Hubungan Catur Marga dengan Tujuan Ajaran Agama Hindu (Moksa)

MUTIARAHINDU -- Umat manusia tentunya memiliki tujuan hidup, termasuk umat Hindu memiliki tujuan hidup yang jelas yakni seperti berikut ini.
  1. Moksartham jagad hita ya ca iti Dharma.
  2. Catur Purusartha.
  3. Santa Jagadhita.
  4. Sukerta Sakala lan Niskala.
  5. Mencapai keharmonisan hidup sesuai ajaran Catur Marga.
Baca: Pengertian dan Hakikat Catur Marga serta Bagian-Bagiannya
Hubungan Catur Marga dengan Tujuan Ajaran Agama Hindu (Moksa)
Image; minko_kenz


Penerapan Catur Marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah diterapkan secara rutin dalam kehidupannya sehari- hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan jalan yang dapat ditempuh untuk dapat menerapkannya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:57).

Sesuai dengan ajaran Catur Marga, penerapannya disesuaikan dengan kondisi atau keadaan setempat yang berdasarkan atas tradisi, sima, adat istiadat, drsta, atau pun yang lebih dikenal di Bali yakni desa, kala, patra atau desa mawa cara. Inti dari penerapan Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan (sraddha) dan pengabdian (bhakti) terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Dengan memahami dan menerapkan ajaran Catur Marga, diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, dedikasi, jati diri yang mulia dan harapan lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia dan sebagainya. Jadi dengan penerapan ajaran Catur Marga diharapkan agar tujuan dari agama Hindu dapat terwujud, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:58).

Baca: Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan

Renungan Sarasamuçcaya I.14

“Dharma ewa plawo nanyah swargam sabhiwanchatam sa ca naurpwanijastatam jala dhen paramicchatah”.

Ikang dharma ngaranya, hetuning mare ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga nentasing tasik”

Artinya:

"Yang disebut dharma, penyebab menuju sampai ke surga itu, seperti halnya sebuah perahu alat bagi pedagang menyebrangi laut".


Referensi


Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates: