Contoh dan Upaya-Upaya Meningkatkan Perilaku Tri Parārtha

MUTIARAHINDU -- Perilaku untuk menciptakan dan menumbuhkan kesejahteraan, kedamaian, keharmonisan, serta kebahagiaan dalam masyarakat sangatlah penting. Masyarakat dapat hidup rukun dan damai antar suku, agama, dan negara dengan selalu menjalankan perilaku asih, puṇya, dan bhakti. Berikut adalah contoh-contoh perilaku asih, puṇya, dan bhakti:


Contoh dan Upaya-Upaya Meningkatkan Perilaku Tri Parārtha
Image; dharmadana
Contoh-Contoh Tri Parārtha

1. Memelihara lingkungan
2. Memberikan sumbangan ke panti asuhan
3. Saling mengasihi antar teman, saudara, dan tetangga
4. Mengasihi binatang yang tidak bersalah
5. Menjaga dan melindungi orang yang membutuhkan perlindungan
6. Membantu orang tua di rumah
7. Rajin belajar dan tekun menuntut ilmu
8. Memberikan bantuan kepada orang suci
9. Rajin melakukan persembahyangan
10. Selalu mengingat nama-nama Sang Hyang Widhi
11. Membantu orang yang terkena bencana, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 6).

Upaya-Upaya Meningkatkan Perilaku Tri Parārtha

Tujuan akhir dalam agama Hindu adalah mencapai kebahagian yang abadi (moksa). Hal tersebut dapat kita capai jika kita sudah mengamalkan ajaran agama dan menerapkan ajaran Tri Parārtha dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Tri Parārtha dapat diterapkan baik di rumah, di sekolah, dan di lingkungan. Ada pun upaya-upaya untuk meningkatkan perilaku Tri Parārtha antara lain seperti berikut.
  1. Menjalankan ajaran Tat Twam Asi
  2. Melakukan Tri Sandhya setiap hari
  3. Membiasakan diri untuk melakukan dana punia
  4. Menjalankan ajaran Tri Hita Karana

Tuhan menciptakan manusia untuk saling menyayangi dan membantu satu sama lain. Dalam kebersamaan, akan tercipta keharmonisan. Perbedaan suku, ras, dan agama tidak menjadi penghalang untuk kita saling berbagi. Hal itu karena sesungguhnya kita bersumber dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Kita juga memiliki keterkaitan yang saling membutuhkan. Tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri. Manusia tidak mampu hidup tanpa adanya hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama, serta manusia dan lingkungan. Semua akan berjalan harmonis jika ada kesadaran dalam diri bahwa segala sesuatu harus kita jaga dengan baik dari ketiga hubungan tersebut.
Seperti halnya manusia membutuhkan makanan. Nasi yang selalu kita makan merupakan sumber energi dalam tubuh. Nasi akan melalui proses yang panjang sebelum berhasil menjadi makanan yang siap disantap. Tahap awal, petani membutuhkan lahan untuk menanam padi, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 10).

Setelah itu, petani mengatur pengairan, merawat, memberikan pupuk sehingga tanaman padi tumbuh dengan baik. Setelah petani merawat padinya dengan baik, petani akan memperoleh padi yang siap untuk dipanen.

Dalam tahap panen, petani membutuhkan beberapa orang untuk memotong dan memisahkan padi dari tangkainya. Setelah berbentuk gabah, padi siap dibawa ke tukang penyosohan/pengupasan untuk digiling. Tujuan penyosohan/pengupasan agar terpisah dari kulitnya dan menghasilkan biji beras. Petani membutuhkan pedagang untuk menjual berasnya, pedagang juga membutuhkan petani untuk membeli beras. Pedagang membutuhkan pembeli sebagai konsumen begitu pun sebaliknya, hingga beras siap dimasak menjadi nasi.

Ilustrasi di atas memberi makna, bahwa kita akan saling terkait dan saling membutuhkan satu sama lain. Berbagi kasih sayang atau menolong sesama, hendaknya tidak membeda-bedakan siapa dan dari mana mereka berasal. Karena secara tidak langsung karma akan berjalan mengikuti pahala. Amalkan ajaran Tri Parārtha agar senantiasa manusia dan sesama makhluk hidup bahagia, sejahtera, serta saling menghargai antaragama, suku, dan bangsa. Selalu menjaga hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam. Dengan demikian, akan tercapai kedamaian dalam hati dan kedamaian di dunia, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 11).


Referensi:

Susila, Komang dan Sri Mulia Dewi, I Gusti Ayu. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti  (kelas 3) / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015.

Sumber: Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas III
Kontributor Naskah : Komang Susila dan I Gusti Ayu Sri Mulia Dewi
Penelaah : I Wayan Paramartha dan I Made Redana
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015


Subscribe to receive free email updates: