Mengenal Bhagavadgītā dan Sifat Daivi Sampad dan Asuri Sampad

MUTIARAHINDU -- Bhagavadgītā merupakan salah satu kitab suci agama Hindu. Bhagavadgītā digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan. Kitab suci Bhagavadgītā juga disebut dengan Pancama Veda. Kata Pancama Veda berarti Veda yang kelima. Kita mengenal kitab catur Veda meliputi, Ṛgveda, Sāmaveda, Yayurveda, dan Atharvaveda. Veda yang kelima adalah Bhagavadgītā. Kitab suci Bhagavadgītā adalah percakapan antara Śrī Kṛṣṇa dan Arjuna. Śrī Kṛṣṇa memberikan nasihat kepada Arjuna sebelum berperang.

Mengenal Bhagavadgītā dan Sifat Daivi Sampad dan Asuri Sampad
Sebelum berperang, Arjuna merasa ragu dan sedih karena harus berperang dengan kakek, guru, dan saudara-saudaranya. Ketika itu, Śrī Kṛṣṇa memberikan nasihat dan ajaran-ajaran tentang kehidupan. Isi kitab suci Bhagavadgītā salah satunya mengajarkan  kita  tentang perbuatan yang harus dilakukan dan perbuatan yang harus dihindari, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 26).

Pengertian Daivi Sampad dan Asuri Sampad

Perbuatan yang baik adalah perbuatan yang didasari sifat deva atau Daivi Sampad. Perbuatan yang tidak baik adalah perbuatan yang didasari sifat raksasa atau Asuri Sampad.

Baca: Contoh Sifat Daivi Sampad dan Sifat Asuri Sampad dalam Kitab Bhagavadgītā

Sloka-Sloka Bhagavadgita

Kitab suci Bhagavadgītā berisi ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat Kṛṣṇa kepada Arjuna mengenai kehidupan dan pencapaian kepada Tuhan. Kitab suci Bhagavadgītā terdiri atas 700 sloka. Sloka-sloka itu dapat kita pelajari sebagai pedoman hidup. Berikut salah satu sloka yang patut kita hafalkan sebagai bahan latihan belajar membaca slok.

"dvau bhūta-sargau loke’smin, 
daiva āsura eva ca,
daivo vistaraśaḥ prokta, 
āsuraṁ pārtha me śṛṇu",  (Bhagavadgītā, XVI.6)

Terjemahannya

"Ada dua macam makhluk ciptaan di dunia ini, yang mulia dan yang jahat, yang mulia telah diuraikan secara rinci, selanjutnya dengarkan tentang yang jahat, dari aku, wahai Pārtha (Arjuna)",
(Pudja: 2004: 374).

Sifat manusia dibedakan menjadi dua macam, yaitu baik dan buruk. Dua sifat tersebut berada di dalam diri manusia dan akan memengaruhi perilaku manusia. Melalui wiweka, manusia dapat membedakan perbuatan baik dan buruk. Selain itu, manusia dapat mengetahui perbuatan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 27).
Keutamaan lahir sebagai manusia adalah untuk melakukan karma yang baik. Karma yang baik berguna untuk memperbaiki tingkat kelahiran dan mencapai kebahagiaan abadi. Dalam kitab Sārasamusccaya 2 dijelaskan bahwa:

"mānusah sarvabhutesu varttate vai subhāsubhe asubhesu samavistam subhesvevāvakārayet"

Terjemahannya

"Hanya manusia yang mempunyai kemampuan dengan mengenal perbuatan baik dan buruk, salah dan benar, serta mampu melebur yang buruk menjadi baik. Kemampuan ini sebagai salah satu kelebihan manusia yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi", (Kajeng: 2003: 8)

Sifat Daivi Sampad dan Asuri Sampad

Manusia adalah ciptaan Sang Hyang Widhi yang paling utama. Manusia memiliki Tri Pramana, yaitu sabda (suara), bayu (tenaga), dan idep (pikiran). Pikiran berfungsi sebagai pengendali indriya. Oleh karena itu, kita harus dapat mengendalikan pikiran dengan menjalankan ajaran tri kaya parisudha. Dari pikiran yang baik, akan muncul perkataan yang baik dan diwujudkan dengan perbuatan yang baik, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 28).

Perbuatan menyebabkan manusia mendapat kebahagiaan atau penderitaan, bergantung pada sifat mana yang akan diterapkan dalam kehidupan. Dalam kitab Bhagavadgītā, kecendrungan sifat manusia dibedakan menjadi dua jenis. Kedua jenis sifat itu, yaitu kencenderungan sifat deva (Daivi Sampad) dan kecendrungan sifat raksasa (Asuri Sampad).

1. Sifat Daivi Sampad

Daivi artinya deva. Deva adalah sinar suci Sang Hyang Widhi. Deva memiliki sifat baik, welas asih, dan suka memberi. Deva merupakan sinar suci Sang Hyang Widhi yang bertugas menjaga dan melindungi alam semesta. Sampad  berarti  sifat. Daivi Sampad adalah sifat manusia seperti deva, yakni
selalu berbuat baik, sabar, menciptakan keharmonisan, dan welas asih. Manusia yang memiliki sifat Daivi Sampad dapat menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 29).

2. Sifat Asuri Sampad

Asuri Sampad sama dengan asura yang berarti raksasa. Raksasa cenderung mempunyai sifat yang cepat marah, cepat tersinggung, sombong, angkuh, kasar, dan tidak peduli kepada orang lain. Manusia pasti memiliki 2 sisi: negatif dan positif. Hal tersebut karena ada tri guna yang berpengaruh dalam diri manusia. Oleh karenanya, kini bergantung pada setiap manusia bagaimana dia dapat dan mampu untuk mengendalikan sifat yang tidak baik mengarah pada kebaikan.

Asuri Sampad akan mengarahkan dan menyebabkan penderitaan jika sifat tersebut tidak dihindari. Selain itu, tidak ada keharmonisan dan kedamaian yang akan kita rasakan dalam kehidupan. Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi, mempelajari kitab-kitab suci, dan berbuat kebaikan kepada semua orang. Maka, kita akan mampu terhindar dari Asuri Sampad, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 30).

Baca: Cerita Berkaitan dengan Daivi Sampad dan Asuri Sampad (Drona di Hastinapura dan Anak Gembala)

Referensi:

Susila, Komang dan Sri Mulia Dewi, I Gusti Ayu. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti  (kelas 3) / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015.

Sumber: Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas III
Kontributor Naskah : Komang Susila dan I Gusti Ayu Sri Mulia Dewi
Penelaah : I Wayan Paramartha dan I Made Redana
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015



Subscribe to receive free email updates: