Pengertian dan Hakikat Yoga menurut Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- ”te dhyāna-yogānugatā apaṡyan dewātma ṡaktim swa guṇair nigudham yaá kāranāni nikhilāni tāni kalatma yuktāny adhitis-thaty ekaá.”

Terjemahannya:

“Orang – orang suci yang tekun melaksanakan yoga dapat membangun kemampuan spiritualnya dan mampu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa; kemampuan tersebut tersimpan di dalam sifat-sifat (guna-nya) sendiri, setelah dapat manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa, dia mampu menguasai semua unsur, yaitu unsur persembahan, waktu, kedirian, dan unsur-unsur lainnya lagi.” (S.Up. I.3).
Pengertian dan Hakikat Yoga menurut Agama Hindu
image: casualwearyoga

Baca: Mengenal dan Manfaat Ajaran Yoga Dalam Agama Hindu

Pengertian dan Hakikat Yoga

Perenungan

“Sa ṡakra ṡiksa puruhūta no dhiyā.”

Terjemahan:

“Ya, Tuhan Yang Maha Esa, tanamkanlah pengetahuan kepada kami dan berkahilah kami dengan intelek yang mulia.” (AV. VIII. 4.15).

Seorang siswa hendaknya tiada henti-hentinya mempertajam kepandaiannya, memiliki ingatan yang kuat (melalui latihan), mengikuti ajaran suci veda. Selain itu juga memiliki ketekunan dan keingintahuan, melatih konsentrasi (penuh perhatian), menyenangkan hati guru (dengan mematuhi perintahnya), mengulang-ulang pelajaran, jangan mengantuk (karena sebelumnya kurang tidur), malas dan bicara tanpa arti (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:1).

Baca: Pengertian Astāngga Yoga dan Bagian-Bagiannya Serta Penjelasannya

Mengamati Lingkungan:

Sikap yang paling sederhana dalam kehidupan beragama adalah cinta kasih dan pengabdian (bhakti yoga). Para pengikut yoga mewujudkan Tuhan sebagai penguasa dengan rasa mendalam sebagai bapa, ibu, kakak, kawan, tamu dan sebagainya. Tuhan adalah penyelamat, maha pengampun, dan maha pelindung.

Era globalisasi sekarang ini menuntut kita untuk dapat beraktifitas sekuat tenaga dan pikiran, yang terkadang melebihi kemampuannya. Hal ini terjadi tidak saja di kalangan masyarakat perkotaan, tetapi juga sampai ke pelosok desa. Beban fisik dan rohani yang berlebihan menyebabkan kita sakit. Sedapat mungkin hindarkanlah diri dari beban yang berlebihan. Adakah yoga dapat mengatasi semuanya itu?

Baca: Sejarah Yoga dalam Ajaran Agama Hindu

Secara etimologi, kata yoga berasal dari yud, yang artinya menggabungkan atau hubungan, yakni hubungan yang harmonis dengan objek yoga. Dalam patanjali Yogasutra, yang dikutip oleh Tim Fia (2006:6), menguraikan bahwa; “yogas citta vrtti nirodhah”, artinya, mengendalikan gerak-gerik pikiran, atau cara untuk mengendalikan tingkah polah pikiran yang cenderung liar, bias, dan lekat terpesona oleh aneka ragam objek (yang dikhayalkan) memberi nikmat. Objek keinginan yang dipikirkan memberi rasa nikmat itu lebih sering kita pandang ada di luar diri. Maka kita selalu mencari. Bagi sang yogi inilah pangkal kemalangan manusia.

Selanjutnya Peter Rendel (1979: 14), menguraikan bahwa: “kata yoga dalam kenyataan berarti kesatuan yang kemudian dalam, bahasa inggris disebut “Yoke”. Kata “Yogum” dalam bahasa latinnya berasal dari kata yoga yang disebut dengan ”Chongual”. Chongual berarti mengendalikan pangkal penyebab kemalangan manusia yang dapat mempengaruhi” pikiran dan badan, atau rohani dan jasmani”, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:2).

Baca: Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam Ajaran Yoga dan Contoh Praktik Sikap-sikap Yoga

Untuk pelaksanaan yoga, agama banyak memberikan pilihan dan petunjuk – petunjuk melaksanakan yoga yang baik dan benar. Melalui yoga agama menuntun umatnya agar selalu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Di samping berbagai petunjuk agama sebagai pedoman pelaksanaan yoga, sesuatu yang baik berkembang di masyarakat hendaknya juga dapat dipedomani. Dengan demikian, pelaksanaan yoga menjadi selalu diterima di sepanjang zaman.

“ṡruti-vipratipannā te yadā sthāsyati niṡcalā, samādhāv acalā buddhis tadā yogam avāpsyasi.”

Terjemahan:

“Bila pikiranmu dibingungkan oleh apa yang didengar tak tergoyahkan lagi dan tetap dalam samadhi, kemudian engkau akan mencapai yoga (realisasi diri).”
(Bhagavad Gita.II.53)

Yoga merupakan jalan utama dari berbagai jalan untuk kesehatan pikiran dan badan agar selalu dalam keadaan seimbang. Keseimbangan kondisi rohani dan jasmani mengakibatkan kita tidak mudah diserang penyakit. Yoga adalah suatu sistem yang mengolah rohani dan jasmani guna mencapai ketenangan batin dan kesehatan fisik dengan melakukan latihan-latihan secara berkesinambungan. Fisik atau jasmani dan mental atau rohani yang kita miliki sangat penting dipelihara dan dibina. Yoga dapat diikuti oleh siapa saja untuk mewujudkan kesegaran rohani dan kebugaran jasmani. Dengan yoga “jiwan mukti” dapat diwujudkan. Untuk menyatukan “badan” dengan ”alam”, dan menyatukan “pikiran, yang disebut juga jiwa” dengan “ roh” yang disebut Tuhan Yang Maha Esa. Bersatunya roh dengan sumbernya (Tuhan) disebut dengan “moksa”.

Dalam pelaksanaan yoga yang perlu diperhatikan adalah gerak pikiran. Pikiran memiliki sifat gerak yang liar dan paling sulit untuk dikendalikan. Agar dapat fokus dalam melaksanakan yoga, ada baiknya dipastikan bahwa pikiran dalam keadaan baik dan tenang. Secara umum yoga dikatakan sebagai disiplin ilmu yang digunakan oleh manusia untuk membantu dirinya mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Kata yoga berasal dari bahasa sansekerta yaitu “yuj” yang memiliki arti menghubungkan atau menyatukan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai meditasi atau mengheningkan cipta/pikiran, sehingga dapat dimaknai bahwa yoga itu adalah menghubungkan atau penyatuan spirit individu (jivātman) dengan spirit universal (paramātman) melalui keheningan pikiran, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:3).

Baca: Etika Dalam Mempelajari Yoga Menurut Agama Hindu

Ada beberapa pengertian tentang yoga yang dimuat dalam buku Yogasutra, antara lain sebagai berikut.
  1. Yoga adalah ilmu yang mengajarkan tentang pengendalian pikiran dan badan untuk mencapai tujuan akhir yang disebut dengan samadhi.
  2. Yoga adalah pengendalian gelombang – gelombang pikiran untuk dapat berhubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
  3. Yoga diartikan sebagai proses penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa secara terus-menerus (Yogascittavrttinirodhah).
Jadi  secara  umum,  yoga  dapat  didefinisikan  sebagai  sebuah  teknik  yang memungkinkan seseorang menyadari penyatuan antara roh manusia individu (atman/ jiwātman) dengan Paramātman melalui keheningan sebuah pikiran, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:4).


Referensi

Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates: