setiap hari, seperti Tri Sandya dan Yajña Sesa. Yajña Sesa dilaksanakan setelah kita selesai me- masak nasi dan sebelum makan. Yajña sesa diaturkan kepada Bhatara-Bhatari di pemerajan Hyang Wisnu di Sumur (tempat penyimpanan air), Hyang Raditya di atap rumah, Hyang pertiwi dan Bhuta-bhuta di halaman rumah, penunggu karang di tugu, dan tempat- tempat lainnya yang dianggap suci. Sedangkan Naimitika Karma (Yajna) adalah pelaksanaan yajña yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya berdasarkan sasih maupun pawukon (Adiputra, 2003). Naimitika Karma yang lain berdasarkan adanya peristiwa yang dianggap perlu untuk diadakan pelaksanaan yajña, seperti puja wali, selesai pembangunan Candi, galungan, Kuningan, Saraswati, Nyepi, dan Siwaratri.

Dilihat dari kuantitasnya, maka yajña dibedakan menjadi:

1. Nista, artinya yajña tingkatan kecil, dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Nistaning nista adalah terkecil di antara yang kecil
b. Madyaning nista adalah sedang di antara yang kecil
c. Utamaning nista adalah terbesar di antara yang kecil

2. Madya, artinya sedang, yang terdiri dari 3 tingkatan:
a. Nistaning madya adalah terkecil di antara yang sedang
b. Madyaning madya adalah sedang di antara yang sedang
c. Utamaning madya adalah terbesar di antara yang sedang

3. Utama, artinya besar, yang terdiri dari 3 tingkatan:
a. Nistaning utama adalah terkecil di antara yang besar
b. Madyaning utama adalah sedang di antara yang besar
c. Utamaning utama adalah yang paling besar

Keberhasilan sebuah yajña bukan dari besar kecilnya materi yang dipersembahkan, namun sangat ditentukan oleh kesucian dan ketulusan hati. Selain itu, juga ditentukan oleh kualitas dari yajña itu sendiri. Dalam Kitab Bhagavadgitǎ, XVII. 11, 12, 13 disebutkan ada tiga pembagian yajña yang dilihat dari kualitasnya, yaitu:

  1. Tamasika yajña adalah yajña yang dilaksanakan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina, dan sradha.
  2. Rajasika yajña adalah yajña yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan bersifat pamer serta kemewahan.
  3. Satwika yajña adalah yajña yang dilaksanakan beradasarkan sraddhǎ, lascarya, sastra agama, daksina, mantra, gina annasewa, dan nasmita.

Pelaksanaan yajña tersebut merupakan tingkatan korban suci yang dalam hal ini tergantung dari orang yang melakukan korban suci tersebut. Pada materi ini kita telah memahami macam-macam yajña tersebut, untuk itulah kita akan bahas sloka yang mendukungnya, (Suhardi dan Sudirga, 2015:52).

Berikut adalah kutipan kitab Bhagavadgitǎ XVII. 12, sebagai berikut:

"Abhisandhǎya tu phalan dambhǎrtham api cai vayat ijyate bharasrestha tan yajñyan viddhi rǎjasam"

Terjemahan:

"Tetapi yang dipersembahkan dengan harapan pahala, dan semata mata untuk keperluan kemegahan semata, ketahuilah, wahai putra terbaik dari keturunan Bharata, itu adalah merupakan yadnya yang bersifat rajas" (Pendit, 2002: 410).

Selanjutnya pada sloka Bhagavadgitǎ XVII.10:

"Aphalǎkankshibhir yajño vidhidritoya ijyate,yashtavyam eve’ti mana?, samǎdhǎya sa sǎttvika"?

Terjemahan:

"Yajña menurut petunjuk kitab suci, dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala, dan percaya sepenuhnya upacara ini, sebagai tugas kewajiban adalah sattwika" (Pendit, 2002: 409), (Suhardi dan Sudirga, 2015:53).

Berdasarkan kutipan sloka Bhagavadgitǎ tersebut dapat dipahami bahwa pelaksanaan yajña berdasarkan kualitasnya yang terdiri atas satvam, rajas, dan tamas. Korban suci yang dilakukan oleh seseorang sangat tergantung dari keikhlasannya, bukan atas kemewahan atau mahalnya pelaksanaan korban suci tersebut. Sastra Veda membenarkan yajña yang dilakukan dengan perasaan tulus ikhlas. Pada cerita Mahǎbhǎrata ketika pandawa melaksanakan upacara rajasunya maupun aswamedha, karena pelaksanaan yajña dilaksanakan dengan tulus ikhlas, maka para dewa berkenan untuk memberikan anugerah- Nya.

Pelaksanaan korban suci ketika di Indonesia menyesuaikan dengan daerah masing-masing, sehingga bentuk pelaksanaannya berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain. Namun demikian, yang harus diingat bahwa yajña yang dilakukan ini menyesuaikan aturan sesuai dengan sastra Veda, bukan atas dorongan keinginan individu atau kelompok tertentu, (Suhardi dan Sudirga, 2015:54).

Referensi:

Suhardi, Untung dan Sudirga, Ida Bagus. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas IX (Cetakan Ke-1, 2015). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

1 Response to "Pembagian Yajna Berdasarkan Kualitas dan Kuantitasnya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel