Pengertian dan Bagian-bagian Catur Purusartha Dalam Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Menurut Agama Hindu, dalam kehidupan ini manusia mempunyai empat tujuan yang dinamakan "Catur Purusartha". Catur artinya empat, purusa artinya manusia dan artha artinya tujuan, sehingga Catur Purusartha mempunyai arti empat tujuan hidup manusia.

Kitab Sarasamuscaya menerangkan bahwa kelahiran menjadi manusia merupakan suatu kesempatan yang terbaik untuk memperbaiki diri. Manusialah yang dapat memperbaiki segala tingkah lakunya yang dipandang tidak baik agar menjadi baik, guna menolong dirinya dari penderitaan dalam usahanya untuk mencapai moksa.

Pengertian dan Bagian-bagian Catur Purusartha Dalam Agama Hindu
Pura Aditya Jaya Rawamangun
Dalam kitab Nitisastra, Bhagawan Sukra mengemukakan bahwa semua perbuatan manusia itu pada hakikatnya didasarkan pada usaha untuk mencapai empat hakikat hidup yang terpenting dharma, artha, kama dan moksa. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tidak didorong oleh keinginannya untuk mencapai keempat tujuan itu, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang menjadi hakikat tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu. dharma, artha, kama dan moksa dikenal juga dengan "Catur Warga atau Catur Purusartha". Keempat aspek tujuan hidup manusia ini di dalam ilmu politik disamakan dengan aspek-aspek keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan lahir batin dan dharma yang mengandung pengertian aspek keadilan dan kepatutan.

Unsur keinginan yang berakar pada pikiran manusia, terdapat pula hakikat tujuan agama Hindu yang dirumuskan dalam "Moksartham Jagadhita ya, ca iti Dharma" artinya bahwa dharma bertujuan untuk mencapai moksa dan kesejahteraan dunia. Moksa dalam filsafat Hindu "Tattwa Dharsana" merupakan tujuan hidup manusia tertinggi. Tujuan ini harus diusahakan oleh setiap umat Hindu untuk mencapainya dengan cara mengamalkan agama sebaik-baiknya. Adapun Jagadhita atau kesejahteraan itu akan dicapai apabila ketiga kerangka dharma, artha dan kama itu terealisir dan manusia benar-benar berusaha untuk mewujudkannya dengan jalan berpikir, bertutur kata dan beryajna.

Keinginan manusia itu tidak ada batasnya dan pada umumnya cenderung selalu merasa kurang. Oleh karena itu, Agama Hindu memberi ukuran yang bersifat membatasinya dengan Catur Purusartha, yaitu suatu usaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah secara seimbang melalui pengamalan dharma. Di samping itu Agama Hindu juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyucikan jasmani dan rohani, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:124).

Agama Hindu sebagai dharma untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Hindu sebagai agama bukan hanya bersifat doktrinal dan dogma semata, tetapi juga memberikan jalan berdasarkan Wahyu Tuhan yang sifatnya ilmiah, karena itu Kitab Suci Agama Hindu disebut Veda, artinya ilmu pengetahuan tertinggi.

Agama diturunkan ke dunia oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menuntun manusia agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia maupun di alam rohani. Untuk itu setiap orang harus mempunyai empat landasan yang disebut dengan Catur Purusartha, yang artinya empat tujuan hidup.

Catur Purusartha sering disebut Catur Warga. Kata Warga dalam hal ini artinya ikatan atau jalinan yang saling melengkapi atau saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu, keempat tujuan hidup itu saling menunjang. Dharma adalah landasan untuk mendapatkan arta dan kama. Artha dan kama adalah landasan atau sarana untuk melaksanakan dharma. Dharma, arta dan kama adalah landasan untuk mencapai moksa. Moksa Juga landasan untuk mendapatkan dharma, arta dan kama, justru akan mengikat manusia karena bukan tujuan akhir.

Dalam kitab tafsiran tentang Catur Purusartha, disebutkan bahwa dharma, arta dan kama merupakan tujuan pertama dan moksa disebut tujuan akhir atau tujuan tertinggi untuk kembali kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Empat tujuan hidup itu adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindari oleh setiap orang yang mendambakan hidup yang sejahtera lahir dan batin, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:125).

Bagian-bagian Catur Purusartha Dalam Agama Hindu

Catur Purushaartha adalah empat tujuan hidup yang utama. Catur Purusaartha dapat juga diartikan empat kekuatan atau dasar kehidupan menuju kebahagiaan, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa.
Urut-urutan ini merupakan tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada artha yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui artha, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, artha, dan kama. Berikut ini adalah bagian-bagian dari Catur Purusartha;

1. Dharma

Dharma berasal dari akar kata "dhr" yang berarti menjinjing, memelihara, memangku atau mengatur. Jadi kata dharma dapat berarti sesuatu yang mengatur atau memelihara dunia beserta semua makhluk. Hal ini dapat pula berarti ajaran-ajaran suci yang mengatur, memelihara, atau menuntun umat manusia untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketenteraman batin (rohani). Dalam Santi Parwa (109,11) dapat ditemui keterangan tentang arti dharma sebagai berikut.

"Dharanad dharman ityahur, dharmena widhrtah prajah" (Santi Parwa (109,11).

Terjemahannya:

"Dharma dikatakan datangnya dari kata dharana (yang berarti memangku atau mengatur)", (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:126).

Makna yang terkandung dalam kata dharma sebenarnya sangat luas dan dalam. Bagi mereka yang menekuni ajaran-ajaran agama akan memberi perhatian yang pokok pada pengertian dharma tersebut. Kutipan dari salah satu sloka kitab Santi Parwa di atas telah menggambarkan bahwa semua yang ada di dunia ini telah mempunyai dharma, yang diatur oleh dharma tersebut.

Agar mudah menangkap pengertian dharma tersebut, kita ambil beberapa contoh. Manusia yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk mencapai jagadhita dan moksa adalah telah melaksanakan dharma. Artinya melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia tak lain adalah pelaksanaan dharma. Sebagaimana kitab Sarasamuccaya menjelaskan, bahwa kalau artha dan kama yang dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Pernyataan di atas menekankan bahwa jika dharma harus dilaksanakan, maka artha dan kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat kita jalani dalam hidup ini berarti kita telah dapat memfungsikan dharma dalam kehidupan ini. Sehubungan dengan itu, kitab Manu Samhita menyebutkan sebagai berikut.

"Veda" pramanakah Gryah sadhanani dharma" 

Terjemahannya:

"Di dalam ajaran suci Veda dharma dikatakan sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan (moksa)"

Selanjutnya di dalam kitab Udyoga Parwa khususnya bagian dari Asta Dasa Parwa dijumpai pernyataan berikut.

"Ikang dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining perahu, an hetuning banyaga nentasing tasik".

Terjemahannya:

"Yang disebut dharma adalah jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pe-dagang dalam mengarungi lautan", (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:127).

Berdasarkan sloka di atas, yang dimaksud dengan dharma adalah kebenaran yang abadi (agama), atau sebagai hukum guna mengatur hidup dari segala perbuatan manusia yang berdasarkan pada pengabdian keagamaan. Di samping itu dharma juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat. Untuk mengamalkan ajaran ini dipakai pedoman “Catur Dharma” yang terdiri dari dharma kriya, dharma santosa, dharma jati, dan dharma Putus.

a. Dharma Kriya

Dharma Kriya berarti manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan menempuh cara peri kemanusiaan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik apabila dilandasi dengan Sad Paramita, seperti diuraikan di bawah ini.
  1. Dana Paramita: suka berbuat dharma, amal dan kebajikan.
  2. Ksanti Paramita:suka mengampuni orang lain.
  3. Wirya Paramita: mengutamakan kebenaran dan keadilan.
  4. Prajna Paramita: selalu bersikap tenang, cakap dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu persoalan.
  5. Dhiyana Paramita: merasa bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama makhluk hidup.
  6. Sila Paramita: selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisuda) dalam pergaulan.

b. Dharma Santosa.

