Pengertian Dan Fungsi Ajaran Dasa Yama Brata

MUTIARAHINDU -- Kata Dasa Yama Bratha sejatinya adalah berasal dari bahasa sanskerta yakni dari kata Dasa berarti sepuluh dan Yama Bratha berarti pengendalian diri untuk menjadi sejahtera dan bahagia berdasarkan Dharma. Dasa Yamabrata adalah sepuluh macam brata pengendalian diri secara (lahir dan bhatin) untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia berlandaskan Dharma (Wigama, dkk, 1995:131). 
Pengertian Dan Fungsi Ajaran Dasa Yama Brata Dalam Agama Hindu
Image; sesuhunan.bali

Kitab suci veda menjelaskan sebagai berikut;

"Ariútaá sa marto viúva edhate
pra prajābhir jāyate dharman pari, 
yam ādityāso nayathā sunitibhir ati viúvāni duritā svastaye".

Terjemahan:

"Wahai Deva-matahari, semua umat manusia yang Engkau alihkan dari jalan kejahatan, menempuh ke jalan yang berbudi, diberkahi dengan kemakmuran dan juga dilimpahi dengan keturunan (generasi) yang berbudi luhur, berkat sikap keagamaan mereka" (Rgveda X. 63. 13).


Ajaran Dasa Yama Bratha merupakan suatu ajaran tata susila atau ajaran etika yang berfungsi untuk membina dan menempa watak pribadi maupun budi pekerti yang luhur bagi setiap umat manusia. Di dalam kehidupan sehari- hari setiap orang perlu berusaha untuk mengendalikan diri, agar tidak terjadi benturan-benturan di dalam masyarakat. Tanpa adanya usaha pengendalian diri dari masing-masing individu, maka masyarakat tidak akan tenteram dalam hidupnya. Untuk ketenangan, kenyamanan, kententeraman dan kedamaian masyarakat itulah maka setiap anggota masyarakat perlu memedomani dan melaksanakan ajaran Dasa Yama bratha dalam segala aktivitasnya di dunia ini, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 289-290).

Setiap individu dalam hidup bermasyarakat hendaknya selalu berupaya; tidak hanya mementingkan diri sendiri saja, patut tahan akan panas dan dingin, tidak berkata bohong, berbuat untuk bahagianya makhluk lain, sabar serta dapat menasihati diri sendiri, tulus hati dan berterus terang, bersikap welas asih dengan sesama, menjaga kejernihan hati, berpenampilan dengan pandangan manis (muka manis) dan manis perkataan, dan kelembutan hati.


Ajaran dasa yama bratha adalah ajaran tentang sepuluh macam pengendalian diri yang ada hubungannya dengan perbuatan manusia yang berbudi-pekerti luhur, sebagaimana yang termaktub dalam kitab saracamucchaya sloka 259. Ajaran dasa yama bratha ini merupakan pegangan hidup bagi manusia yang hendak mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia. Hal ini dapat dibaca dalam ajaran anrsangsyanya, yang mengajarkan cara manusia hidup saling bantu membantu, harga menghargai dalam hidup bersama, karena dapat disadari bahwa setiap orang itu memiliki kelemahan, kekurangan, dan kelebihan. Pada kondisi seperti inilah diharapkan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Di samping itu ajaran kesabaran menjadi bagian dasa yama bratha ini, yang mengajarkan manusia agar memiliki ketenangan hati dalam menghadapi persoalan hidup sehingga dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.

Demikian pula satya yaitu konsekuen menepati janji, berarti  pula  cinta  akan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Orang satya adalah disiplin, bertanggung jawab dengan janji atau ucapannya. Karena dengan hidup menempati janji atau sesuai dengan ucapan itu akan terwujud kebahagiaan hidup, sebaliknya tanpa demikian permasalahan yang akan terjadi. Hal ini didukung oleh ajaran dama, yang mengajarkan orang mampu menasehati dirinya sendiri untuk mencapai kesadaran bahwa menasehati diri sendiri sebelum berbuat adalah sangat penting, sebagai  pedoman  selanjutnya  untuk bertindak lebih sempurna. Dari sini pula perkembangan ahimsa yang menginginkan kesejahteraan hidup bersama sesuai dengan ajaran priti, welas asih kasih sayang kepada semua makhluk yang harus didasari oleh ajaran prasada, madurya dan madarwa.

Dengan mengedepankan sikap dan pandangan yang demikian, setiap individu yang bermasyarakat akan dapat mewujudkan ketenangan, kententeraman, kedamaian keabadian, dan usia yang panjang dalam hidupnya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 290).

Renungan Sarasamuçcaya, 258. hal.194

"na nityam niyamān budhāh, Yamān patatyasevam hi niyamān kevalām bhayan.
Lawan yama ikang prihën nityaca gawayakëna, kunëng ikang niyama, wënang ika tan lenggëngën gawayakëna, apan ika sang manëkët gumawayakën ikang niyama, tatān, yatna ri kagawayaning yama, tibā sira ring nirayaloka".

Terjemahan:

Dan yama (pengekangan diri) haruslah diusahakan, senantiasa dilaksanakan; adapun niyama (janji diri) dapat tidak secara tetap dilaksanakan; sebab orang yang yakin melaksanakan niyama, sedangkan “yama” diabaikan, orang yang demikian akan jatuh di narakaloka

"Dakûióāvanto amåtaý bhajante, dakûióāvantaá pra tiranta āyuá". 

Terjemahan:

"Orang-orang yang bermurah-hati mencapai keabadian, merekamemperpanjang usia mereka" (Ågveda I. 125.6).


Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015


Subscribe to receive free email updates: