Sistem Filsafat Hindu dan Pembagiannya

MUTIARAHINDU.COM -- Ilmu pengetahuan adalah satu nilai yang sudah konprehensif, sistematis, dan koheren bahkan sampai terkesan teoritis. Jika kita ingin menganalisis lebih dalam, ilmu pengetahuan sudah menjadi satu kebutuhan bagi manusia. Mau tidak mau, sebenarnya kita sudah dijejali ilmu pengetahuan dari sekolah dasar hingga perkuliahan, tetapi ilmu pengetahuan tidak hanya ada di bangku pendidikan saja. Jika pandangan kita tentang ilmu pengetahuan hanya berorientasi pada akademik, maka pandangan kita masih terlalu sempit untuk mendefinisikan ilmu pengetahuan, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:113).

Dari aspek historis, ilmu-ilmu terapan sebenarnya jauh lebih tua dibandingkan dengn ilmu-ilmu apriori dan aposteriori. Penerapan tertua misalnya, seleksi antara tumbuhan dan hewan yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai obat (herbal), atau yang mengandung racun, pertukaran musim yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan pertanian, dll. Namun yang menjadikan suatu pengetahuan sebagai ilmiah bukannya pengetahuan itu dapat diterapkan, melainkan karena sifatnya sebagai hasil pemahaman secara teoritis. Pada abad 15 ilmu pengetahuan semakin matang. Penggabungan pola pikir apriori dan aposteriori menjadi metode ilmiah, dan disitulah asal mula zaman Renaisans dan Humanisme. Manusia dilihat sebagai pribadi individual dan yang berkuasa baik dari aspek kesenian, politik, filsafat, agama, gerakan-gerakan anti agama, teknik, dll.

Sistem Filsafat Hindu

Istilah Nawadarśana sebenarnya adalah penggabungan Ṣaḍ Darśana dengan filsafat Nāstika yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui otoritas Veda sehingga disebut filsafat heterodox. Ada tiga aliran besar dalam Nāstika, sebagai berikut:

1. Aliran filsafat materi listis dari Cārvāka

Cārvāka tidak pernah percaya kepada surga, neraka, dan terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta, karena itu aliran ini bersifat atheis. Cārvāka menitikberatkan untuk mencari kesenangan duniawi saja. Ada dua jenis pengikut Cārvāka, yaitu Dhūrta (licik dan tidak terpelajar) dan Suśikṣita (terpelajar). Salah satu pengikut Suśikṣita yang terkenal adalah Vātsyāna yang terkenal dengan bukunya Kāmasūtra.

2. Aliran filsafat Jaina

Aliran Jaina artinya memperoleh kemenangan dalam menghadapi tantangan duniawi. Pendiri aliran ini adalah Mahāvīra yang nama aslinya Vardhamāna. Aliran filsafatini bersifat atheis yang percaya seseorang dapat mencapai kebebasan rohani seperti guru mereka. Ada dua golongan Jaina, yaitu Digambara (golongan yang sangat fanatik dan bahkan telanjang bulat) dan Śvetāmbara (golongan yang lebih moderat, menggunakan pakaian serba putih). Bisa dikatakan filsafat Jaina bersifat pragmatis realistis.

3. Aliran filsafat Buddha

Filsafat Buddha didirikan oleh pengikut Sang Buddha, Siddhārtha Gautama dan dinasti Sakya. Ajaran filsafat Buddha meliputi Catur Ārya Satyani (empat kebenaran mulia), Pratitya Samut Pada (dua belas hal yang menyebabkan penderitaan) dan Aṣṭa Mārga (delapan jalan yang benar)

Enam filsafat Hindu yang dikenal dengan Ṣaḍ Darśana adalah enam sistem filsafat orthodox yang merupakan enam cara mencari kebenaran, yaitu Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Vaisiseka, Mīmāmsā dan Vedānta. Di samping enam Darśana pokok awal yang termasuk zaman Sūtra- sūtra juga terdapat beberapa Darśana yang termasuk zaman skolastik, yaitu Dvaita, Viśiṣtādvaita dan Advaita. Kesemua sistem filsafat tersebut mendasarkan ajarannya kepada Veda baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga disebut juga sebagai Astika, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:114).

Sistem Filsafat Hindu


Enam aliran filsafat sebagaimana dalam peta di atas, secara langsung berasal dari kitab-kitab Veda sehingga merupakan enam buah jalan berbeda menuju sebuah kota di mana untuk mencapai kota tersebut dapat ditempuh dengan melewati salah satu jalan tersebut. Demikian pula dengan keenam aliran pemikiran yang merupakan metode atau cara pendekatan yang berbeda-beda menuju Tuhan untuk menyesuaikan dengan temperamen, kemampuan, dan kualitas mental orang yang berbeda-beda pula, tetapi kesemuanya itu memiliki satu tujuan, yaitu menghilangkan ketidaktahuan dan pengaruh-pengaruhnya berupa penderitaan dan duka cita, serta pencapaian kebebasan, kesempurnaan, kekekalan dan kebahagiaan abadi dengan penyatuan dari jiwa pribadi (Jīvātman) dengan Jīvā Tertinggi (Paramātman).

Enam aliran filsafat tersebut dibagi lagi menjadi 5 kelompok yang saling berpasangan dan saling menunjang, yaitu Nyāya dengan Vaiśeṣika, Sāṁkhya dengan Yoga, Mīmāmsā dengan Vedānta.
  1. Nyāya Darśana diajarkan oleh Rṣi Gautaman.
  2. Vaiśeṣika Darśana diajarkan oleh Rṣi Kaṇāda.
  3. Sāṁkhya Darśana diajarkan oleh Kapila Muni.
  4. Yoga Darśana diajarkan oleh Mahārṣi Patañjali berdasarkan ajaran dari guru beliau yang bernama Gauḍāpa dan menyusun Yoga Sūtra yang merupakan acuan tentang Rāja Yoga.
  5. Mīmāmsā Darśana diajarkan oleh Jaimini yang merupakan murid dari Vyāsa berdasarkan pada bagian ritual kitab Veda.
  6. Vedānta atau Brāhma-Sūtra diajarkan oleh Mahārṣi Bādarāyana atau Vyāsa, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:115).

Nyāya dengan Vaiśeṣika akan memberikan suatu analisis tentang dunia empiris (dunia pengalaman), yang mengatur segala benda-benda dunia ke dalam jenis-jenis atau katagori tertentu (Padārtha). Ia menjelaskan bagaimana Tuhan telah membuat semua dunia material yang berasal dari atom-atom dan molekul, serta menunjukkan cara untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan.

Sāṁkhya Darśana akan memberikan pengetahuan yang dalam tentang psikologi Hindu, karena Kapila Muni merupakan Bapak Psikologi. Yoga berurusan dengan masalah pengendalian Vṛtti atau gejolak pemikiran dengan meditasi. Sistem Yoga menunjukkan cara mendisiplinkan pikiran dan indra-indra dan membantu untuk mengusahakan konsentrasi serta memusatkan pikiran dan memasuki Nirvikalpa Samādhi atau keadaan supra saḍar transenden. Pūrva Mīmāmsā berurusan dengan masalah Karma-Kāṇḍa. Uttara-Mīmāmsā juga dikenal sebagai Vedānta Darśana, yang merupakan dasar dari Hinduisme.

Filsafat Vedānta menjelaskan secara rinci sifat dari Brahman atau Keberadaan Abadi dan menunjukkan bahwa pada intinya jiwa pribadi identik dengan Sang Diri Tertinggi. Ia juga memberikan cara untuk melepas Avidyā atau tirai kebodohan untuk menggabungkan diri dalam samudra kebahagiaan atau Brahman. Nyāya menyebut ketidaktahuan atau kebodohan itu dengan Mithya Jñāna, atau pengetahuan palsu, Sāṁkhya menyebut dengan Aviveka, yaitu tiada perbedaan antara yang nyata dengan yang tidak nyata, sedangkan Vedānta menamakannya Avidyā, atau kebodohan. Masing-masing filsafat mengarahkan pembinasaan kebodohan tersebut dengan pengetahuan atau Jñāna, sehingga seseorang dapat mencapai kebahagiaan abadi atau kekekalan.

Dengan mempelajari Nyāya atau Vaiśeṣika, seseorang belajar mengguṇakan kecerdasannya untuk menemukan kekeliruan dan untuk mengetahui susunan material dari alam semesta ini. Dengan mempelajari filsafat Sāṁkhya seseorang dapat memahami penyebab evolusi dan dengan mempelajari dan melaksanakan Yoga, seseorang mendapatkan cara pengendalian diri dan memperoleh penguasaan terhadap pikiran dan indra. Dengan melaksanakan ajaran Vedānta seseorang mencapai anak tangga tertinggi dari tangga spiritual, bersatu dengan Keberadaan Tertinggi, dengan menghancurkan kebodohan (Avidyā).

Vedānta merupakan sistem filsafat yang dikembangkan dari kitab- kitab Upaniṣad dan telah mendesak sistem filsafat lainnya. Sistem filsafat Mīmāmsā lebih menekankan masalah ritual atau Karma-Kāṇḍa, yang menurut filsafat ini merupakan keseluruhan dari Veda sedangkan Upāsana (pemujaan) dan Jñāna (pengetahuan) hanyalah merupakan tambahan terhadap Karma. Pandangan ini disangkal oleh aliran filsafat Vedānta yang menyatakan bahwa realisasi diri (Jñāna) adalah yang terpenting, sedangkan ritual dan pemujaan merupakan tambahan saja. Karma akan membawa seseorang ke surga, yang merupakan tempat sementara dari pahala kenikmatan duniawi, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:116).

Referensi:

Sudirga, Ida Bagus dan Yoga Segara, I Nyoman. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti                 Untuk SMA/SMK Kelas X (cetakan ke-1). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
           Balitbang, Kemdikbud.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sistem Filsafat Hindu dan Pembagiannya"

Post a Comment