Pengertian Dasa Nyama Brata (Bratha) dan Penjelasannya

MUTIARAHINDU -- Ajaran Dasa Nyama Bratha; Kata Dasa Nyama Bratha berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata dasa berarti sepuluh dan nyama bratha berarti pengendalian rohani. Dasa nyama bratha berarti Sepuluh pengendalian diri dalam tingkat mental atau rohani.

Pengertian Dasa Nyama Brata (Bratha) dan Penjelasannya
Image; art_taksu
Dasa Nyama Bratha adalah sepuluh macam atau jenis pegangan bagi manusia yang hendak mencapai kesempurnaan batin melalui pengamatan hidup di dunia ini (Wigama, dkk, 1995:75). Bila kita cermati secara arif sesungguhnya ke sepuluh pegangan batin itu merupakan sadana melaksanakan dharma untuk mencapai tingkatan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut moksa. Pengamalan dari ajaran dasa nyama bratha tersebut di dunia inilah tempatnya. Selama manusia hidup dan berkehidupan memiliki kewajiban moral mempertahankan dan menumbuh kembangkan sifat dan sikap berbudi luhur. Sebab dari perilaku manusia dalam kehidupannya sehari-hari inilah dapat diketahui tingkatan keluhuran mental manusia itu sendiri. Oleh karena itu orang dinilai memiliki mental baik, bermental sehat dan utama hanya dapat diperhatikan dari cara seseorang berperilaku, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 307).


Untuk mendapatkan mental yang baik, sehat dan utama sebagai langkah awalnya adalah seseorang wajib dapat menghayati dan mengamalkan ajaran yang menjadi anjuran dalam dasa nyama brata, seperti misalnya; pengekangan terhadap hal-hal yang negatif, pengekangan terhadap jasmaniah, pengekangan terhadap kata-kata atau suara, pengekangan terhadap makan dan minum, disertai dengan tekun mempelajari kitab suci Veda dan ilmu lainnya yang bersifat umum, tekun bersembahyang atau melakukan pemujaan kepada sang hyang widhi wasa, kepada para Deva atau leluhur dibarengi pula dengan pembersihan diri berupa mandi setiap pagi, siang dan petang hari serta beramal atau melakukan dana punia yaitu suka berdharma atau amal sedekah kepada orang lain dan sesama hidup.

"Sasi wimba haneng ghata mesi banu Ndanasing, suci nirmala mesi wulan Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin Ring ambeki yoga kiteng sakala".

Terjemahan:

"Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air, di dalam air yang jernih tampaklah bulan, sebagai itulah dikau (Tuhan) dalam tiap makhluk, kepada orang yang melakukan Yoga engkau menampakkan diri", (Arjuna Wiwaha 11.1).

Baca: Tujuan dan Manfaat Ajaran Dasa Nyama Bratha(Brata) dalam Pembentukan Kepribadian dan Budi Pekerti yang Luhur

Itulah jenis pengendalian yang harus dilakukan untuk mendapatkan  tingkatan mental yang sempurna dan kesucian batin sebagai dasar manusia dapat melaksanakan dharma. Dengan demikian jelaslah bagi  manusia  bahwa pembenahan diri ke dalam harus dilakukan terlebih dahulu dengan pengekangan terhadap bagian tubuh, setelah itu baru pembenahan diri keluar terhadap orang lain. Kitab suci veda menjelaskan sebagai berikut;

Svasti panthām anu carema sùryā-candramasāv iva, punar dadatāghnatā
jānatā saý gamemahi".

Terjemahan:

"Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya matahari dan bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang-orang yang bermurah hati yang puas (dengan diri sendiri) dan yang berpengetahuan tinggi" (Rgveda V.51.15), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 308).

Seseorang hendaknya selalu mengikuti jalan yang benar, jalan kebajikan, sebab siapa saja yang berjalan di jalan yang benar (dharma) akan memperoleh kemakmuran, jasa dan kebajikan. Dekatkanlah diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk senantiasa mendapat bimbingan-Nya. Orang yang memiliki keyakinan menjalankan kebenaran, maka kebajikan itu akan melenyapkan kesusahannya dan akhirnya dengan kebajikan mereka dapat menolong diri sendiri.

Sungguh utama ajaran Dasa Nyama Bratha itu, karena siapapun yang dengan tulus menekuni ajarannya dapat menjadikan sifat-sifat dan perilakunya menjadi mulia. Ajaran Dasa Nyama Bratha dapat membangun mental spiritual umat manusia guna terbebas dari berbagai macam rintangan yang sedang dan akan dihadapi dalam hidup dan kehidupan ini. Kewajiban kita hidup adalah menuntaskan berbagai masalah yang sedang menantang hidup ini. Pembenahan lahir (wahyu) diperoleh dengan ajaran Dasa Nyama Bratha. Sedangkan brata (adhyatmika) diperoleh dengan pengekangan, pantangan serta beberapa anjuran yang dijelaskan dalam ajaran Dasa Nyama Bratha.

Kesucian hati menyebabkan seseorang memperoleh kebahagiaan, dengan menghancurkan pikiran atau perbuatan jahat. Orang-orang yang memiliki kesucian hati dapat mencapai surga dan bila kita berpikiran  jernih  serta suci, maka kesucian itu akan mengelilingi kita. Kesucian atau hidup suci diamanatkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kitab suci veda menjelaskan tentang kesucian sebagai berikut ;

“Yaá potā sa punātu naá",

Terjemahan:

“Tuhan Yang Mahaesa, Sang Hyang Widhi adalah Hyang Maha suci, semoga menyucikan hati kami” (Rgveda IX. 67. 22).

Baca: Contoh Penerapan Dasa Nyama Bratha dalam Kehidupan Dalam Agama Hindu

Untuk dapat mewujudkan kesucian diri, menjaga dan menumbuhkembangkan ketenangan hati sangat perlu adanya dengan demikian tidak akan ada emosi yang datang dari perasaannya. Untuk dapat dengan mudah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, ketenangan hati sangat diperlukan dalam kehidupan. Kejujuran (satya) dalam hidup ini, termasuk setia akan janji,  setia pada ucapan, setia akan kebenaran (dharma) juga sangat dibutuhkan dalam hidup dan kehidupan ini. Karena hidup yang bersandarkan kebenaran, kejujuran, dan kesucian itulah yang akan dapat mewujudkan kebahagiaan yang murni pada setiap orang, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 309).

Renungan Sarasamuçcaya, 260

“Dànamijyà tapo dhyànam Swādhayàyopasthanigrahah,
Wratopawasa maunam ca ananam Ca niyama daca". 

Terjemahan:

"Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut Nyama, perinciannya; dana, ijya, tapa, dhyana, swadhyaya, upasthaninggraha, brata, upawasa, mona, stana, itulah yang merupakan Nyama".

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: