Contoh Penerapan Dasa Nyama Brata (Bratha) dalam Kehidupan

MUTIARAHINDU -- Ketenangan, kedamaian atau ketenteraman batin adalah sesuatu yang menjadi dambaan setiap makhluk yang dilahirkan ke dunia ini. Lingkungan yang nyaman tidak hanya diharapkan oleh umat manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang pun juga memerlukan kedamaian itu. Demikianlah veda sumber ajaran agama kita mengajarkan kedamaian didambakan untuk semuanya, utamanya lingkungan sekitar kita. Kedamaian yang sejati adalah bersatunya àtman sebagai sumber hidup setiap makhluk dengan Brahman/Tuhan Yang Maha Esa. Kedamaian bukan hanya untuk saat ini, diri sendiri, tetapi juga untuk masa yang akan datang, orang lain atau masyarakat. Bagaimana kedamaian itu dapat terwujud dalam kehidupan ini? ada baiknya simaklah cerita berikut ini!

Contoh Penerapan Dasa Nyama Brata (Bratha) dalam Kehidupan
Image; tujacreative
Bala Deva dan Narayana Sang Penyelamat Dunia

Dahulu kala hidup seorang raksasa Sang Kangsa namanya. Sang Kangsa adalah raksasa yang berwatak tidak baik. Ia suka membuat huru-hara dan melakukan penganiayaan terhadap Bangsa Yadawa. Sang Kangsa memiliki istri bernama Devi Asti dan Devi Prapti. Kedua putri ini adalah putra dari Prabhu Jarasanda, seorang raja dari Negeri Widarbha. Prabhu Jarasanda terkenal sangat kebal terhadap segala macam jenis senjata, karenanya seluruh raja yang ada dimuka bumi ini takut padanya. Perkawinan Sang Kangsa dengan putri Prabhu Jarasanda menyebabkan tabiat tidak baik dari Sang Kangsa menjadi semakin bertambah, karena merasa memiliki pelindung seorang raja yang sakti dan ditakuti oleh seluruh raja yang ada di muka bumi ini. Begitulah dikisahkan, bahwa nafsu angkara murka Sang Kangsa semakin berkobar-kobar, kebengisannya semakin bertambah. Kegemarannya menganiaya Bangsa Yadawa dengan tidak mengenal prikemanusiaan semakin menjadi-jadi, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 328).

Sang Kangsa belum puas dengan tindakannya sebatas membabat Bangsa Yadawa saja, maka segera ia memerintahkan kepada prajuritnya untuk menaklukkan Negeri Boja. Perintah  Sang  Kangsa  kepada  prajuritnya,  “Hai tentaraku sekalian, dengarkanlah ini titah rajamu! Aku Kangsa belum merasa puas dengan keadaan seperti sekarang ini. Aku ingin menaklukkan raja-raja di seluruh permukaan bumi ini. Untuk itu, pertama-tama aku ingin menghancurkan Negeri Boja. Tunjukkanlah keberanian, keperkasaanmu sebagai prajurit raksasa dalam peperangan nanti. Laksanakanlah segera titahku ini!”. Setelah mendapatkan titah demikian, para prajurit raksasa mempersiapkan perlengkapan perangnya selanjutnya segera berangkat hendak menyerbu Negeri Boja. Para raja bangsa Negeri Boja yang tidak mau tunduk segera dibunuh, karena memang demikianlah tabiat asli Sang Kangsa. Tiada henti-hentinya mereka mengejar para raja bangsa Boja. Ke manapun mereka melarikan diri, yang berhasil mereka tangkap dan dianiaya.

Karena tingkah laku Sang Kangsa menimbulkan ketakutan sekalian para raja, para kesatri a dan Bangsa Boja. Lebih-lebih lagi para kawula kecil, ketakutan itu senantiasa mencekam hatinya. Tempat tinggal mereka bukan lagi merupakan tempat yang aman, tetapi sudah merupakan neraka. Oleh karena daerah tempat tinggal mereka bukan lagi merupakan tempat tinggal yang nyaman, lalu selanjutnya mereka melarikan diri entah ke mana, tidak tentu arah dan tujuannya. Ke mana kaki melangkah, ke sanalah menuju, yang penting dapat meloloskan diri. Itulah yang terlintas dalam benak dan pikirannya.

Di antara orang-orang yang melarikan diri ada yang menceburkan diri ke laut, selain itu ada pula yang menceburkan diri ke dalam jurang, dan ada yang melarikan diri ke dalam hutan kemudian bersembunyi di dalam gua- gua untuk menyelamatkan dirinya, akan tetapi akhirnya ia mati juga diterkam dan dimangsa oleh binatang buas. Alangkah sengsaranya seluruh Bangsa Boja pada waktu itu oleh perbuatan bengis Sang Kangsa dan pengikut-pengikutnya. Sementara huru-hara itu terus berlangsung karena Sang Kangsa dan pengikut- pengikutnya terus mengadakan pengejaran terhadap raja-raja Bangsa  Yadawa yang terus melarikan diri. Akhirnya banyak raja bangsa Boja berikut keluarganya datang ke Negeri Dwaraka (Dwarati) meminta perlindungan kepada Sri Narayana,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 329).

Sri Narayana terkejut karena kedatangan pengungsi raja Bangsa Boja berikut keluarganya, kemudian menyapanya. “Wahai tuan-tuan raja dan kesatria Bangsa Boja, kenapa gerangan datang berduyun-duyun kemari dengan disertai keluarga? Apakah yang telah terjadi atas negeri tuan?” Demikianlah Sri Narayana menyapanya.

Baca: Pengertian Dasa Nyama Brata (Bratha) dan Penjelasannya

“Ampun tuanku, Sri Narayana. Tuanku adalah perwujudan Wisnu di jagatraya ini. Tuanku adalah pelindung jagatraya ini dari segala kehancurannya. Tuanku juga pengayom kawula kecil yang lemah. Oh, tuanku yang maha kasih, tuanku adalah penyayang segala yang ada ini. Hamba sekalian datang untuk memohon belas kasihan tuanku yang mulia. Sudi kiranya paduka tuanku melindungi kami dan bangsa kami dari kehancuran. Saat ini bangsa kami diserang oleh Sang Kangsa yang biadab itu”.

“Duhai saudara-saudaraku Bangsa Boja, hatiku menjadi sedih dan haru mendengar ucapan kalian. Oh Sang Hyang Widhi, lindungi dan tabahkanlah hati umat-Mu dari kebengisan Sang Kangsa. Dan si Kangsa tak jemu-jemunya kau menyusahkan dunia, maka sudah sepatutnya engkau mendapat hukuman dari Sang Hyang Widhi. Aku akan datang untuk membunuhmu”. Demikianlah Sri Narayana berkata sambil menggertakkan giginya.

Kemudian para pemimpin/kesatria Bangsa Boja bermohon lagi sambil menangis. Oh, Paduka tuanku, tuluskanlah kasih paduka tuanku kepada kami. Bunuhlah si Kangsa dan seluruh pengikutnya dari muka bumi ini agar Bangsa Boja dapat hidup tenang kembali. Kami merasa sangat kasihan menyaksikan nasib bangsa kami dari penganiayaan si Kangsa. Hanya sedih yang dapat kami lakukan terhadap derita bangsa kami. Sedangkan untuk membebaskannya, kami tidak punya kemampuan untuk itu. Hanya pada tuanku kami temukan kekuatan itu untuk melenyapkan si Kangsa yang biadab. Karena itu, padamu kami berlindung”.

Mendengar permohonan para kesatria dan pemimpin Bangsa Boja yang sangat memilukan hati, Sri Narayana dan Sang Kakarsana (BalaDeva), menjadi terketuk hatinya. Sri Narayana dan Sang Kakarsana menyanggupi untuk memberikan pertolongan. Keduanya sudah sepakat hendak melawan Sang Kangsa, kendatipun keduanya hancur menjadi abu. “Kakang Mas Kakarsana, kita tidak dapat membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Mari segera kita hancurkan si Kangsa sebelum Bangsa Boja hancur oleh ulahnya yang tidak mengenal perikemanusiaan”. “Baik Dimas, Kakang sudah muak dengan tingkah lakunya yang menjadi semakin biadab. Ayo Dimas, mari kita berangkat. Tunggu apa lagi”,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 330).

Setelah berkata demikian, kedua kesatria muda itu berangkat lengkap dengan senjatanya masing-masing. Matanya merah sebagai tanda murka yang luar biasa. Namun sebelum berangkat, beliau mempersilakan tamunya beristirahat. Sang Sri Narayana dan Sang Kakarsana, keduanya adalah merupakan buruan Sang Kangsa, karena keduanya dianggap penghambat perwujudan cita-citanya menaklukkan seluruh raja yang ada di permukaan bumi ini. Karena itu, begitu ia melihat keduanya, Sang Kangsa sangat senang hatinya.

Kemudian berkata :

“Hai penjahat-penjahat kecil, pucuk dicinta ulam tiba. Engkau yang kucari- cari selama ini tidak ketemu, di mana saja engkau bersembunyi? Tetapi tidak dicari rupanya engkau datang untuk mengantarkan nyawa, sehingga aku tidak usah payah-payah mencarimu lagi”. Demikianlah Sang Kangsa berkata dengan sangat senangnya sambil tertawa terbahak-bahak. Namun tidak sedikitpun Sri Narayana dan Sang Kakarsana gentar mendengarkan kata-kata Sang Kangsa karena memang sudah bulat hatinya untuk melawan. Kemudian balik mereka berkata :

“Hai manusia jahanam berhati iblis. Rupanya engkau pandai memutarbalikkan fakta. Aku, kau katakan penjahat cilik, apakah itu tidak sebaliknya? Bukankah engkau penjahat besar yang telah mengganggu dan merusak tatanan masyarakat? Bukankah engkau adalah pengganggu ketenteraman masyarakat? Engkaulah semua itu. Jadi bukan aku. Karena itu, sudah sepantasnya engkau dilenyapkan dari muka bumi ini. Kedatangan ku kemari adalah untuk itu, bukanlah untuk mengantarkan nyawa sebagai katamu itu”. Demikianlah kata- kata Sri Narayana.

Sang Kangsa yang sangat kegirangan melihat kehadiran Sang Sri Narayana dan Sang Kakarsana mendadak menjadi merah padam mukanya mendengar kata-kata pedas Sri Narayana. Timbullah kemarahannya yang luar biasa. Dan berkata : 

“Hai anak-anak kemarin sore, berani engkau berkata sombong di hadapanku. Mustahil engkau dapat mengalahkan kesaktianku. Lihatlah berapa banyak para raja telah dapat aku taklukkan, apalagi engkau yang baru kemarin sore, belum apa-apa bagiku, tanganku sebelah saja dapat memecahkan kepalamu”.

“Hai perusak ketenteraman masyarakat, mungkin di hadapan raja-raja yang telah kau taklukkan, kau dapat berkata sombong. Akan tetapi di hadapanku engkau tidak boleh berkata begitu”.

Setelah berkata demikian, Sang Baladeva dan Sri Narayana bersiap dengan senjatanya masing-masing. Sedangkan Sang Kangsa yang hatinya sedang terbakar oleh kemarahannya karena merasa dihina oleh orang yang masih terlalu muda, dengan sangat bernafsu ingin membunuh Sang BalaDeva dengan Sri Narayana. Hal ini juga didorong karena andal dengan kesaktiannya sehingga meremehkan musuh yang sedang dihadapinya. Sang Kangsa  segera maju hendak meraih tangan Sri Narayana, namun dengan tangkasnya Sang Kakarsana mengayunkan senjata pegangannya ke dada Sang Kangsa. Bersamaan dengan itu Sri Narayana yang telah bersiap-siap kemudian melepaskan senjatanya. Masing-masing senjatanya tepat mengenai dada,  (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 331).

BacaTujuan dan Manfaat Ajaran Dasa Nyama Bratha (Brata) dalam Pembentukan Kepribadian dan Budi Pekerti yang Luhur

Demikianlah Sang Kangsa terbunuh, karena terlalu menyombongkan diri akan kesaktiannya, tidak beradab dan selalu menyakiti sesamanya. Karena keangkuhannya maka kesaktiannya lenyap begitu rupa. Hal ini pertanda bahwa Sang Hyang Widhi tidak berkenan bila di antara ciptaan-Nya, saling tidak memperhatikan, saling merusak dan selalu bertindak adharma. Setiap saat ciptaan-Nya dirusak maka setiap saat itu pula beliau berkehendak menyelamatkannya. 

Sri Narayana sesungguhnya adalah utusan Sang Hyang Widhi untuk menyelamatkan dunia beserta isinya dari kehancuran. Dunia dan isinya akan selalu damai serta harmonis bila di antaranya mampu hidup rukun, saling menyayangi dan mengasihi. Begitulah nasib Sang Kangsa (durjana) yang tidak mengindahkan dharma dalam hidupnya, terbunuh oleh Sri Narayana dan Baladeva sebagai penjelmaan “Dharma”. Sikap dan perilaku Sang Kangsa yang demikian tidaklah patut untuk ditiru!, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 332).

Baca: Bagian-Bagian Dasa Nyama Brata atau Bratha

Renungan Atharvaveda XIX. 9. 7

"Utpàtàh pàrtáivàntarikûàh saý no divicarà grahàá".

Terjemahan:

"Semoga semua gangguan terhadap bumi dan langit berakhir.
Semoga planet-planet yang amat menyenangkan memberikan kedamaian kepada kami,".

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: