Cerita Berkaitan dengan Daivi Sampad dan Asuri Sampad (Drona di Hastinapura dan Anak Gembala)

Drona di Hastinapura

Drona adalah putra dari Bharadvaja. Masa kecil Drona sangat menyenangkan. Dia berteman dengan Drupada, pangeran Kerajaan Pancala. Mereka adalah teman baik sekali. Suatu hari, Drupada memberi tahu Drona, “Saya benar-benar menyukaimu. Saya tidak mau persahabatan kita berakhir di asrama ini. Saya ahli waris tahta Kerajaan Pancala. Kalau saya menjadi raja, saya akan mengajakmu dan kita berteman seumur hidup.”


Cerita Berkaitan dengan Daivi Sampad dan Asuri Sampad (Drona di Hastinapura dan Anak Gembala)
Tahun demi tahun berlalu. Drona menikahi Kripi, putri dari Saradwata atau Gautama. Mereka melahirkan seorang putra bernama Aswatthama. Keinginan Drona yang tertinggi adalah menjadi pemanah yang paling hebat di asramanya. Dia datang kepada Bhargawa dan mempelajari jenis panah atau astra. Setelah menguasai jenis panah, Drona pulang. Aswatthama adalah seorang anak muda yang cerdas, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 40).

Suatu hari, Aswatthama datang kepada ibunya dan berkata, “Ibu, semua teman saya menceritakan tentang sesuatu yang disebut susu. Saya mau susu, ibu.” Ibunya tidak tahu harus berbuat apa.

Drona yang mendengar hal tersebut menjadi sedih. Kemudian, dia teringat hari-hari persahabatannya dengan Pangeran Pancala. Drona datang kepada Drupada, namun Drupada telah berubah. Kekayaan dan kenyataan bahwa dia menjadi raja telah membuatnya sombong. Dia tertawa pada Drona, “Seorang brahmana miskin yang menjadi teman saya dalam hari-hari belajar saya, menuntut persahabatan dengan saya. Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan hanyalah antara yang sederajat?”

Drona tersinggung dengan perkataan Drupada. Tanpa sepatah kata pun, dia meninggalkan istana raja yang sombong itu. Dia berjanji untuk membalas dendam atas perlakuan yang dia peroleh. Drona memutuskan untuk melatih ksatrya muda dalam panahan. Dia membalikkan langkahnya menuju Hastinapura. Sesampainya di Hastinapura, Drona disambut oleh Bhisma dan memberitahukan semua hinaan yang telah dia derita dari Raja Pancala yang sombong. Dia juga memberi tahu keinginannya untuk balas dendam.

Bhisma berkata, “Kamu telah datang ke tempat yang tepat. Saya mempunyai cucu mencapai ratusan, yang sangat berniat mempelajari panahan.” Bhisma memanggil semua anak dan menitipkan kepada Drona dan berkata, “Mulai hari ini, mereka menjadi milikmu. Tugasmu adalah membesarkannya menjadi ksatrya sejati.”

Beberapa tahun terlewati dalam pendidikan pengeran-pangeran muda itu. Semuanya pandai dalam menggunakan senjata. Akan tetapi, Arjuna menjadi murid kesayangan Drona. Kecintaannya pada panahan, latihan yang berulang-ulang, kesabarannya yang tinggi, kecintaannya pada pelajaran dan gurunya telah memikat hati Drona. Bahkan, kecintaan Drona kepada Arjuna melebihi kecintaannya kepada putranya sendiri, Aswatthama, (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 41).

Drona sangat senang dengan Arjuna sehingga suatu hari dia memberitahunya, “Saya belum pernah melihat pemanah seperti kamu. Saya berjanji membuatmu menjadi pemanah terbesar di dunia ini.” Kebahagian Arjuna tidak terpikirkan.

Suatu hari, ketika Drona mandi di Sungai Gangga, dia diserang oleh seekor buaya. Buaya itu menggigit kakinya. Dia berteriak “Tolong, tolong, tolong selamatkan saya dari buaya ini.” Dia sebenarnya dapat membebaskan dirinya dengan mudah. Akan tetapi, dia ingin mengetes keahlian muridnya sehingga dia meminta pertolongan. Bahkan, sebelum kata-kata dari bibirnya keluar, Arjuna dengan panahnya yang cepat dan tajam membunuh buaya tersebut.

Dalam kegembiraannya, Drona mengajarkan astra yang tinggi yang disebut Brahmasirsa kepada Arjuna. Dia memberi kata peringatan. Drona berkata, “Astra ini terlalu ampuh untuk digunakan pada manusia biasa. Kalau diarahkan pada orang miskin yang tidak berpengaruh, dia akan menghancurkan seluruh dunia. Kalau ada seorang yang merupakan raksasa atau deva yang sesat dia akan menyebabkan kehancuran     di antara manusia.” Arjuna menerimanya dengan sangat senang dan hormat (Adi Parwa: 2010 : 65-69), (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 42).


Anak Gembala

Tersebutlah ada seorang anak  gembala,  hidup  di  suatu  desa  di pinggir hutan. Setiap hari, ia menggembala dombanya ke padang rumput yang luas dan sunyi. Ia berkawan dengan domba-domba dan burung-burung yang terbang bebas di langit.

Pada suatu hari, anak gembala itu diliputi perasaan sepi dan bosan. Di dalam hatinya, ia berpikir, “Alangkah baiknya jika aku mempunyai teman yang dapat diajak bermain, tentu aku senang,” Tiba-tiba muncul rencana baru dalam pikirannya. Kemudian, dia meletakkan kedua tangan di muka mulutnya, dan ia mulai berteriak sekuat tenaga.

“Tolong…tolong…ada serigala. Tolong aku,” Segera orang-orang datang sambil membawa tongkat dan parang.

“Di mana serigala, di mana serigala,” teriak mereka.

“Tidak ada serigala,” kata anak gembala itu tertawa gembira. Para petani sangat marah.

“Bagaimana kamu berani mempermainkan kami, anak kecil? Kamu anak nakal, ya?”

Anak gembala itu sangat puas setelah para petani pergi meninggalkan dirinya. Dalam hatinya, dia bergumam, “Sudah lama saya tidak mendapatkan kesenangan sejenis ini.”

Selang beberapa hari kemudian, anak gembala itu berniat mengulangi tipuannya. Sekali lagi, para petani berlari-lari menuju anak gembala lelaki itu. Kali ini juga mereka dibohongi oleh anak kecil itu. Mereka berkesimpulan bahwa anak gembala ini tidak dapat dipercaya. Mereka memarahi anak gembala itu sambil berkata,“ Sekarang kami tahu, bahwa kamu suka berbohong. Kami tidak akan datang lagi jika kamu memanggil.”,  (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 43).

Beberapa hari berlalu tanpa terjadi peristiwa apa  pun.  Suatu  hari, ketika anak gembala itu duduk berteduh di bawah pohon sambil mengamati dombanya. Tiba-tiba dia melihat beberapa ekor serigala abu-abu yang besar menyeruak keluar dari dalam semak-semak.

Anak laki-laki itu terkejut dan takut yang mencekam. Serigala itu makin mendekat pada kawanan dombanya dan segera melompat dari tempat duduknya, dan sambil berdiri, ia mulai berteriak minta tolong, “Tolong, tolong, ada serigala….tolong datanglah. Benar-benar ada serigala. Tolong…tolonglah.”

Tetapi sia-sia. Tak seorang pun datang. Orang tidak lagi memedulikan teriakannya. Maka, tak dapat dihindari lagi, serigala- serigala itu menyerang dan memakan habis domba-domba itu. Si anak gembala termenung memikirkan nasibnya. Hatinya hancur seperti disambar halilintar. Tak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan untuk melindungi domba-dombanya.

Sampai di rumah, ia pasti dimarahi oleh orang tuanya. Andaikata ia tak pernah membohongi para petani di sekitarnya, tentu mereka akan datang beramai-ramai menolong dirinya (Cudamani: 2002 ),  (Susila, dan Sri Mulia Dewi, 2015: 44).

Referensi:

Susila, Komang dan Sri Mulia Dewi, I Gusti Ayu. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti  (kelas 3) / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015.

Sumber: Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas III
Kontributor Naskah : Komang Susila dan I Gusti Ayu Sri Mulia Dewi
Penelaah : I Wayan Paramartha dan I Made Redana
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: