Pengertian Tri Hita Karana dan Bagian-Bagiannya Serta Contohnya Dalam Kehidupan Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Kearifan lokal merupakan proses adaptasi pengetahuan lokal yang demikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam waktu yang cukup lama. Sama halnya dengan yang terjadi di Bali, kearifan tradisional ini menjadi suatu bentuk keyakinan, pemahaman dan wawasan serta adat kebiasaan bahkan etika yang menuntun perilaku masing-masing manusia dalam kehidupan serta komunitas ekologisnya. Sehingga membentuk suatu kepercayaan hakiki yang seyogyanya meresap dalam sanubari masing-masing individu yang terkoneksi dengan Tuhan, alam dan sesama manusia.

Pengertian Tri Hita Karana dan Bagian-Bagiannya Serta Contohnya Dalam Kehidupan Agama Hindu
Igame; hindulampung
Tri Hita Karana menjadi falsafah hidup yang begitu tangguh. Masing- masing hubungan yang tercipta memiliki pedoman hidup untuk menghargai sesama aspek sekelilingnya. Demikian juga, sama halnya dengan menghargai Tuhan dengan selalu mengingat-Nya kapanpun dan dimanapun, menghargai alam dengan tidak merusaknya dan tidak menyalahi aturan yang sudah ada, menghargai sesama manusia dengan menjaga perasaan dan bersikap empati agar selalu rukun dan damai. Prinsip pelaksanaan dibuat sedemikian rupa hingga seimbang dan selaras satu sama lainnya. Berdasar pada kearifan lokal ini, sekiranya kita bisa belajar mengimplementasikan filosofi hidup dengan mantap, kreatif serta dinamis semata-mata demi mewujudkan kehidupan harmonis.

Pengertian Tri Hita Karana

Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta, di mana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtera atau bahagia dan Karana artinya sebab atau penyebab. Tri Hita Karana berarti tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia. Untuk itu ketiga hal tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat mencapai hubungan yang harmonis. Sebagaimana dimuat dalam ajaran Agama Hindu bahwa "kebahagiaan dan kesejahteraan" adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidup manusia, baik kebahagiaan atau kesejahteraan fisik atau lahir yang disebut ” Jagadhita ” maupun kebahagiaan rohani dan batiniah yang disebut "Moksa".

Bagian-Bagian dan Contoh Tri Hita Karana

Untuk bisa mencapai kebahagiaan yang dimaksud, kita sebagai umat manusia perlu mengusahakan hubungan yang harmonis (saling menguntungkan) dengan ketiga hal tersebut di atas. Karena melalui hubungan yang harmonis terhadap ketiga hal tersebut diatas, akan tercipta kebahagiaan dalam hidup setiap umat manusia. Oleh sebab itu dapat dikatakan hubungan harmonis dengan ketiga hal tersebut di atas adalah suatu yang harus dijalin dalam hidup setiap umat manusia. Jika tidak, manusia akan semakin jauh dari tujuan yang dicita-citakan atau akan menemukan kesengsaraan. Tri Hita Karana sebagai konsep kearifan lokal, terdiri dari;
  1. Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa (Parhyangan).
  2. Hubungan manusia dengan sesama manusia (Pawongan).
  3. Hubungan manusia dengan alam semesta (Puruûha), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 273-274)

Konsep ini (Tri Hita Karana) di Bali tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu yang meliputi tiga unit yaitu: (1) Parahyangan, yakni berupa unit tempat suci (Pura) tertentu yang mencerminkan tentang Ketuhanan. (2) Pawongan, berupa unit dalam organisasi masyarakat adat sebagai perwujudan unsur antara sesama manusia. (3) Palemahan, yaitu berupa unit atau wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur alam semesta atau lingkungan.

Tiga unit yang disebut Tri Hita Karana yang refleksinya terwujud dalam banyak aspek kehidupan dalam masyarakat Hindu. Ketiga hubungan yang harmonis tersebut diyakini akan membawa kebahagiaan dalam hidup ini. Sebagai konsep dasar dari ajaran Tri Hita Karana dalam Agama Hindu dapatlah kiranya diperhatikan atau direnungkan melalui sloka berikut ini :

"Mattahparataram na nyat kimchid asti dhananjaya, mayi sarwam idam protam sutre manigana iva”.

Terjemahan:

"Tiada yang lebih tinggi daripada-Ku oh Dananjaya, yang ada disini semua terikat pada-Ku bagaikan rangkaian mutiara pada seutas tali", (Bhagawadgita, VII.7).

Dari penjelasan sloka tersebut di atas dapatlah dikemukakan bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), demikianlah pada akhirnya semua ini akan kembali kepada-Nya. Keberadaan Hyang Widhi Wasa dari sudut agama adalah mutlak, karena jika direnungkan secara mendalam bahwa segalanya adalah kehendak-Nya. Maka kalau kita menyadari hal ini sewajarnyalah kita berbakti kepada Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 274).

Hubungan manusia dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam hal ini lebih ditekankan pada upaya umat manusia untuk selalu ingat dan berhubungan dengan Sang pencipta alam semesta ini, sebagai sarana untuk mendekatkan diri bisa dengan doa atau sarana dalam persembahyangan. Hal tersebut seperti biasanya dapat kita lakukan di tempat-tempat suci seperti di Pura, Candi, Mandir atau di tempat yang dipandang suci. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tidak semua orang bisa berhubungan langsung dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), untuk itu perlu sarana sebagai simbol untuk memanifestasikan Tuhan itu sendiri.  

Hubungan manusia dengan sesama umat manusia (masyarakat). Manusia menurut kodratnya sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup menyendiri, untuk menjaga kelangsungan hidupnya ia selalu memerlukan orang lain dan hidup berdampingan dalam persaudaraan. Dengan demikian manusia disebut sebagai makhluk sosial. Hubungan manusia dengan sesama manusia atau sesama masyarakat dengan masyarakat lainnya akan dapat terwujud secara harmonis, yang selanjutnya akan terwujud  masyarakat  sejahtera,  aman,  dan damai. Dari kondisi tersebut maka akhirnya terwujud pula negara yang tenteram. Hubungan yang aman, damai, dan harmonis terhadap sesama masyarakat sangatlah perlu ditingkatkan dan dibina berdasarkan saling asah, asih, dan asuh. Saling menghargai, saling mengasihi, saling membimbing, dan saling hormat menghormati. Oleh karena itu untuk mencapai kebahagiaan tersebut perlu menjalin hubungan yang harmonis pada unsur manusia itu sendiri. 

Manusia tidak akan memiliki arti dalam kesendiriannya, sebab tidak banyak  hal yang dapat dibuat dengan kesendiriannya, sedangkan kehidupannya menuntut hal-hal yang sangat kompleks dalam hidup bermasyarakat dewasa ini.  Jadi di samping memiliki keahlian, profesi pada bidang-bidang tertentu maka banyak hal yang terkadang tidak dapat dikerjakannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sinilah seseorang saling membutuhkan kehadiran orang lain, terutama untuk saling membantu dalam bidang-bidang tertentu dari kehidupannya yang tidak dapat diselesaikannya sendiri, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 275).

Dalam realita hidup misalnya kita mengetahui Bima yang ahli dalam bidang listrik dan elektronik, Dharma memiliki kemampuan di bidang komputer, sedangkan Catur adalah pakar pertanian dan perikanan. Agar Bima, Dharma dan Catur dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sempurna, maka     ia harus bekerja sama antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini minta bantuan sama Adi untuk mengerjakan pekerjaan di bidang listrik dan elektronik. Bima mesti siap saling membantu dan begitu juga Dharma dan Catur harus siap membantu mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan keahliannya masing-masing, sehingga akan tercapai tujuan dan keharmonisan bersama.

Demikian kenyataannya, Tuhan Yang Maha Esa memang telah menciptakan manusia dengan keahliannya yang berbeda-beda, yang dimaksud demi kesempurnaan kehidupan manusia sebagaimana dijelaskan dalam Veda Smrti berikut:

"Lokanam tu wiwwrddhyyartham mukhabaahu rupadatah brahmanan ksatryam waisyam cudram ca nirawartayat ”.

Terjemahan:

"Tetapi demi keamanan dan kemakmuran dunia, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan Brahmana, Ksatrya, Wesya, Sudra (sesuai dengan fungsinya) yaitu dari kepalanya, dari tangannya, perutnya, dan kakinya" (Veda Smrti I. 31).

Menyadari hal demikian kita harus selalu menjalin hubungan dengan sesama manusia, hubungan yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan baik yang saling menghormati dan saling membantu, simbiosis mutualisme, sebab hanya hubungan yang demikian dapat memberiarti kepada hidup manusia. Untuk  dapat memetik hikmah dari kehidupan bersama tersebut seseorang harus tetap berpegangan kepada ajaran dharma, yang  pada  intinya  mengharapkan  agar dalam kehidupan di muka bumi  ini seseorang harus selalu mengukur diri sendiri. Setiap akan melangkah, seseorang   diharapkan   bertanya   pada dirinya sendiri, apakah yang di lakukan tersebut jika ditujukan kepada dirinya sendiri akan menyebabkan atau memberi akibat baik atau buruk. Itulah rahasia sederhana yang diajarkan dalam menempuh hidup bersama untuk memperoleh kesuksesan. Apabila semua  itu direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka tentunya tidak akan ada kesulitan dalam hidup manusia untuk mewujudkan tujuannya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 276).

Hubungan umat manusia dengan alam semesta (lingkungan). Dalam konteks ini umat manusia sangat erat sekali hubungannya dengan alam semesta, seperti yang kita ketahui semua kebutuhan hidup yang diperlukan oleh umat manusia bersumber dari alam semesta dan kita sama-sama merupakan ciptan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam ajaran Tat Twam Asi dijelaskan "kamu adalah aku” yang artinya; kita semua yang ada di alam semesta ini sama- sama merupakan ciptaan-Nya. Perlu kita sadari umat manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta (lingkungan), dalam kitab suci Veda dijelaskan segala kebutuhan hidup umat manusia hampir semuanya berasal dari alam semesta. Sekali lagi, manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta (lingkungan). Seperti yang kita ketahui dari hasil hutan banyak sekali tumbuh-tumbuhan, baik yang bisa kita olah menjadi makanan, obat-obatan, bahan kecantikan, atau untuk bahan bangunan, peralatan mebel dan masih banyak lagi yang lainnya. Dalam kekawin Niti Sastra disebutkan ;

"Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi singa itu juga selalu dijaga oleh hutan, jika singa dengan hutan berselisih, mereka akan marah lalu singa  akan meninggalkan hutan. Hutannya dirusak, dibakar, dibinasakan orang. Pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi gundul. Singa yang  berlarian dan bersembunyi, lari ke tengah-tengah ladang, diserbu orang dan akhirnya binasa”. Manusia diciptakan, dilahirkan, akan selalu berhubungan dengan alam lingkungan dan selalu bersifat saling memelihara antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini manusia memerlukan alam lingkungan sebagai tempat hidup dan alampun perlu dipelihara oleh manusia supaya tidak punah.

Mengingat sangat pentingnya alam semesta (lingkungan) ini marilah kita semua menjaga dan memelihara hutan dan hewan yang ada di sekitar kita. Memelihara hewan, menanam pohon kembali salah satu bukti bahwa kita peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal yang demikian sudah menjadi kodrat yang tak dapat dihindari oleh semua umat manusia di manapun ia berada, sebagaimana disuratkan dalam kitab suci Veda bahwa dunia ini, sengaja diciptakan oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menjadi ”sapi perahan” (kamadhuk), yang dapat mengembangkan hidup manusia. Hal ini juga ditekankan dalam Bhagawadgita sebagai berikut :

"Sahayajnah prajah srishtva puro vacha prajapatih anena prasavishya dhvam asha vo stv istha kamadhuk ”, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 277).

Terjemahan:

"Pada masa yang silam Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta  atas dasar yadnya (cinta kasih dan pengorbanan) dan bersabda; "Dengan ini engkau akan berkembang biak, jadikanlah bumi ini sebagai sapi perahan yang memberi kehidupan kepada umat manusia" (Bhagawadgita III. 10).

Dengan kata lain, jagat raya ini adalah sumber artha (kebutuhan hidup) manusia. Contoh riil akan peran bumi sebagai sapi perahan (ibu) bagi segala kehidupan (termasuk manusia) yang ada di bumi, sangat mudah kita tunjukan misalnya: manusia memerlukan makanan bisa didapatkan dari tanaman padi yang tumbuh di bumi ini, kita perlu ikan, daging dan yang lainnya dapat kita peroleh dari di bumi ini. Contoh lain disamping makanan, manusia perlu sandang yang juga diperoleh dari hasil bumi. 

Sepanjang sejarah manusia tidak dapat menciptakan kehidupan atau makhluk hidup yang semuanya adalah merupakan kuasa-Nya. Yang sering kita lihat adalah keberhasilan manusia untuk mengadakan kreasi dari ciptaan Yang Maha Esa, seperti adanya usaha penyilangan, sehingga dari usaha tersebut mendapatkan jenis hewan atau tanaman yang memiliki ragam yang lain dari ragam aslinya.

Dengan kenyataan ini, tentunya tidak tepat jika kita menyatakan sebagai pencipta. Oleh karena itu peran bumi tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia, sebab manusia tidak akan bisa bertahan hidupnya jika sumber artha tersebut musnah. Walaupun demikian harta bukan segala-galanya, artinya ia bukan tujuan akhir (utama) bagi hidup manusia. Harta adalah sarana untuk menunjang kehidupan manusia dalam usaha untuk mencapai tujuan yang sejati. Jika boleh diumpamakan lalu lintas laut, maka harta adalah air laut itu sendiri, yang digunakan sebagai perantara bagi perahu, guna untuk mencapai pulau harapan. Dalam kaitan ini perlu diingat bahwa dalam penggunaan perantara tersebut, perlulah adanya suatu logika tertentu, sehingga perahu tersebut tidak tenggelam, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 278).

Begitu juga hasil penggunaan harta, maka ia harus memperhatikan ajaran- ajaran dharma, sebagaimana ditekankan dalam seloka berikut :

”Kamarthau lipsamanastu dharmamevaditascaret, nahi dharmadapetyarthah kamo vapi kadacana”.

Terjemahan:

"Pada hekikatnya, jika harta dan kama hendak dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tidak tersangsikan lagi pasti akan diperoleh harta dan kama itu nanti, tak akan ada artinya jika harta dan kama diperoleh menyimpang dari dharma", (Sarasamuccaya, 12).

”Yatha yatha hi purusah kalyana ramate manah tatha tathasya siddhyanti sarvartha natrasamsayah”.

Terjemahan:

"Setiap orang baik orang kaya berkecukupan atau orang miskin sekalipun, selama melaksanakan dharma sebagai kesenangannya niscaya tercapai apa yang diusahakan (Sarasamuccaya 17)".

Melalui penjelasan pada sloka tersebut di atas, tentunya orang tidak akan semena-mena menikmati alam semesta ini. Jika kondisi yang demikian dapat diciptakan, tentu tak akan ada praktik-praktik pembabatan liar (ilegal loging), pencemaran/ polusi udara, termasuk polusi spiritual. Sebagai pengamalan dari ajaran tersebut dalam praktik kehidupan beragama sehari-hari kita mengenal adanya rerahinan atau upacara tumpek seperti tumpek wariga, tumpek kandang tumpek landep dan juga upacara pakelem, pecaruan dan lain-lain. Semua upacara tersebut pada dasarnya adalah upaya (spiritual) pelestarian lingkungan, dan bukan merupakan bentuk-bentuk praktik ”totemisme” ataupun ”dinamisme”, sebagaimana yang sering dinilai oleh pihak-pihak yang tidak mengetahui secara pasti dan mendalam makna upacara tersebut.

Demikian dasar-dasar ajaran yang perlu kita perhatikan dalam rangka hubungan manusia dengan alam semesta dan segala isi ataupun kondisinya. Jika semua ini dapat diamalkan dalam peri kehidupan  sehari-hari,  pasti tidak akan ada masalah-masalah tentang lingkungan hidup, sebagaimana yang dikhawatirkan dewasa ini. Contoh pelaksanaan upacara yang berkaitan dengan alam semesta yang dirayakan pada Hari Raya Galungan. Hari Raya Galungan merupakan piodalan jagat atau oton bumi, yang dilaksanakan  pada hari rabu kliwon wuku dungulan, yang jatuh pada tiap-tiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari sekali, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 279).

Dari beberapa makna yang terkandung di dalamnya, Hari Raya Galungan merupakan peringatan dan perayaan tegaknya dharma di atas adharma. Berdasarkan atas tradisi dikenal adanya dua versi tentang perayaan Hari Raya Galungan diantaranya adalah: Tradisi di Bali menghubungkan sejarah Hari Raya Galungan dengan runtuhnya kerajaan Mayadanawa. Di samping itu ada juga yang menghubungkan dengan Raja Jayapangus menerima wahyu dari Bhatari Durga tatkala beliau bersemedhi atau bertapa, agar Hari Raya Galungan dirayakan oleh masyarakat Bali.

Tradisi di India mengaitkan tentang sejarah perayaan Hari Raya Galungan (Durgapuja, Navaratri, Dussera  atau  Dasahara)  yang  jatuh  pada  tanggal, 1 sampai dengan 10 paro terang bulan Aswasuji atau Asuji (September- Oktober) yaitu untuk memperingati kemenangan dharma terhadap adharma, upacara ini untuk menghormati kemenangan Sri Rama melawan Ravana yang disebut juga Dasamukha (berkepala sepuluh). Konon Sri Rama berhasil jaya oleh karena anugrah Devi Durga, karena itu sebagai umat Hindu memuja-Nya pada hari tersebut sebagai Durgapuja.

Versi lain menyebutkan sebagai kemenangan Sri Kresna melawan raksasa Narakasura. Upacara yang berlangsung 10 hari ini, sembilan hari pertama disebut Vijaya Dasami. Hari raya yang disebut juga Dussera ini mirip dengan Galungan dan Kuningan di Indonesia.

Tumpek wariga merupakan hari upacara untuk tumbuh-tumbuhan, sebagai ungkapan puji syukur terhadap Hyang Widhi Wasa  (Tuhan  Yang Maha Esa) karena beliau telah menciptakan tumbuh-tumbuhan atau hutan demi kelangsungan hidup umat manusia. Tumpek kandang merupakan upacara untuk semua hewan atau binatang, sebagai ungkapan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) karena beliau telah menciptakan hewan seperti yang telah kita nikmati untuk kebutuhan makanan demi untuk kelangsungan hidup umat manusia. Di satu sisi, umat Hindu dilarang membunuh (ahimsa), tapi di sisi lain umat Hindu sering membunuh binatang atau hewan. Dalam Slokantara 59 dijelaskan, himsa (membunuh) itu dibolehkan untuk dipersembahkan atau untuk mempertahankan diri. Himsa itu bisa dilakukan dalam beberapa hal berikut :
  1. Deva Puja yaitu untuk upacara keagamaan atau dipersembahkan untuk kepentingan Yadnya dan lain-lain.
  2. Atithi Puja, yaitu untuk disuguhkan kepada tamu.
  3. Walikrama Puja, yaitu untuk upacara korban pecaruan (Bhuta Yadnya).
  4. Untuk melindungi diri dalam keadaan perang dan lain-lain, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 280).

Perlu diketahui sebelum hewan dipotong hendaknya terlebih dahulu didoakan, adapun doanya sebagai berikut;

“Om pasu pasàya wimahe sirascadaya dhimahi tano jiwah pracodayat.
Om Santih, Santih, Santih, Om".

Terjemahan:

"Semoga atas perkenan dan berkah-Mu, para pemotong hewan dalam upacara kurban suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan, hamba memotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci". (Ngurah, IGM. 2003 : 14).

Diharapkan agar hewan yang dikorbankan untuk dipersembahkan, taraf hidupnya akan lebih meningkat atau lebih baik. Dengan demikian ajaran    Tri Hita Karana sangat tepat bagi umat Hindu sebagai pedoman dalam melestarikan alam semesta. Karena antara yang satu dengan yang lainnya sangat berhubungan erat bahkan bahkan tidak dapat dipisahkan. Terjadinya hubungan tersebut disebabkan oleh adanya unsur atman dalam diri manusia, di mana unsur tersebut berasal dari Parama Atman (Tuhan Yang Maha Esa). Kondisi inilah yang menyebabkan manusia selalu tertarik untuk berhubungan (menyembah) Tuhan Yang Maha Esa. Jika dibandingkan dengan magnet elementernya (bagian, potongan). Sesuai dengan hukumnya, maka magnet inti yang memiliki daya tarik yang lebih besar, akan menarik magnet yang memiliki sifat lebih kecil. Hal inilah yang cenderung menyebabkan manusia ingin atau rindu mencari atau berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (asal dan akhir tujuan hidupnya). Dalam kaitan ini Upanisad sering mengumpamakan dengan sungai; yang dengan penuh kerinduan ingin bertemu dengan laut, asalnya.

Demikianlah manusia senantiasa rindu ingin bertemu dengan Tuhannya, dan selalu ingin merealisasikan kerinduannya dengan berbagai cara, sesuai dengan kemampuannya. Ada yang melalui pemasrahan diri kepada-Nya (bakti marga) jalan karma (karma marga), jalan ilmu pengetahuan (jnana marga) ataukah ajaran Yoga (yoga marga). Setiap jalan itu tersebut memiliki keistimewaannya masing-masing, dan setiap cara tersebut mulia pada tempatnya masing- masing. Hubungan ini merupakan hubungan yang sengaja dijalin untuk dapat mewujudkan tujuan hidup manusia; yakni ”amor ing acintya ”, luluh dengan asal manusia (kehidupan).

Pencapaian tujuan tersebut sangat penting, sebab kondisi yang demikian akan membebaskan manusia dari kesengsaraan hidupnya. Tentunya pencapaian tujuan tersebut diupayakan melalui tahapan tertentu, dari yang bersifat fisik (material) hingga hubungan yang sifatnya spiritual (abstark), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 281).

Hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa misalnya, tahap awal diupayakan dengan meluluhkan ”ego” (ahamkara ), sebab hanya dengan demikian seseorang akan dapat memberi pengakuan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha segala-galanya; di lain pihak luluhnya ego menyebabkan seseorang mengakui kemampuannya (jika dibandingkan dengan kemampuan Tuhan Yang Maha Esa), terbatas adanya. Pengakuan tersebut mendorong manusia tunduk dengan segala hukum yang ditentukan oleh-Nya. Dengan adanya pengakuan tersebut maka seseorang dijauhkan dari kesombongan yang cenderung menggiring seseorang untuk berperilaku yang tidak baik, yang akan merugikan manusia itu sendiri.

Menyadari adanya akibat tersebut, maka kita perlu senantiasa selalu berhubungan dengan-Nya, sehingga berangsur-angsur kita akan memperoleh ” pencerahan ”. Yang memungkinkan kita untuk mengenal hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik yang mendorong tercapainya tujuan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berusaha dengan segala kemampuannya sendiri. Sebagai manusia yang menyadari dirinya terbatas dan memiliki kekurangan, maka diperlukan kekuatan lain yaitu dengan menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu melalui :
  1. Yadnya yang dilakukan setiap hari ( Yadnya sesa ) atau masegeh;
  2. Melakukan sembahyang setiap hari atau berdoa;
  3. Melakukan Yadnya (Deva Yadnya);
  4. Melaksanakan Naimitika Karma, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 282).

Renungan Bhagawadgita.III.9

”Yajnaarthat karmano nyatra loko yam karma bandhanah Tadrtham karma kauateya mukta sangah samachara”

Terjemahan:

“Kecuali untuk tujuan bakti dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja, karenanya bekerjalah demi bakti tanpa kepentingan pribadi".

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: