Pengertian dan Hakikat Vibhuti Mãrga Dalam Ajaran Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Tuhan dalam keadaan tanpa sifat disebut nirguna atau sunya. Nirguna atau sunya adalah istilah yang digunakan untuk memahami hakikat Tuhan dalam keadaan hukumnya semula. Dalam ilmu filsafat dikatakan sebagai keadaan alam transendental. Transendental adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran kemampuan pikir.

Pengertian dan Hakikat Vibhuti Mãrga Dalam Ajaran Agama Hindu
Foto: Mutiarahindu.com
Kalau diibaratkan fikiran itu mempunyai batas seperti lingkaran, segala yang ada di luar lingkaran dinamakan dalam alam transendental. Kitab Brahma Sutra memberi keterangan tentang aspek transendental itu dengan kalimat sebagai berikut. ‘Tad adwyaktm, Aha hi’ artinya sesungguhnya Tuhan itu yang tak terkatakan. Menggambarkan keagungan sifat-sifat Tuhan itu merupakan ajaran dari Vibhuti Marga, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:59).

Baca: Penerapan Vibhuti Marga dalam Kehidupan Menurut Ajaran Agama Hindu

Vibhuti Mārga berasal dari bahasa Sansekerta. Kata (Vibhu - ti) Vibhu...(adjective): hadir di mana-mana; kekal; mengembang seluas-luasnya; kuat....(masculine): yang kuasa; yang maha kuasa; Brahman. Mārga ...(masculine : jalan; saluran; cara; gaya. Vibhuti mārga : Jalan atau cara-Brahman (Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia, hal. 174 - 224).

Vibhuti Mārga berarti kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para Maha Rsi melalui spiritual. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatannya dilukiskan dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya. Hakikat utama ajaran Vibhuti Marga adalah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan yang muncul mengenai sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang transendental atau di luar alam indra.

Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Tuhan yang melebihi dari segala yang ada merupakan ajaran Vibhuti Marga. Dalam ajaran ini dilukiskan sifat-sifat agung dari Tuhan seperti dewa dari semua dewa, maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi dan sebagainya. Semuanya ini adalah bentuk dari ajaran Vibhuti Marga. Kesadaran spiritual dalam penghayatan terhadap keagungan Tuhan yang dirasakan oleh seorang Maha Rsi di mana kekagumannya ini dilukiskan dengan suatu puisi yang bersifat abstrak yang mengandung makna moral yang digubah dengan begitu indahnya sehingga puisi itu bernilai sangat tinggi.

Sumber yang digunakan untuk melukiskan segala keindahan itu adalah sinar. Oleh sebab itu sinar menjadi objek utama dan sangat dikagumi oleh para pujangga, sehingga akhirnya sinar menjadi simbul keindahan dan kemuliaan jiwa. Sinar merupakan simbol kebenaran, gambaran hukum Rta, kebaikan, kemuliaan, keindahan akal budi dan sebagainya. Dewa Agni sebagai dewa keagungan, dan sumber sinar. Maka ia dipuja sebagai yang berkilauan, memancarkan sinarnya ke bumi, ke langit, ke laut dan memberikan kehidupan pada semua makhluk, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:60).

Dewa Surya dipandang sebagai dewa sumber yang memberikan kehidupan, sehingga dewa ini dipandang sebagai atman dari semua makhluk hidup baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Sinar dipandang sebagai sesuatu yang suci yang meliputi seluruh alam semesta seperti terlukis dalam mantra berikut ini.

Baca: Sloka-sloka Vibhuti Marga sebagai Tuntunan Hidup

"Šiṣarṇaá ṡiṣarṇo jagatas tasthusas
patiṁ samayā viṡvam a rajaá
sapta ṡvasārah suvitāya sūrya vahanti harito rathe.
taccakṣur devahitaṁ ṡukram uccarat,
paṡyema ṡaradaá ṡataṁ jivema ṡaradaá ṡatam".

Artinya:

"Ia yang bersinar menerangi seluruh alam, Sūya, Dewata yang bergerak dan yang tidak bergerak. Tujuh putri dalam satu kereta, demi kesejahteraan dunia mata bersinar, dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, menyingsing, semoga kami dapat menyaksikannya selama seratus tahun, semoga kami hidup selama seratus tahun", (Åg Veda VII.66.15-16).

Pada jalan kemegahan atau Vibhuti Marga ini, para maharsi menerima sabda suci serta membayangkan-Nya sebagai sesuatu yang indah, meriah dan megah. Pemuja mengagungkan-Nya sebagai menggetarkan sikap spiritual puitis dari sabda yang merupakan kenyataan yang sangat luhur. Kebesaran-Nya sesungguhnya di luar jangkauan akal pikir umat manusia. Devata sesuai akar katanya, berarti yang bersinar, maka para maharsi menangkap sinar kesucian-Nya yang dilukiskan dalam mantra-mantra Veda yang indah, suci penuh pesona batin, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:61).

Renungan Åg Veda IV.53. 6

“Vṛhatsumnaá prasavitā nivesano jagataá sthāturubhasya yo vasi,
sa no devaá savita sarma yaccha tvasme ksayāya trivarutham amhasah”.

Arinya:

"Tuhan Yang Mahapengasih, yang memberi kehidupan kepada alam semesta, dan menegakkannya, ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tak bergerak, semoga ia, Savitar memberikan rakhmat-Nya kepada kami, untuk ketentraman hidup dengan kemampuan melawan kekuatan jahat".

Referensi

Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates: