Cara Menentukan Padewasan Dalam Hindu

MUTIARAHINDU.COM -- Ada orang yang mengalami kegagalan beralasan ini adalah hari buruk. Sementara ketika melihat orang lain sukses, sebagian orang bilang itu hari baiknya. Banyak orang beranggapan hari baik itu berarti hari keberuntungan. Apapun yang kita lakukan akan berhasil. Kalau hari buruk dianggap sebagai hari sial. Apapun yang dikerjakan akan gagal. Malah terkadang dapat musibah. Bagaimana menurut anda, adakah hari baik atau hari buruk itu? Di daerah tertentu untuk menentukan hari penting seperti hari pernikahan harus ada hitung-hitungan hari baiknya. Tidak bisa sembarangan, harus konsultasi dulu ke “orang pintar”. Katanya kalau asal-asalan menentukan tanggal bisa mendapat sial atau musibah.

Setiap hari sebenarnya sama saja. Waktunya sama-sama 24 jam. Kebiasaan dan cara pandang kitalah yang membuat hari-hari yang dilalui itu terasa berbeda. Biasanya Senin sampai Jumat atau Sabtu digunakan untuk bekerja. Akhir pekan adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga. Namun kebiasaan tiap orang berbeda sesuai dengan jalan hidupnya masing-masing.

Menentukan Padewasan

Ada lima pokok yang harus dipahami dalam menentukan padewasan yaitu wewaran, wuku, penanggal panglong, sasih dan dauh, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:80).

Berikut ini akan diuraikan mengenai penjelasan dari masing-masing pedoman pekok dalam menentukan padewasan (wariga) sebagai berikut:
Umat Hindu di Pura Sakenan, Desa Serangan, Denpasar, Bali, Rabu (31/7/2019). Image: gtvindonesia_news
1. Wewaran

Wewaran adalah bentuk jamak dari kata wara yang berarti hari. Secara arti kata

Wewaran berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata wara (diduplikasikan/dwipura) dan mendapat akhiran – an (we + wara + an) sehingga menjadi wewaran, yang berarti istimewa, terpilih, terbaik, tercantik, mashur, utama, hari.

Jadi wewaran adalah hari yang baik atau hari yang utama untuk melakukan suatu hal atau suatu pekerjaan. Dalam menentukan padewasan, pengetahuan tentang wewaran menjadi dasar yang sangat penting. Dalam hubungannya dengan baik-buruknya hari dalam menentukan padewasan, wewaran mempunyai urip, nomor atau bilangan, yang disesuaikan dengan letak kedudukan arah mata angin, serta dewatanya.

Berikut ini akan diuraikan dalam bentuk tabel mengenai jenis wewaran, urip, tempat atau kedudukan, serta Dewatanya berdasarkan buku Kunci Wariga Dewasa sebagai berikut:

 


Dikutip dari buku pendidikan agama Hindu kelas X (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:81-83).
Menentukan wewaran dari Eka Wara hingga Dasa Wara pada sistem tahun wuku dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu bisa menggunakan rumus yang telah ditetapkan dalam menentukan wewaran dan bisa pula menggunakan jari-jari tangan, dengan ruas di masing-masing jari sebagai “rumah/kolom” dari wewaran tersebut. Di bawah ini akan diuraikan beberapa contoh menentukan wewaran menggunakan rumus yang telah ditentukan dan menggunakan tangan beserta gambar, dengan harapan memperluas wawasan tentang pemahaman wariga, walaupun pada prinsipnya semua metode penentuan tersebut hasilnya adalah sama.

a. Menentukan Wewaran dengan rumus

1) Menentukan Eka Wara

Ketentuan untuk menentukan Eka Wara adalah dengan menjumlahkan neptu atau urip dari Panca Wara dan Sapta Wara, dan apabila hasil penjumlahannya bilangan ganjil, maka Eka Waranya Lwang, Bila jumlahnya genap, Ekawaranya tidak ada (-) Contoh: Tentukanlah Eka Wara dari Soma Umanis
Neptu Soma + Neptu Umanis (4 + 5) = 9 (ganjil) berarti ekawaranya Lwang

2) Menentukan Dwi Wara

Menentukan Dwi Wara berpedoman pada penjumlahan Neptu Panca Wara dan Sapta Wara. Apabila hasil dari penjumlahannya ganjil Dwi Waranya adalah Pepet dan apabila berjumlah genap dwi waranya Menga, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:83).

Contoh : 1 Tentukanlah Dwi Wara dari Coma Umanis

Neptu Coma + Neptu Umanis (4 + 5) = 9 (ganjil) jadi Dwi Wara dari Coma Umanis adalah Pepet
Menentukan Tri Wara sampai Dasa Wara dengan ketentuan rumus umumnya sebagai berikut :


Wewaran yang dicari maksudnya adalah dari Tri Wara sampai Dasa Wara. Jika yang dicari adalah Tri Wara maka dibagi tiga. Sisa dari hasil pembagiannya akan menunjukan nama wewaran yang akan dicari pada masing-masing wewaran.

Contoh : Bila diketahui suatu hari adalah Buddha, Sungsang. Tentukanlah semua wewaran mulai dari Eka Wara sampai Dasa Waranya.

Diketahui : Buddha nomor sapta waranya 3 Sungsang nomor wukunya 10
Jawab :

a. Tri Waranya : (10 x 7 + 3) : 3 = 24 sisa 1 adalah Pasah
b. Catur Waranya : (10 x 7 + 3)  : 4 = 18 Sisa 3 adalah Jaya
c. Panca Wara : (10 x 7 + 3) : 5 = 14 Sisa 3 adalah Pon
d. Sad Wara : (10 x 7 + 3) : 6 = 12 Sisa 1 adalah Tungleh
e. Sapta Wara : (10 x 7 + 3) : 7 = 10 sisa 3 adalah Buddha (Sudah diketahui)
f. Asta Wara : (10 x 7 + 3) : 8 = 9 sisa 3 Guru
g. Sanga Wara : (10 x 7 + 3) : 9 = 8 sisa 1 adalah Dangu
h. Dasa Wara : Rumus (Urip Sapta Wara + Urip Panca Wara + 1) : 10
    (Buddha + Pon +1) : 10
    (7 + 7 + 1) : 10 = 15 : 10 = 1 sisa 5 adalah Cri

b. Cara menentukan wewaran dengan jari tangan 

Wewaran yang bisa dicari menggunakan jari tangan adalah Tri Wara sampai Sanga Wara dan caranya juga berbeda-beda. Di sini akan  dikemukakan satu macam cara saja sebagai berikut: 

Petunjuk : tengadahkan telapak tangan kiri, pergunakan tiga jari saja, yakni telunjuk, jari tengah dan jari manis. Ketiga jari itu mempunyai sembilan ruas sesuai dengan arah mata angin.

Pergunakan ruas-ruas jari tangan itu sebagai rumah wuku dan wewaran, dan ujung jari tengah itu adalah Utara

Cara mencari wewaran masing-masing :

1).Menentukan Tri Wara

Kolom di bawah ini disepadankan ruas-ruas jari, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:84).

Letakkan wuku secara berturut-turut mulai dari selatan (pasah) ke utara (kajeng) dan seterusnya putar ke kiri. Setelah diketahui Reditenya untuk mencari Soma, Anggara dan seterusnya tetap putar ke kiri, dimana jatuhnya Sapta Wara yang dicari itulah Tri waranya

Contoh : Tentukan Tri Wara dari Buddha Ukir

Ukir jatuh pada Kajeng, Berarti Redite Ukir = Kajeng. Trus putar ke kiri Buddha-nya jatuh pada Kajeng lagi, berarti Buddha Ukir Tri Waranya Kajeng

2).Menentukan Catur Wara

Letakkan wuku mulai dari Sinta di Timur Laut (Sri), putar ke kiri secara berturut-turut, kecuali dari Galungan (wuku Dunggulan) ke Kuningan harus lompat dua kotak setelah itu terus berputar ke kiri biasa. Redite dari wuku tersebut bertepatan dengan Catur Wara di tempat jatuhnya itu. Setelah ketemu Reditenya, untuk mencari Catur Wara dari Soma, Anggara dan selanjutnya, putarlah ke kanan berurut sesuai dengan urutan wewaran itu seperti gambar.

Contoh : Tentukanlah Catur Wara dari Anggara, 


Catur wara dari Anggara Ukir jatuh pada Jaya (Redite Ukir adalah Jaya), putar ke kanan, Anggaranya jatuh pada Sri, jadi Anggara Ukir Catur Waranya adalah Sri.

3).Menentukan Panca Wara

Petunjuk: letakkan wuku mulai dari Sinta di Selatan (Paing) diteruskan ke utara, timur, barat dan tengah dan begitu selanjutnya. Maka setiap wuku yang jatuh di selatan Reditenya = Pahing dan Buddhanya Buda Kliwon. Setiap yang jatuh di Utara Reditenya Wage. Dan Setiap yang jatuh di Timur Reditenya = Umanis dan Buddhanya Buda Cemeng (Buda Wage). Setiap yang jatuh di Barat Reditenya = Pon dan Anggar Kasih (Anggara Kliwon). Setiap yang jatuh di tengah Reditenya adalah Kliwon dan Sukra Kliwon. Setelah ketemu Reditenya untuk menentukan Panca Wara dari Soma, Anggara dan seterusnya putar atau jalankan sesuai dengan urutan Panca Wara itu, seperti gambar di bawah ini.


Contoh: Tentukanlah Panca Wara dari Wrhaspati, Ukir. Ukir jatuh di Timur (Redite, Ukir Panca Waranya adalah Umanis) dan Buddhanya adalah Wage. Jadi Wrhaspati Ukir Panca Waranya Kliwon.

4).Menentukan Sad Wara

Petunjuk: Letakkan wuku mulai dari Sinta pada Tungleh, terus putar ke kanan sesuai dengan urutan Sad Wara. Setiap wuku yang jatuh pada Tungleh, Reditenya adalah Tungleh, yang jatuh pada Aryang Reditenya adalah Aryang dan seterusnya. Untuk mencari Sad Wara dari Soma, Anggara dan selanjutnya setelah ketemu Reditenya putar ke kanan sesuai dengan urutan Sad Wara itu, seperti gambar di bawah ini.

Contoh : Tentukan Sad Wara dari Budha Kliwon Dunggulan

Dunggulan jatuhnya di Selatan (Redite Dunggulan adalah Was), putar ke kanan sehingga Buddhanya jatuh di Timur Laut. Jadi Buddha Dunggulan Sad Waranya adalah Aryang.

5).Menentukan Asta Wara

Cara mencari Asta Wara sama dengan Catur Wara yaitu letakan wuku secara berturut-turut mulai dari Timur Laut (Sri) putar ke kiri. Dari Dunggulan ke Kuningan lompat dua kotak. Dimana wuku itu jatuh itulah Asta Wara dari Reditenya. Kemudian untuk mencari Soma, Anggara dan seterusnya putar ke kanan sesuai dengan urutan Asta Waranya itu seperti gambar di bawah ini, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:86).

Contoh mencari Asta Wara 
Tentukanlah Asta Wara dari Soma Julungwangi. 
Julungwangi jatuh pada Sri (Redite Julungwangi adalah Sri) putar ke kanan, Soma jatuh Indra. Jadi Soma Julungwangi Asta Waranya adalah Indra. 

Selain dewasa  yang ditentukan berdasarkan wewaran untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara  tertentu, ada beberapa hari suci yang didasarkan atas perhitungan wewaran, sebagai hari suci untuk umat Hindu melakukan upacara agama yang dilakukan secara berkala. Adapun hari suci umat Hindu yang berdasarkan perhitungan wewaran sebagai berikut: 

Pertemuan Tri Wara dan Panca Wara 

a) Hari Kliwon datangnya setiap lima hari sekali, sebagai hari  suci pemujaan ke hadapan Sang Hyang Śiva. Pada hari Kliwon Bhatara Śiva beryoga di pusat bumi, menciptakan  air  suci guna meruwat kotoran yang ada di bumi. Sehingga pada saat ini umat Hindu mengadakan penyucian diri dari berbagai kotoran. 

b) Kajeng Kliwon,  diyakini sebagai hari yang sakral karena merupakan pertemuan  hari terakhir dari Tri Wara dan Panca Wara. Kajeng Kliwon adalah simbol pikiran bersih dan suci, pelebur kepapaan, petaka, noda, bencana ataupun segala kotoran duniawi melalui dhyana  semadhi. Pada hari ini Sang Hyang Mahadewa melakukan yoga semadi, sehingga pada sat ini umat Hindu melakukan persembahyangan memuja kebesaran Dewi Durga dengan menghaturkan segehan. 

Hari Suci yang didasarkan atas Pertemuan Sapta Wara dan Panca Wara 

a) Anggara Kliwon disebut pula Anggara Kasih,  sebagai hari beryoganya Sang Hyang Rudra untuk melebur penderitaan, kejahatan, kotoran dunia. Hari ini merupakan hari yang baik untuk meruwat dan memusnahkan bencana yang dapat menimpa. 

b) Buddha Wage, hari ini disebut pula Buddha Céméng sebagai hari pemujaan kehadapan Sang Hyang  Bhatari Sri atau Dewi Padi dan Bhatari Manik Galih atau Dewi Beras, sebagai manifestasi Tuhan yang memberikan kesuburan dan kemakmuran. c) Buddha Kliwon, yang namanya disesuaikan dengan wukunya. Hari Buddha Kliwon adalah hari pemujaan Sang Hyang Hayu atau memuja Hyang Mami Nirmalajati, dengan harapan memohon keselamatan ketiga dunia. d) Saniścara Kliwon, yang disebut dengan Tumpek, yang namanya disesuaikan dengan nama wukunya. Pemujaan ditujukan kehadapan Sang Hyang Paramawisesa atau Tuhan Yang Maha Kuasa.

2. Wuku

Wuku dalam penentuan padewasan menduduki peranan yang penting, sebab  wewarannya baik, apabila wukunya tidak baik, dianggap dewasa tersebut kurang baik.  Sistem tahun wuku, menggunakan sistem sendiri, tidak tergantung pada tahun surya atau tahun candra. Satu tahun wuku panjangnya 420 hari, yang terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku (1 wuku) lamanya  7 hari, terhitung dari Redite, Soma, Anggara, 

Budha, Wraspati, Sukra, dan Saniscara. Sebulan dalam tahun wuku lamanya 35 hari, didapat dari mengalikan 7 hari dengan 5 wuku. Satu peredaran wuku (30 wuku) lamanya 6 bulan dalam tahun wuku. 1 Tahun wuku terdiri atas 2 kali peredaran wuku, yakni 7 hari x 30 wuku x 2 = 420 hari, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:87).

Berikut akan disajikan penomoran wuku, urip atau neptu-nya. Nomor wuku yang dapat dipergunakan dalam perhitungan untuk mencari wewaran seperti tabel di bawah ini:

(Sudirga dan Yoga Segara, 2014:88).

Keterangan : Rt =Wuku Rangda Tiga merupakan hari yang kurang baik untuk melangsungkan perkawinan, barakibat perpisahan, Tp = Wuku Tan Peguru, hari-hari buruk untuk memulai pekerjaan penting/besar, berakibat tidak berhasil atau sukses.

Selain dewasa  yang ditentukan berdasarkan wuku untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara agama tertentu, ada beberapa hari suci yang didasarkan atas perhitungan wuku, yang dirayakan oleh umat Hindu dengan melaksanakan upacara agama. Adapun hari suci umat Hindu yang berdasarkan perhitungan wuku seperti , Budha Kliwon, Tumpek, Buda Cemeng, Anggara Kasih. Cara menentukan perhitungan hari suci berdasarkan wuku ini dapat dilakukan dengan menggunakan tangan kiri seperti gambar berikut, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:89).

Keterangan :

Perhitungan wuku dimulai dari wuku Sinta pada angka 1 (ibu jari), dan wuku yang lainnya dihitung berturut-turut ke angka 2, 3, 4, 5, kembali ke angka 1 dan seterusnya searah jarum jam.

Hari suci yang yang jatuh pada hitungan Ibu jari (1) Buddha Kliwon, Telunjuk (2) hari suci Tumpek, Jari tengah (3) Buddha Cemeng, Jari manis (4) Anggara Kasih, Kelingking (5) kosong/pengembang.

Secara terperinci hari suci berdasarkan Pawukun sebagai berikut :

a. Sinta
  1. Soma Pon Sinta disebut Soma Ribék, pemujaan dan persembahan ditujuakan ke hadapan Dewi Sri (Sang Hyang Sriamérta) manifestasi Tuhan sebagai Deva Kesuburan atau Deva Kemakmuran.
  2. Anggara Wage, Sinta disebut Sabuh Mas, pemujaan ditujukan ke hadapan Dewa Mahadewa
  3. Buddha Kliwon Sinta disebut hari suci Pagérwési, merupakan hari merupakan payoyang Sang Hyang Úiwa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru disertai oleh para Dewata menciptakan dan mengembangkan kelestarian kehidupan di dunia.
b. Landép

Saniscara Kliwon Landép disebut Tumpek Landép merupakan hari suci pemujaan kehadapan Bhatara Śiva dan Sang Hyang Paśupati.

c. Ukir.

Redite Umanis Ukir merupakan hari suci untuk pemujaan kehadapan Bhatara Guru. Pada hari ini umat diharapkan memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan ke hadapan Bhatara Guru yang pemujaannya dilakukan di Sanggar Kamulan.

d. Kulantir/Kurantil

Anggara Kliwon Kulantir disebut Anggara Kasih Kulantir, merupakan hari suci pemujaan ke hadapan Tuhan dalam manifestasi sebagai Bhatara Mahadewa.

e. Wariga

Sabtu Kliwon Wariga dinamakan Tumpék Penguduh, Tumpek Pengatag, Pengarah, Bubuh, merupakan hari suci pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara, manifestasi dari Tuhan sebagai deva penguasa kesuburan semua tumbuh-tumbuhan serta pepohonan.
f. Warigadian

Soma Pahing Warigadian, merupakan hari suci pemujaan ditujukan ke hadapan Bhatara Brahma manifestasi Tuhan sebagai Dewa Api atau Dewa Penerangan

g. Sungsang
  1. Wrhaspati Wage Sungsang disebut dengan Parérébuan atau Sugihan Jawa. Pada hari ini diyakini para Dewa dan Roh Leluhur turun ke dunia membesarkan hati umat manusia sambil menikmati persembahan hingga hari suci Galungan tiba. Pada hari ini dilakukan pula upacara pembersihan atau pesucian (Bhuana Agung), (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:90).
  2. Sukra Kliwon disebut Sugihan Bali memohon pembersihan lahir dan batin ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan cara mengheningkan pikiran, memohon air suci peruwatan dan pembersihan.
h. Dunggulan
  1. Redite (Minggu) pahing Dunggulan disebut Penyékéban. Pada hari ini diharapkan umat mengekang batin (mengendalikan diri) agar selalu dalam keadaaan hening dan suci sehingga tak dapat dikuasai oleh Sang Kala Tiga.
  2. Soma (Senin) Pon Dunggulan disebut Penyajan, umat diharapkan secara bersungguh-sungguh, benar-benar sujud dan berbakti kepada Tuhan, agar terhindar dari kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga yang pada saat itu berwujud Bhuta Dunggulan
  3. Anggara (Selasa) Wage Dunggulan disebut Panampahan, diyakini pada hari ini Sang Hyang Kala tiga turun ke dunia dalam wujud Bhuta Amengkurat, sehingga umat diharapkan melakukan pengendalian diri serta mempersembahkan upacara Bhuta Yajña.
  4. Buddha (Rabu) Kliwon Dunggulan dinamakan Galungan yang bermakna bangkitnya kesadaran, titik pemusatan batin yang terang benderang, melenyapkan segala bentuk kegalauan batin. Sekaligus peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya serta kemenangan Dharma melawan Adharma. Persembahan ditujukan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Pada hari ini setiap rumah memasang penjor yang merupakan titah Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung sebagai lambang kemakmuran. Setelah upacara dilaksanakan pada pagi hari, lengkap dengan sarana persembahan lainnya, sesajen tetap dibiarkan berada di tempat pemujaan selama satu malam. Esok paginya, semua umat patut menyucikan diri lahir dan batin pada saat matahari terbit, mempersembahkan wewangian dan mehon air suci, serta menyuguhkan segehan di halaman rumah. Setelah selesai barulah sesajen-sesajen yang dipersembahkan kemarin itu dapat diambil dan kemudian di-ayab oleh sanak keluarga.
i. Kuningan
  1. Redite Wage Kuningan disebut dengan Pemaridan Guru atau Ulihan. Pada saat ini persembahan atas kembalinya para dewata ke kahyangan atau surga serta meninggalkan anugerah kehidupan (amérta) serta umur panjang kepada setiap makhluk.
  2. Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung, mempersembahkan segehan agung kepada semua Bhūtakala
  3. Buddha Pahing Kuningan merupakan beryoganya Bhatara Visnu dan memberikan anugerah berupa kesenangan, keagungan, keluwesan, daya tarik, memenuhi harapan, dan rasa simpatik kepada umat manusia (asung wilasa).
  4. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan umat diharapkan mengendalikan batin dan pikiran agar tetap jernih dan suci (pégéngén poh nirmala suksma), (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:91).
  5. Saniscara Kliwon Kuningan disebut Hari Raya Kuningan diperingati sebagai hari suci turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia untuk menyucikan diri sambil menikmati persemabahan umat. Persembahan sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum jam 12.00 (tajeg surya) sebab setelah itu para dewa, pitara, roh suci leluhur diyakini telah kembali ke khayangan.
j. Pahang

Buddha Kliwon Pahang disebut Pégatwakan, persembahan ditujukan ke hadapan Sang Hyang Tunggal.

k. Merakih

Buddha Wage Merakih disebut juga Buddha Cemeng Merakih, yaitu hari suci pemujaan yang ditujukan kehadapan Bhatara Rambut Sedhana, disebut juga Sang Hyang Rambut Kandhala atau Sang Hyang Kamajaya penguasa artha, mas, perak, dan permata.

l. Uye

Saniscara Kliwon Uye disebut Tumpek Kandang. Pemujaan dan persembahan di tujukan ke hadapan Sang Hyang Rare Anggon sebagai dewanya ternak/binatang.

m. Wayang

Saniscara Kliwon Wayang disebut tumpek Wayang, merupakan hari pemujaan ke hadapan Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penguasa alat-alat kesenian.

n. Watugunung

Saniscara Umanis Watugunung disebut hari Saraswati merupakan hari Pemujaan ke hadapan Dewi Saraswati manifestasi Tuhan sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.

o. Sinta

Redite Pahing Sinta disebut dengan Banyu Pinaruh, memohon anugerah kehadapan Devi Sarasvati, berupa air suci pengetahuan.

3. Penanggal dan Panglong

Penanggal dan Panglong perhitungannya berdasarkan peredaran bulan satelit dari bumi. Penanggal (tanggal) disebut pula Suklapaksa yaitu perhitungan hari-harinya dimulai sesudah bulan mati (tilem) sampai dengan purnama (bulan sempurna). Lama penanggal 1 sampai dengan 15 lamanya 15 hari. Penanggal ke 14 atau sehari sebelum purnama disebut Purwani artinya bulan mulai akan sempurna nampak dari bumi. Sedangkan Penanggal ke 15 disebut purnama artinya bulan sempurna nampak dari bumi. Pada hari Purnama merupakan hari beryoganya Sang Hyang Candra (Wulan).

Panglong disebut pula Krsnapaksa yaitu perhitungan hari dimulai sesudah purnama yang lamanya juga 15 hari dari panglong 1 sampai dengan pangglong 15. Panglong ke 14 sehari sebelum tilem disebut Purwaning Tilem artinya bulan mulai tidak akan nampak dari bumi. Sedangkan pangglong 15 disebut tilem artinya bulan sama sekali tidak nampak dari bumi. Pada hari tilem beryoganya Sang Hyang Surya, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:92).

Padewasan Pananggal-Panglong terdapat pada tabel sebagai berikut :

(Sudirga dan Yoga Segara, 2014:93).

4. Berdasarkan Sasih

Padewasan sasih adalah hitungan baik buruknya bulan bulan tertentu yang berpedoman pada letak matahari, apakah berada di Uttarayana (utara), Wiswayana (tengah) atau Daksinayana (selatan). Berikut akan diuraikan Ala Ayuning Sasih berdasarkan Teks Wariga Dewasa seperti tabel berikut ini:

(Sudirga dan Yoga Segara, 2014:94).


Agama Hindu mempergunakan panduan sasih antara sasih Candra dengan Sasih Surya sehingga ada perhitungan “pengrapetang sasih”. Hal ini dilakukan karena disadari betul bahwa bulan dan matahari mempunyai pengaruh besar terhadap bumi dan isinya. Selain penentuan Padewasan, hari suci agama Hindu, yang berdasarkan sasih adalah:

1. Pada hari Purnama beryoga Sang Hynag Candra (wulan), 

Pada hari Tilem beryoga Sang Hynag Surya. Jadi pada hari Purnama-Tilem adalah hari penyucian Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) pujalah beliau dengan Candrastawa (Somastawa). Pada waktu Sūrya graham (gerhana matahari) pujalah beliau dengan Sūryacakra Bhuanasthawa.

2. Sasih Kapat

Purnama Kapat merupakan beryoganya Bhatara Parameswara, beliau Sang hynag Purusangkara diiringi oleh Para Dewa, Widyadara-Widyadari dan para Rsigna. Selanjutnya pada Tilem dapat dilakukan penyucian batin, persembahan kepada Widyadara-widyadari.

3. Sasih Kepitu

Purwaning Tilem Kepitu disebut hari Sivaratri, yaitu beryoganya Bhatara Siva dalam rangka melebur kotoran alam semesta termasuk dosa manusia. Pada hari ini umat Hindu melakukan Bratha Sivaratri, yaitu Mona, Upawasa, dan Jagra.

4. Sasih Kesanga

Tilem Kesanga adalah hari pesucian para dewata, dilakukan Bhuta Yajna, yaitu tawur agung kesanga sebagai tutup tahun Saka.
5. Sasih Kedasa

Penanggal 1 (bulan terang pertama) sasih Kedasa disebut hari Suci Nyepi, yaitu tahun baru Saka. Pada saat ini turunlah Sang Hyang Darma.
Purnama Kedasa beryoganya Sang Hyang Surya Amertha pada Sad Khayangan Wisesa.

6. Sasih Sada

Pada Purnama Sadha, patutlah umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:95).

5. Dauh

Padewasan menurut dauh  merupakan ketetapan dalam menentukan waktu yang baik dalam sehari guna penyelenggaraan suatu upacara-upacara tertentu. Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dauh jika dibandingkan mirip dengan pembagian waktu menurut jam, namun bedanya hanya penempatan panjangnya waktu. Hitungan jam dalam sehari dibagi 24, hingga sehari dalam hitungan jam panjangnya 24 jam. Dalam perhitungan dewasa dauh mengandung makna dalam waktu satu hari terdapat dauh (waktu-waktu tertentu) yang cocok untuk melakukan suatu kegiatan. Signifikasi dari dewasa dauh diperlukan apabila upacara-upacara yang dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dalam perhitungan dewasa berdasarkan dauh mempunyai beberapa hitungan, yakni berdasarkan Panca dauh dan Asta dauh.

a. Sistem Panca dauh (Sukaranti) adalah pembagian waktu (hari) dalam sehari menjadi 10 bagian, dengan hitungan 5 dauh untuk menghitung panjangnya siang (setelah matahari terbit hingga menjelang terbenam) dan 5 dauh lagi untuk menghitung panjangnya malam/wengi (dari matahari tenggelam hingga terbit).


b. Sistem Asta dauh yang memiliki konsep yang sama dengan Panca dauh, bedanya hanya pembagian waktunya menjadi 16, dengan perincian 8 dauh untuk menghitung panjang waktu mulai matahari terbit, hingga menjelang terbenam dan 8 dauh lagi untuk untuk menghitung panjangnya malam hari dari terbenamnya matahari hingga menjelang terbit, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:96).

(Sudirga dan Yoga Segara, 2014:97).

Referensi:


Sudirga, Ida Bagus dan Yoga Segara, I Nyoman. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti                 Untuk SMA/SMK Kelas X (cetakan ke-1). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,

           Balitbang, Kemdikbud.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Menentukan Padewasan Dalam Hindu"

Post a Comment