Contoh Praktik Yajña menurut Kitab Mahabharata dalam Kehidupan

MUTIARAHINDU -- Beryajña bagi umat Hindu hukumnya wajib walau bagaimana dan di mana pun mereka berada. Sesuatu yang di-laksanakan dengan dilandasi oleh yajña adalah utama. Bagaimana agar semua yang kita laksanakan ini dapat berman-faat dan bekualitas-utama, mendekatlah kepada-Nya dengan tali kasih karena sesungguhnya Tuhan Maha pengasih. Kitab Bhagavad Gita menjelaskan sebagaimana berikut ini.

Baca: Pengertian dan Hakikat Yajña dalam Ajaran Agama Hindu

Contoh Praktik Yajña menurut Kitab Mahabharata dalam Kehidupan
Image: upakara_tamansari

"Ye tu dharmyāmṛtam idaṁ yathoktaṁ paryupāsate, sraddadhānā mat-paramā bhaktās te ’tiva me priyāá.”

Terjemahan:

"Sesungguhnya ia yang melaksanakan ajaran dharma yang telah diturunkan dengan penuh keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan, penganut inilah yang paling Ku-kasihi, karena mereka sangat kasih pada-Ku.” (Bhagavad Gita XII. 20),  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:39).

Kasih sayang adalah sikap yang utama bagi pelakunya. Maksudnya, membiasakan diri hidup selalu bersahabat sesama makhluk, jauh dari keakuan dan keangkuhan, serta selalu besama dalam suka dan duka serta pemberi maaf. Orang-orang terkasih selalu dapat mengendalikan diri, berkeyakinan teguh, terbebas dari kesenangan, kemarahan, dan kebingungan. Dia tidak mengharapkan apa pun, tidak terusik dan tidak memiliki pamrih apa pun. Orang-orang terkasih adalah mereka yang terbebas dari pujian dan makian, pendiam dan puas dengan apa pun yang dialaminya. Persembahan apa pun yang dilaksanakan oleh seseorang kepada-Nya dapat diterima, karena Beliau bersifat Mahakasih.

Baca: Yajña dalam Mahabharata dan Masa Kini

Daksina dan Pemimpin Yajña

Mendengar kata daksina, dalam benak orang Hindu “Bali” yang awam akan terbayang dengan salah satu jejahitan yang berbentuk cerobong (silinder) terbuat dari daun kelapa yang sudah tua, dan isinya berupa beras, uang, kelapa, telur itik dan perlengkapan lainnya. Daksina adalah sesajen yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual. Daksina adalah lambang Hyang.Guru (Dewa Siwa) dan karena itu digunakan sebagai saksi Dewata. Makna kata daksina secara umum adalah suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau uang kepada pendeta/pemimpin upacara.

Penghormatan ini haruslah dihatur-kan secara tulus ikhlas. Persembahan ini  sangat  penting  dan  bahkan merupakan salah satu syarat mutlak agar yajña berkualitas (satwika yajña). Selanjut-nya bagaimana pentingnya daksina dalam yajña, dikisahkan dalam cerita berikut.

Setelah perang Bharatayuda usai,Pandawa untuk menyelenggarakan upacara yajña yang disebut Aswa-medha yadnya. Upacara korban kuda itu berfungsi untuk menyucikan secara ritual dan spiritual negara Hastinapura dan Indraprastha karena dipandang leteh (kotor) akibat perang besar berkecamuk. Di samping itu juga bertujuan agar rakyat Pandawa tidak diliputi rasa angkuh dan sombong akibat menang perang, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:40).

Atas anjuran Sri Krishna, di bawah pimpinan Raja Dharmawangsa, Pandawa melaksanakan Aswamedha yajña itu. Sri Krishna berpesan agar yajña yang besar itu tidak perlu dipimpin oleh pendeta agung kerajaan tetapi cukup oleh seorang pendeta pertapa dari keturunan warna sudra yang tinggal di hutan. Pandawa begitu taat kepada segala nasihat Sri Krishna, Dharmawangsa mengutus patihnya ke tengah hutan untuk mencari pendeta pertapa keturunan warna sudra.

Setelah menemui pertapa yang dicari, patih itu menghaturkan sembahnya, “Sudilah kiranya Kamu memimpin upacara agama yang bernama Aswamedha Yajña, wahai pendeta yang suci”. Mendengar per-mohonan patih itu, sang pendeta yang sangat sederhana lalu menjawab, “Atas pilihan Prabhu Yudhistira kepada saya seorang pertapa untuk memimpin yajña itu saya ucapkan terima kasih. Namun kali ini saya tidak bersedia untuk memimpin upacara tersebut.

Nanti andaikata kita panjang umur, saya bersedia memimpin upacara Aswamedha yajña yang diselenggarakan oleh Prabhu Yudistira yang keseratus kali.

Mendengar jawaban itu, sang utusan terperanjat, kaget luar biasa. Ia langsung mohon pamit dan segera melaporkan segala sesuatunya kepada Raja. Kejadian ini kemudian diteruskan kepada Sri Krishna. Setelah mendengar laporan itu, Sri Krishna bertanya, siapa yang disuruh untuk menghadap pendeta, Dharmawangsa pun menjawab “Yang saya tugaskan menghadap pendeta adalah patih kerajaan”. Sri Krishna menjelaskan, upacara yang akan dilangsungkan bukanlah atas nama sang patih, tetapi atas nama sang Raja. Karena itu tidaklah pantas kalau orang lain yang memohon kepada pendeta. Setidak-tidaknya permaisuri Raja yang harus datang kepada pendeta. Kalau permaisuri yang datang, sangatlah tepat karena dalam pelaksanaan upacara agama, peranan wanita lebih menonjol dibandingkan laki-laki. Upacara agama bertujuan untuk membangkitkan prema atau kasih sayang, dalam hal ini yang paling tepat adalah wanita, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:41).

Nasihat Awatara Wisnu itu selalu dituruti oleh Pandawa. Dharmawangsa lalu memohon sang permaisuri untuk mengemban tugas menghadap pendeta di tengah hutan. Tanpa mengenakan busana mewah, Dewi Drupadi dengan beberapa iringan menghadap sang pendeta. Dengan penuh hormat memakai bahasa yang lemah lembut Drupadi menyampaikan maksudnya kepada pendeta. Di luar dugaan, pendeta kemudian bersedia memimpin upacara yang agung tersebut.

Pendeta pun dijemput sebagaimana tata krama yang berlaku. Drupadi menyuguhkan makanan dan minuman dengan tata krama di kota kepada pendeta. Karena tidak pernah hidup dan bergaul di kota, sang Pendeta menikmati hidangan tersebut menurut kebiasaan di hutan yang jauh dengan etika di kota.

Baca: Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña

Pendeta kemudian segera memimpin upacara. Ciri-ciri upacara itu sukses menurut Sri Krishna adalah apabila turun hujan bunga dan terdengar suara genta dari langit. Nah, ternyata setelah upacara dilangsungkan tidak ada suara genta maupun hujan bunga dari langit. Terhadap pertanyaan Darmawangsa, Sri Krishna menjelaskan bahwa tampaknya tidak ada “daksina” untuk dipersembahkan kepada pendeta. Kalau upacara agama tidak disertai dengan daksina untuk pendeta, berarti upacara itu menjadi milik pendeta. Dengan demikian yang menyelenggarakan upacara berarti gagal melangsungkan yajña. Gagal atau suksesnya yajña ditentukan pula oleh sikap yang beryajña. Kalau sikapnya tidak baik atau tidak tulus menerima pendeta sebagai pemimpin upacara maka gagallah upacara itu. Sikap dan perlakuan kepada pendeta yang penuh hormat dan bhakti merupakan salah satu syarat yang menyebabkan upacara sukses.

Setelah mendengar wejangan itu, Drupadi segera menyiapkan Daksina untuk pendeta. Setelah pendeta mendapat persembahan daksina, tidak ada juga suara genta dan hujan bunga dari langit. Melihat kejadian itu, Sri Krishna memastikan bahwa di antara penyelenggara yadnya ada yang bersikap tidak baik kepada pendeta. Atas wejangan Sri Krishna itu, Drupadi secara jujur mengakui bahwa ia telah menertawakan Sang Pendeta memimpin yajñanya walaupun hanya dalam hati mengatakan, yaitu pada saat pendeta menikmati hidangan tadi. Memang dalam agama Hindu, Pendeta mendapat kedudukan yang terhormat bahkan dipandang sebagai perwujudan Dewa. Karena itu akan sangat fatal akibatnya kalau ada yang bersikap tidak sopan kepada pendeta, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:42).

Beberapa saat kemudian setelah Drupadi datang menyembah dan mohon maaf kepada pendeta, jatuhlah hujan bunga dari langit disertai suara genta yang nyaring membahana. lni pertanda yajña Aswamedha itu sukses. Demikianlah, betapa pentingnya kehadiran “daksina” yang dipersembahkan oleh yang beryajña kepada pendeta pemimpin yajña dalam upacara yajña, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:43).

Renungan Åg Veda VIII. 97.3

"Ya indra sasty-avrato anuṣvāpam-adevayuá,
svaiá sa evair mumurat poṣyam rayiṁ sanutar dhei taṁ tataá”.

Terjemahan:

"Tuhan Yang Maha Esa, orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah lamban dan mengantuk, mati oleh perbuatannya sendiri. Berikanlah semua kekayaan yang dikumpulkan oleh orang semacam itu, kepada orang lain”.

Referensi


Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates: