Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan

MUTIARAHINDU -- Pada pembahasan sebelumnya telah diulas mengenai pengertian dan hakikat serta bagian-bagian dari catur marga yoga atau empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada link dibawah!

Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan
Image: minko_kenz

Berikut Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan

1. Bhakti Marga/Yoga

a. Pelaksanaan Tri Sandya dan yajña Sesa

Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bhakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dengan melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan sore hari serta melaksanakan yajña sesa/ngejot setelah selesai memasak. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti sekaligus mendekatkan diri ke hadapan-Nya hendaknya melaksanakan puja tri sandya tersebut dengan tulus dan ikhlas,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:51).

b. Pelaksanaan pada Hari-hari Keagamaan

Implementasi bhakti marga/yoga juga dapat dilihat pada hari-hari keagaman Hindu, seperti hari Saraswati, tumpek wariga dan tumpek uye. Hari Saraswati adalah hari turunnya ilmu pengetahuan dengan memuja dewi yang dilambangkan sebagai ilmu pengetahuan yaitu Dewi Saraswati. Hari Saraswati ini jatuh pada hari Saniscara Umanis Watugunung dan diperingati setiap 210 hari.

Pada hari ini semua pustaka terutama Veda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati untuk diberikan suatu upacara. Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Veda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Adapun simbol-simbol Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut ini.

  1. Wanita cantik : sifat ilmu pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut dan menarik hati.
  2. Genitri : ilmu pengetahuan itu tidak akan ada akhirnya dan selama hidup ini tidak akan habis untuk dipelajari.
  3. Keropak : melambangkan sumber ilmu pengetahuan.
  4. Wina : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat halus.
  5. Teratai : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat suci.
  6. Burung merak : melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat berwibawa.
  7. Burung angsa : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat bijaksana, dapat membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:52).
Sedangkan Tumpek Wariga merupakan upacara untuk menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk hidup di dunia atau dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa entik-entikan”. Sementara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang upacara dalam menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di dunia yang sering dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa ubuhan”. Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari dalam perhitungan Hindu. Dalam konsep Tri Hita Karana penghormatan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas pengadaan hewan dan tumbuhan ini dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Dengan kata lain melaksanakan upacara tumpek ini adalah realisasi dari konsep Tri Hita Karana alam kehidupan. Jika semua itu sudah kita lakukan dengan rasa tulus dan ikhlas berarti kita telah melaksanakan ajaran Bhakti Marga Yoga.

2. Jnana Marga Yoga

a. Ajaran Brahmacari

Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar. Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal. Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik-baiknya, yang beliau contohkan seperti rumput ilalang yang masih muda. Ketika masih muda pikiran kita masih sangat tajam, jadi hendaknya digunakan untuk menuntut dharma, dan ilmu pengetahuan. Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga dapat meyajñakan tenaga dan pikirannya itu.

b. Ajaran Aguron-guron

Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid. Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi kualifikasi tertentu,

hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai kurikulum yang membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui batas-batas senang dan sedih, bahagia dan derita, lahir dan mati. Guru seperti itu pasti akan datang kepada kita. Menuntun kita, menentukan arah tujuan kita, menunjukkan cara dan metodenya, menghibur dan menyemangatinya. Jangan ragu, pasti akan ada guru yang datang kepada kita, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:53).

c. Ajaran Catur Guru

Berhasilnya seseorang menempuh jenjang pendidikan tertentu ( pendidikan tinggi yang berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhakti kepada Catur Guru. Mereka yang melaksanakan ajaran Guru Bhakti sejak dini (anak-anak), pada umumnya memiliki disiplin dan percaya diri yang mantap pula. Dengan disiplin dan percaya diri yang mantap, tidak saja akan sukses dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Di sinilah kita melihat ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apa pun, sebab hakikat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.

3. Karma Marga Yoga

Berkarma Tulus dan Membantu Berbuat ikhlas dan membantu merupakan suatu istilah yang ada di Bali dan identik dengan gotong royong. Ngayah ini dapat dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya. Sedangkan matatulungan ini bisa dilakukan antarmanuasia yang mengadakan upacara ke-agamaan pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lain sebagainya. Sesuai dengan ajaran karma yoga, hendaknya ngayah atau matatulungan ini dilakukan secara ikhlas tanpa ada ikatan apa pun. Dengan demikian, apa yang kita lakukan dapat memberikan suatu manfaat.

a. Berkarma yang Baik

Berbuat baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan. Dalam agama Hindu ada slogan mengatakan “Rame ing gawe sepi ing pamrih” Slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:54).

Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan. Dengan begitu niscaya kita akan selalu mendapat karunia-Nya tanpa pernah terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah untuk memulainya. Sebagai makhluk ciptaan Brahman, sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk melayani. Ber-karma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain. Hal ini tentu dibatasi oleh perbuatan Dharma. Slogan “Tat Twam Asi” adalah salah satu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah Kamu juga. Suatu slogan yang sangat sederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti yang sangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagai diri sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepada Brahman.

b. Ajaran Karmaphala

Karmaphala merupakan hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan. Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya.

Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju moksa.




4. Raja Marga Yoga

Penerapan Raja Marga Yoga ini antara lain terdapat pada ajaran Astāngga yoga, yaitu catur brata penyepian, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:55).

a. Ajaran Astāngga yoga

Astāngga yoga merupakan delapan anggota dari raja yoga yang terdiri dari yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi adalah delapan anggota (anga) dari Raja Yoga yama membentuk disiplin etika yang memurnikan hati. Yama terdiri atas ahimsa (tanpa kekerasan), satya (kejujuran), brahmacarya (selibat), asteya (tidak mencuri), dan aparigraha (tidak menerima pemberian kemewahan). Semua kebajikan berakar pada ahimsa. Niyama adalah kepatuhan, dan tersusun atas sauca (permurnian dalam dan luar), santosa (kepuasan jiwa), tapas (kesederhanaan/pengendalian diri), svadhyaya (belajar kitab suci dan pengucaran mantra) dan isvarapranidhana (berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa). Mereka yang bagus dalam yama dan niyama akan cepat maju dalam melaksanakan yoga pada umumnya. Dengan yama dan niyama seseorang dapat mewujudkan cittasuddhi atau atmasuddhi (kesucian hati).

Asana, pranayama dan pratyahara merupakan perlengkapan pendahuluan dari yoga. Asana adalah sikap badan yang benar. Pranayama adalah pengaturan napas, yang menghasilkan ketenangan indra dan kemantapan pikiran serta kesehatan yang baik. Pratyahara adalah penarikan indra-indra dari objek-objeknya. Seseorang harus melakukan pratyahara untuk dapat melihat di dalam batin dan memiliki pemusatan pikiran.

Dharana adalah konsentrasi pikiran pada suatu objek atau cakra dalam istadevata. Lalu menyusul dhyana, atau meditasi pengaliran yang tak henti-hentinya dari pemikiran satu objek, yang nantinya membawa kepada keadaan samadhi. Saat seperti itu yang bermeditasi dan yang dimeditasikan menjadi satu. Semua vritti yakni gejolak pikiran
mengendap.

Pikiran kehilangan fung-sinya. Segala   samskara, kesan-kesan dan vasana (kecen-derungan dan pikiran halus) terbakar sepenuhnya dan yogi (pelaksana yoga) terbebas dari  kelahiran  dan  kematian.  Ia mencapai kaivalya atau pembebasan, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:56).

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pada hakikatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:57).


Renungan Rg Veda VIII. 95. 1

“Eto nvindraṁ stavama ṡiddhaṁ ṡuddhena samrā ṡuddhair ukthair vāvṛghvāmṡāṁ ṡuddha āṡirvān mamattu”.

Terjemahan:

“Marilah kita semua memanjatkan doa kepada Tuhan, yang suci, dengan nyanyian pujian sama, Dia yang dimuliakan dengan lagu-lagu pujian, semoga yang suci, yang Mahapemurah senang”. 


Referensi


Mudana dan Ngurah Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian             Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor Naskah  : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia Penerbitan  : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan"

Post a Comment