Dharma Santosa berarti berusaha untuk mencapai kedamaiaan lahir bathin dalam diri sendiri, dilanjutkan ke dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam diri sendiri akan sangat sukar untuk mewujudkan kedamaian dan kesentausaan dalam keluarga, bangsa dan negara.

c. Dharma Jati.

Dharma Jati berarti kewajiban yang harus dilakukan untuk menjamin kesejahteraan dan ketenangan keluarga serta selalu mengutamakan kepentingan umum di samping kepentingan diri sendiri (golongan).

d. Dharma Putus.

Dharma Putus berarti melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan, berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat manusia dan selalu mengutamakan penanaman budhi baik untuk menjauhkan diri dari noda dan dosa yang menyebabkan moral menjadi rusak, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:128).

Secara singkat Dharma itu dapat dilaksanakan dengan mengamalkan ajaran "Tri Kaya Parisadha" yaitu tiga usaha dan jalan utama dalam seluruh kehidupan untuk mencapai tujuan agama yang terdiri dari beberapa hal berikut ini.
  1. Kayika artinya tingkah laku dan perbuatan yang baik.
  2. Wacika artinya perkataan dan pembicaraan yang jujur dan benar.
  3. Manacika artinya pikiran perasaan yang baik dan suci serta tresnasih.

2. Artha.

Artha dalam Catur Purusartha mempunyai beberapa makna. Di atas telah diuraikan bahwa dalam kaitannya dengan kata Purusartha, kata artha dapat berarti tujuan. Demikian pula dalam kaitannya dengan kata Parama Artha (tujuan yang tertinggi), Parartha (tujuan atau kepentingan orang lain), dan sebagainya. Tetapi sebagai tujuan dari Catur Purusartha, kata artha berarti harta atau kekayaan. Artha berarti benda-benda, materi, atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup. Artha merupakan pelengkap hidup. Artha (dalam arti artha benda) memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama. di antaranya sebagaimana berikut ini.

a. Fungsi Artha dalam kehidupan beragama.

Artha dapat digunakan untuk beryajña, misalnya melaksanakan Panca Yajña yaitu seperti di bawah ini.
  1. Dewa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk melakukan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.
  2. Manusa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia.
  3. Pitra Yajña: korban suci yang ditujukan ke hadapan para leluhur atau pitara baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal/disucikan.
  4. Rsi Yajña: korban suci atau penghormatan yang ditujukan terhadap para Rsi atau para guru dengan ilmu-ilmunya.
  5. Bhuta Yajña: korban yang tulus ikhlas ditujukan ke hadapan para Bhuta Kala, makhluk-makhluk bawahan dan unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang lainnya.
Baca: Prioritas Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani Dalam Ajaran Hindu

b. Fungsi artha dalam mewujudkan Jagadhita.

Di samping fungsi artha dalam kepentingan agama, juga berperanan dalam mewujudkan Jagadhita atau kebahagiaan di dunia, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:129).

Berikut ini beberapa fungsi yang dimaksud.

1) Untuk kemakmuran dan kesejahteraan, meliputi hal-hal di bawah ini.

a) Bhoga   yakni   kebutuhan primer bagi perkembangan hidup jasmani dari segala makhluk, yaitu makanan dan minuman (pangan).
b) Upabhoga yakni kebutuhan hidup yang perlu dimiliki oleh manusia seperti pakaian, perhiasan, dan sebagainya (sandang).
c) Paribhoga yakni kebutuhan sosial lainnya, seperti peru-mahan, istri, anak dan lain-lainnya (papan).

2) Untuk "dana-dana" sosial atau punia yakni tanda terima kasih dan pertolongan fakir miskin. Terutama sekali artha digunakan dan disalurkan di samping untuk kepentingan yajna juga untuk kemajuan pendidikan. Secara singkat artha harus dimanfaatkan, untuk hal-hal berikut.

a) Maha Don Dharma Karya yaitu untuk dharma(dana, sosial).
b) Maha Don Artha Karya yaitu untuk kemakmuran dan kesejahteraan (dagang, perusahaan dan lain-lain).
c) Maha Don Kama Karya yaitu kenikmatan, makanan, pendidikan (kesenian, olahraga) dan sebagainya.

Pemanfaatan artha yang sesuai dengan petunjuk dharma berarti umat Hindu telah melaksanakan dharma agama. Kebahagiaan lahir bathin akan tercapai, kehidupan rumah tangga, masyarakat jadi rukun harmonis damai dan sentosa, tidak ada penghisaban antara manusia dengan manusia, karena umat telah menggunakan artha itu sesuai dengan ajaran dharma. Di dalam Brahma Purana dan Santi Parwa disebutkan sebagai berikut.

"Dharmo dharma nuban dharto
dharmo natmantha pidakah" (Brahmana Purana 221,16)

Terjemahannya:

"Dharma bertalian erat dengan artha dan dharma tidak menentang artha itu sendiri (tetapi mengendalikan)", (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:130).

Selanjutnya dalam kitab Santhi Parwa, didapat penjelasan tentang fungsi artha sebagai berikut.

"Dharma mulah sadaiwartah, Dharma sadai wartah, Kamartha phalam utyata" (Çanti Parwa 123.4)

Terjemahannya:

"Walaupun artha dikatakan alat untuk kama, tetapi ia selalu sebagai sumber untuk dharma"

Sedangkan dalam kitab suci Sarasamuccaya juga disebutkan sebagai berikut.

"Apan ikang Artha, yan Dharma luirning karjanaya, ya ika labba ngaranya paramartha  ning  amanggih  sukha  sang  tumemwaken  ika,  kuneng yan adharma luirning karjanya, kasmala ika, sininggahan de sang sai jana, matangnya haywa anasar sangkeng Dharma, yan tangarjana" (Sarasamuccaya. 263)

Terjemahannya:

"Sebab artha itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh artha tersebut, namun jika artha itu diperoleh dengan jalan adharma, maka artha itu adalah merupakan noda, hal itu dihindari oleh orang yang berbudhi utama, oleh karenanya janganlah bertindak menyalahi dharma, jika hendak berusaha menuntun sesuatu".

Menurut penjelasan dari beberapa kitab agama tersebut dapat disimpulkan, bahwa artha itu memang benar-benar sangat dibutuhkan dalam kehidupan di dunia ini sebagai sarana baik dalam melaksanakan ajaran agama maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Fungsi dan manfaat artha sangat penting, namun semuanya tidak boleh bertentangan dengan dharma.

3. Kama

Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Biasanya kama itu diartikan dengan kesenangan, cinta.  Kama adalah tujuan kebahagiaan, kenikmatan yang didapat melalui indra, tetapi harus berlandaskan dharma dalam memenuhinya. Kama berarti kesenangan dan cinta kasih penuh keikhlasan terhadap sesama makhluk hidup dan yang penting memupuk cinta kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran untuk mencapainya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:131).

Sehubungan dengan cinta kasih ini, kama dapat dibagi atas tiga bagian yang disebut “Tri Parartha” yakni seperti berikut ini.

a. Asih, menyayangi dan nengasihi sesama makhluk sebagai mengasihi diri sendiri. Kita harus saling asah (harga menghargai), asih (cinta mencintai) asuh (hormat menghormati), dan mewujudkan ajaran Tat Twam Asi terhadap sesama makhluk agar terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya masyarakat Jagadhita (tat tentram kerta raharja).
b. Punya, dana Punya cinta kasih kepada orang lain diwujudkan dengan selalu menolong dengan memberikan sesuatu (harta benda) yang kita miliki dan berguna bagi orang yang kita berikan.
c. Bhakti, cinta kasih pada Hyang Widhi dengan senantiasa sujud kepadanya dalam bentuk pelaksanaan agama. Kebahagiaan berupa bersatunya “atma” dengan “brahmana”( Tuhan ) menimbulkan“Sat Cit Ananda” (kesadaran, ketentraman, dan kebahagiaan abadi) yang dicapai hanya dengan ketekunan sujud bhakti dan sembahyang yang sempurna.

Kama atau kesenangan atau kenikmatan menurut ajaran agama, tidak akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma. Karenanya dharma menduduki tempat di atas kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaiannya. Dalam hal ini dikemukakan contoh, bagaimana tindakan seorang Raja dalam pencapaian kama tersebut. Dalam kekawin Ramayana disebutkan.

"Dewa ku sala-sala mwang Dharma ya pahayun mas ya ta paha wre ddhim bya ya ring kayu kekesan bhukti sakaharep tedwehing bala kasukhan dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika". (Ramayana I.3.54)

Terjemahannya:

"Tempat-tempat suci hendaknya dipelihara kumpulkanlah emas yang banyak serta diabadikan untuk pekerja yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut dharma, artha dan kama".

Dalam bait kekawin Ramayana di atas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan pada orang lain untuk merasakan kenikmatannya. Jadi pekerjaan yang sifatnya ingin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh kama (kenikmatan) itu harus dihindari,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:132).

4. Moksa

Moksa berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi (suka tan pewali duka). Moksa adalah tujuan terakhir dari umat

Hindu. Kebahagiaan bathin yang terdalam dan langgeng ialah bersatunya atma dengan brahmana yang disebut moksa. Moksa atau mukti berarti kebebasan, kemerdekaan yang sempurna, ketentraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi, kesucian dan bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Tuhan yang sering disebut dengan "Kelepasan".

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup pada hakikatnya adalah perjalanan  mencari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lalu bersatu dengan Tuhan. Perjalanan seperti itu penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa ajaran agama telah menyiapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat dengan selamat mengarungi samudra yang luas dan ganas itu.

Dengan bersatunya atma pada sumbernya yaitu brahmana (sang Hyang Widhi) maka berakhirlah proses atau lingkaran punarbhawa atau samsara bagi atma. Selesailah pengembaraan atma yang telah berulang kali lahir di dunia ini, dan tercapailah kebahagiaan yang kekal abadi. Berdasarkan petunjuk kitab-kitab suci agama Hindu moksa sebagai kebebasan abadi, dinyatakan memiliki beberapa tingkatan, antara lain sebagai berikut.

a. Samipya

Samipya adalah moksa atau kebebasan yang dapat dicapai semasih hidupnya ini, terutama oleh para Rsi saat melaksanakan yoga, samadhi, disertai dengan kemekaran antusiasnya, sehingga mereka dapat menerima wahyu dari Tuhan. Samipya sama sifatnya dengan Jiwan Mukti.

b. Sarupya

Sarupya adalah moksa atau kebebasan yang dicapai semasih hidup di mana kedudukan atma mengatasi unsur-unsur maya. Kendati pun atma mengambil perwujudan tertentu namun tidak akan terikat oleh segala sesuatunya seperti halnya awatara seperti Budha, Sri Kresna, Rama dan lain sebagainya,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:133).

c. Salokya (Karma Mukti)

Salokya (Karma Mukti) merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma itu sendiri dan telah berada dalam posisi kesadaran sama dengan Tuhan, tetapi belum dapat bersatu dengan-Nya. Dalam keadaan ini dapat dikatakan bahwa atma itu telah mencapai tingkat "Dewa" yang merupakan manifestasi dari sinar suci Tuhan itu sendiri.

d. Sayujya (Purna Mukti).

Sayujya (Purna Mukti) merupakan tingkatan kebebasan yang paling tinggi dan sempurna di mana atma telah dapat bersatu atau bersenyawa dengan Tuhan dan tidak terbatas oleh apa pun juga sehingga benar-benar telah mencapai “Brahma Atma Aikyam” yaitu atman dengan Tuhan betul-betul bersatu.

Walaupun ada beberapa aspek atau tingkatan dari moksa berdasarkan keadaan atma dalam hubungannya dengan Tuhan, yang terpenting dan patut menjadi kunci pemikiran untuk mencapai moksa itu adalah agar kita dapat melenyapkan pengaruh “awidya (maya)” dalam alam pikiran itu, sehingga atma akan mendapat kebebasan yang sempurna. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan tentang itu, sebagai berikut.

"Anta kale ca mameva, smaran muktva kalevaran, yah prayate sa madhavam, yati nasty atra sam sayah". (Bhagavad Gita VIII, 5)

Terjemahannya:

"Dan siapa saja pada waktu meninggal, melepaskan badannya dan berangkat hanya memikirkan Aku, ia mencapai tingkat Aku. Tentang ini tidak ada keragu-raguan lagi".

Dalam pustaka suci Manawa Dharmasastra disebutkan, bahwa untuk mencapai rahmat yang tertinggi (nicreyasa) yakni moksa, antara lain dapat dicapai dengan cara sebagai berikut.
  1. Mempelajari Weda.
  2. Melakukan tapa.
  3. Mempelajari / mencari pengetahuan yang benar.
  4. Menunduk (mengendalikan) Panca Indra.
  5. Tidak menyakiti makhluk lain.
  6. Melayani/menghormati guru,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:134).

Keenam hal tersebut serentak harus dilaksanakan, jadi tidak hanya memilih salah satu. Di samping hal tersebut di atas kita juga mengenal jalan atau cara yang dapat dilalui untuk menuju ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa, yakni mempertemukan atman dengan atma. Cara seperti itu disebut dengan yoga. Yoga terdiri atas empat macam yang disebut Catur Yoga, yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga.

Kata "yoga" berasal dari akar kata "yuj" yang artinya menghubungkan diri. Setiap yoga di atas mempunyai cara dan sifat tersendiri, yang dapat diikuti atau dilaksanakan oleh setiap orang. Dan setiap orang dalam memilih yoga itu disesuaikan dengan sifat, bakat, dan kemampuannya. Dengan demikian cara yang ditempuh berbeda, namun sasaran atau tujuan yang ingin dicapai adalah satu dan sama yaitu moksa atau mukti. Untuk jelasnya akan diuraikan tentang yoga satu per satu sebagai berikut.

1) Karma Yoga

Karma Yoga yaitu proses mempersatukan atman atau jiwatman dengan paramatma (Brahman) dengan jalan berbuat kebajikan (subha-karma) untuk membebaskan diri dari ikatan duniawi. Karma yang dimaksud adalah perbuatan baik (subhakarma), suatu perbuatan baik tanpa mengikat diri dengan mengharapkan hasilnya. Semua hasil (phala) perbuatan harus diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan perbuatan yang bebas dari harapan hasil itu disebut "Karma Nirwritta". Sedangkan perbuatan (karma) yang masih mengharapkan hasilnya disebut "Karma Prawritta". Jadi dengan mengabdikan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa berlandaskan subha-karma yang tanpa pamrih itu, seseorang akan dapat mencapai kesempurnaan itu secara bertahap. Dengan bekerja tanpa terikat orang akan dapat mencapai tujuan tertinggi itu.

Dengan demikian Karma Yoga yang mengajarkan bahwa setiap orang yang menjalani cara ini bekerja dengan baik tanpa terikat dengan hasil, sesuai dengan kewajibannya (Swadharmanya). Salah kalau orang beranggapan bahwa dengan tidak bekerja kesempurnaan akan dapat dicapai. Karena pada hakikatnya dunia ini pun dikuasai dan diatur oleh hukum karma sehingga seorang Karma Yoga beryajna dengan kerja (karma). Karena itu bekerjalah selalu dengan tidak mengikatkan diri pada hasilnya, sehingga tujuan tertinggi pasti akan dapat dicapai dengan cara yang demikian. Dengan menyerahkan segala hasil pekerjaan itu sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi dan dengan memusatkan pikiran kepada-Nya kemudian melepaskan diri dari segala pengharapan serta menghilangkan kekuatan maka kesempurnaan itu dapat dicapai. Dengan demikian ajaran Karma Yoga yang pada pokoknya menekankan kepada setiap orang agar selalu bekerja sesuai dengan Swadharmanya dengan tidak terikat pada hasilnya serta tidak mementingkan diri sendiri,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:135).

2) Bhakti Yoga

Bhakti Yoga yaitu proses atau cara menyatukan atman dengan Brahman dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kata Bhakti berarti hormat, taat, sujud, menyembah, persembahan, kasih.

Bhakti Yoga artinya jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum dan mendalam yang disebut maitri. Semangat Tat Twam Asi sangat subur dalam hati sanubarinya. Sehingga seluruh dirinya penuh dengan rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikit pun tidak ada yang terselip dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian, kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan. Cinta baktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun binatang.

Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat berkah termulia dari Sang Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang Bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk. Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita). Ia selalu berusaha membebaskan dirinya dari belenggu keakuannya (Ahamkara).

Sikapnya selalu sama menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan. Ia selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan. Jadi benar-benar tenang dan sabar selalu. Dengan demikian baktinya kian teguh dan kokoh kepada Hyang Widhi Wasa. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak ada ikatan sama sekali terhadap apa pun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman serba dua(dualis) misalnya suka dan duka, susah senang dan sebagainya.

Seluruh kekuatannya dipakai untuk memusatkan pikirannya kepada Hyang Widhi dan dilandasi jiwa penyerahan total. Dengan begitu seorang Bhakti Yoga dapat mencapai moksa.

3) Jnana Yoga

Jnana Yoga ialah pengetahuan suci yang dilaksanakan untuk mencapai hubungan atau persatuan antara atma dengan Brahman. Kata "Jnana" artinya pengetahuan sedangkan kata yoga berarti berhubungan. Jadi dengan jalan menggunakan ilmu pengetahuan suci (jnana) seorang (jnanin) menghubungkan dirinya (Atmanya) dengan Hyang Widhi untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang kekal abadi. Seorang Jnana akan memusatkan bayu, sabda dan idepnya untuk mendalami dan menekuni isi pustaka suci Veda, terutama bidang filsafat (tattwa),  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:136).

Dengan demikian lenyaplah ketidaktahuannya (Awidya) dan kekhayalannya (maya), sehingga dapat menembus jalan bebas dari ikatan karma dan samsara. Kebijaksanaan tertinggi itu sesungguhnya ada pada Hyang Widhi yang bergelar Sang Hyang Saraswati. Tuhan (Hyang Widhi) adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang merupakan anugrah-Nya itu, patutlah dipakai sarana beryajna dan memusatkan pikiran kepada Beliau. Karena disebutkan bahwa yajna berupa pengetahuan(jnana) adalah lebih utama sifatnya dibandingkan dengan yajna (korban) benda yang berupa apa pun. Segala pekerjaan tanpa kecuali memuncak atau berpusat dalam kebijaksanaan. Disebutkan pula dengan berdarmakan ilmu pengetahuan seseorang dapat menyebrangkan diri untuk mengarungi lautan dosa sekali pun.

Dengan ilmu pengetahuan suci itu orang sanggup melepaskan diri dari ikatan karma. Semua hasil karma akan habis terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan. Seperti halnya kayu api terbakar menjadi abu. Sehingga terhapuslah dualisme (suka-duka). Orang yang memiliki kebijaksanaan akan segera menemukan kedamaian yang abadi. Semua kebimbangan dan keraguan lenyap dan dengan demikian atma dapat bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Akhirnya hukum karma dan punarbawa dapat ditebus dan sampailah pada moksa.

4) Raja Yoga

Raja Yoga dilaksanakan dengan cara pengendalian dan penggemblengan diri melalui tapa, brata dan samadi. Untuk melaksanakan yoga itu ada delapan langkah atau tahap yang harus dijalankan yang disebut Astāngga yoga. Adapun bagian-bagian dari Astāngga yoga tersebut sebagai berikut.

a) Yama : merupakan pengendalian diri tahap pertama.
b) Niyama : pengendalian diri dalam tahap lebih lanjut.
c) Asana : latihan berbagai sikap badan untuk meditasi.
d) Pranayama: pengaturan pernafasan untuk mencapai ketenangan pikiran.
e) Di dalam pengaturan nafas ada tiga jalan yaitu sebagai berikut: (1) Puraka (menarik nafas), (2) Kumbaka (menahan nafas), (3) Recaka (mengeluarkan nafas) semua ini dilakukan secara teratur.
f) Pratyahara: mengontrol dan mengembalikan semua indra, sehingga dapat melihat sinar-sinar suci.
g) Dharana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi).
h) Dhyana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi) tarafnya lebih tinggi daripada Dharana).
i) Samadi : bersatunya Atma dengan Tuhan,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:137).

Dengan melakukan latihan Yoga (Astāngga yoga) seorang pengikut Raja Yoga akan dapat menerima wahyu melalui pengamatan intiusinya yang telah mekar. Dan juga akan dapat mengalami "Jiwan Mukti" selanjutnya setelah meninggal dunia maka atmanya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Selanjutnya individu yang bersangkutan akan dapat menikmati kebebasan yang tertinggi (moksa). Di dalam Bhagavad Gita Bab 6, sloka 10 disebutkan sebagai berikut.

"Yogī yunjīta sata sida, Ātmānanam rahasi sthitah,
ekākī yatacittatma nirasik aparigrahah". (Bhagavad Gita, VI.10)

Terjemahannya:

"Seorang yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang Maha Besar (Tuhan) tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya".

"Prasanta manarasam hy enam,
yoginam sukham uttamam,
Upaiti sāntara jasam
Brahma-bhutam akalmasam". (Bhagavad Gita, VI. 27)

Terjemahannya:

"Karena kebahagiaan tertinggi datang pada yogin, yang pikirannya tenang dan hawa nafsunya tidak bergolak yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (moksa)".

Demikianlah cara atau jalan untuk dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidup rohani, yakni guna dapat menikmati kesempurnaan hidup yang disebut moksa. Di antara keempat cara atau jalan tersebut di atas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara-cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi, atau pun yang lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing.

Semua akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan penuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:138).

Di dalam kitab (Bhagavad Gita) dijelaskan sebagai berikut.

"Ye yathā mam prapadyante, tāms tathai va bhajāmy aham,
mamavartma nuvartante, manushyāh partha sarvasah". (Bhagavad Gita IV, 11).

Terjemahannya:

"Jalan mana pun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Parta".

Jika kita perhatikan dari semua jalan tersebut semuanya menekankan bahwa syarat untuk mencapai kebebasan (moksa) ialah lenyapnya pengaruh maya dan emosi karena maya inilah yang merupakan perintang dan penghalang bagi atma untuk bersatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), seperti halnya udara di alam (di luar). Moksa sebagai tujuan spiritual bukan merupakan janji yang hampa melainkan suatu keyakinan yang tinggi bagi tiap orang yang beriman dan merupakan suatu pendidikan rohani untuk menciptakan rohani manusia yang berethika dan bermoral serta memberi efek positif. Demi tercapainya masyarakat yang sejahtera tersebut, bekerja atas dasar kebenaran, kebajikan dan pengorbanan dan bebas dari segala macam kecurangan (satyam eva jayate na órtam). Demikianlah moksa itu dapat ditempuh dengan beberapa macam jalan sesuai dengan tingkat kemampuan dari masing-masing orang,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:139).

Renungan 

"Kamarthau lipsamānastu dharmmamevāditaṣcaret,
nahi dharmmādapetyārthah kāmo vapi kadācana.
Yan paramārthanya, yan arthakāma sādhyan, dharma juga lëkasakëna
rumuhun, niyata katëmwaning arthakāma mëne tan paramārtha
wi katemwaning arthakāma deninganasar sakeng dharma".
(Sarasamuscaya.12)

Terjemahannya:

"Pada hakikatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dulu; tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti; tidak akan ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma".

"Uttamaning dhanolihing amet prih-awak aputéran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanistan dhama yan saka ring anak-ébi, uttamaning hunuttama dhanolihing anuku musuh".

Terjemahannya:

"Kekayaan yang terbaik adalah uang yang diperoleh sendiri dari kerja berat, yang baik adalah uang dari bapak, yang tidak baik uang dari pemberian ibu, ada pun yang sangat tidak baik, yaitu uang pemberian istri, tetapi yang utama sekali adalah rampasan dalam peperangan". (Nitisastra II.2)

"Mā ṡredhata somino dakṣatā mahe
kṛṇudhvaṁ rāya ātuje
taraṇir ij jayati kṣeti puṣyati
na devāsaá kavatnave".

Terjemahaannya:

"Wahai orang-orang yang berpikiran-mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk mencapai tujuan. Orang yang bersemangat berhasil, hidup berbahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak menolong orang yang bermalas-malasan" (Rgveda VII. 32. 9).


Referensi

Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates: