Contoh Ceritra Tentang Kekuasaan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa Dalam Hindu

MUTIARAHINDU -- Berikut adalah contoh ceritra tentang kekuasaan Tuhan. Tuhan Maha Tahu menciptakan matahari, bulan dan bintang, Ia pula yang menciptakan bumi tempat kita berpijak dan mencari makan. Tuhan Yang Maha Esa Maha Tahu Maha Mendengar, Ia mendengar semua doa kalau diucapkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh.


Contoh Ceritra Tentang Kekuasaan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa Dalam Hindu
Image; warungbusiki
CeritraTukang Sepatu

Di suatu desa hiduplah seorang tukang sepatu yang jujur dan taat kepada ajaran Agama. Setiap hari dari pagi hingga sore dia bekerja menambal sepatu yang sudah tua dan rusak. Dengan cara demikian ia mendapat upah yang cukup untuk keluarganya, dan suatu hari lewatlah seseorang yang kaya raya bernama Wrahaspati. Shoma si tukang sepatu tertegun melihat pakaian Wrahaspati yang terbuat dari sutra dan menaiki seekor kuda layaknya seorang raja, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 282).

"Wah alangkah bahagianya si  Wrahaspati  itu, kekayaan yang berlimpah dan disegani orang. Ia memiliki ribuan hektar tanah pertanian, hidupnya tentu penuh kesenangan. Sedangkan aku, bekerja siang malam memotong kulit dan menambal sepatu yang rusak dan hidupku pas-pasan. Mengapa Tuhan pilih kasih?" demikian dia menyesali dirinya. 

Ketika Shoma memikirkan tentang Tuhan, dia memandang patung Siwa yang ada di atas altar di samping tempatnya bekerja. Shoma lalu duduk di hadapan patung itu dan berdoa: "Ya Tuhan adalah maha kasih, engkau adalah maha tahu, engkau menyaksikan hamba telah bekerja siang dan malam. Hamba memujamu setiap waktu, tidakkah engkau menaruh belas-kasihan kepadaku? Anugerahilah hamba agar hamba memiliki rumah yang bagus, sawah untuk bertani yang cukup untuk keperluan keluarga hamba", demikianlah doanya dengan penuh perasaan.

Ada sesuatu yang aneh, pada waktu Shoma mengucapkan kata-kata permohonannya itu, dia melihat patung Deva Siwa seperti hidup dan tersenyum kepadanya. Shoma yakin tentu doanya didengar oleh Deva Siwa, tetapi mengapa Beliau tersenyum ? itulah yang menjadi tanda tanya dalam dirinya.

Tentang Wrahaspati yang kaya raya itu, dia adalah pemuja Deva Siwa yang taat juga. Dia sangat baik hati dan suka menolong orang lain. Malam hari setelah pulang dari berkeliling desa, iapun cepat tidur karena lelah. Dalam tidurnya dia mimpi bertemu Deva Siwa. "Wrahaspati, buatkanlah rumah yang bagus untuk Shoma si tukang sepatu, berikan dia dua hektar tanah pertanian dan satu peti uang emas kepadanya. Shoma adalah salah seorang pemujaku yang taat", demikian pesan Deva Siwa dalam mimpinya.

Besok paginya setelah Wrahaspati terbangun segera melaksanakan perintah Deva Siwa yang dia terima melalui mimpinya itu. Shoma hampir tidak percaya dengan keberuntungan itu, diapun mengubah kebiasaan hidupnya dari seorang tukang sepatu menjadi petani. Anak dan istrinya mulai bekerja di sawah mencangkul dan bercocok-tanam. Dia merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan permohonannya. Tapi tidak lama kemudian dia merasakan ada masalah baru yang muncul. Mengetahui bahwa Shoma telah memiliki rumah yang bagus dan besar maka semua sanak familinya berdatangan. Sebagian dari mereka tetap tinggal disana, rumah Shoma jadi ramai, dia tidak lagi bisa tenang bekerja. Sanak saudaranya yang mengetahui Shoma sudah kaya raya ikut menikmati kekayaan itu, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 283-284).

Istri Shoma selalu sibuk melayani sanak familinya mereka, karena dia percaya dengan pesan orang tuanya bahwa tidak boleh menolak tamu dan tamu harus dilayani sebaik-baiknya. Masalah berikutnya adalah mengenai peti uang emasnya. Dia kubur peti uangnya di pojok ruang tidurnya, tetapi dia selalu merasa tidak aman. Dia takut ada orang lain mengetahui dan mencurinya. Shoma tidak berani meninggalkan rumahnya, malam-malam dia tidak bisa nyenyak tidurnya. Mendengar gonggongan anjing dia khawatir, jangan-jangan perampok yang memasuki rumahnya. Sawahnya terbengkelai tidak dikerjakan karena Shoma tidak berani meninggalkan rumahnya, sedangkan istrinya sibuk melayani tamunya. 

Shoma sungguh-sungguh merasa tidak tenang dan tidak nyaman, dia mulai sakit-sakitan karena kurang tidur. Hartanya telah merampas ketenangan dan kebahagiaannya. Kembali dia teringat waktu masih menjadi tukang sepatu, walaupun dia miskin, hanya cukup makan, tetapi hatinya tenang, tidurnya nyenyak dan setiap hari dia bisa menyanyikan kidung pujian kepada Deva Siwa. Setelah menimbang dalam-dalam akhirnya dia (Shoma) memutuskan; sambil sembahyang dengan sebatang dupa dia memohon kepada Deva Siwa ;

"Tuhan yang hamba puja, akhirnya hamba sadar mengapa Engkau tersenyum waktu hamba memohon rumah, harta kekayaan dan tanah. Semua benda-benda itu tidak menambah kebahagiaan hamba, benda-benda itu telah merampas kebahagiaan hamba. Ampunilah keserakahan hamba ini, kembalikanlah hamba kepada pekerjaan hamba semula. Biarlah hamba menjadi tukang sepatu, tetapi hamba bisa memujaMu dengan penuh kebahagiaan. Hidupkanlah rasa bhakti hamba, akan hamba persembahkan hasil kerja ini kepadaMu. Engkau Maha Tahu, apa yang patut dan baik untuk hamba. Bimbinglah hamba menuju jalan yang Engkau kehendaki".

Demikian Shoma menyampaikan permohonan dengan penuh kesungguhan dan berlinang air mata karena terharu. Keesokan harinya Shoma kembali menjadi tukang sepatu, dan semua hartanya dikembalikan lagi kepada Wrahaspati pemiliknya. Ketenangan, kesehatan dan kebahagiaan lebih mulia dari segala harta kekayaan, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 284).

Ceritra “Welas-asih”

Ibu adalah perwujudan Tuhan. Lonceng berbunyi dua belas kali, anak-anak saling mendahului keluar dari ruang kelas ingin cepat-cepat pulang dan sampai di rumah. Di langit masih mendung, setelah turun hujan dan jalanan masih becek sekali. Sebuah desa yang sangat terpencil di pegunungan ini hanya ada jalan setapak yang menghubungkan ke sekolah mereka. Dengan kondisi yang curam dan licin, karena tanahnya tanah liat berlumpur.

Di sebelah sekolah ada seorang ibu tua yang sedang berdiri sambil memegang tongkatnya akan pulang ke rumahnya, sepertinya sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan orang lain. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, tubuhnya yang gemetar, badannya yang lemah, basah dan kelihatan sedih dan putus asa. Dia tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri, menunggu orang yang mau membantunya karena jalan sangat licin. Tak seorang yang lewat menaruh perhatian kepadanya, banyak murid-murid yang melihat tapi dia langsung lari dan ingin cepat-cepat pulang.

Muditha adalah seorang anak dari salah satu siswa tersebut yang kebetulan melihat si ibu tua itu memandang kepadanya dengan penuh harapan yang membutuhkan bantuan. Muditha langsung mendekati si ibu tua sambil berkata; "Ibu, Ibu begitu kelihatan sangat lemah, gemetar dan kedinginan apakah boleh saya membantu Ibu?" Ibu tua itu matanya bersinar karena gembira. Sudah lama ia menunggu mengharapkan pertolongan, tapi tak seorangpun yang menaruh perhatian. Namun tiba-tiba ada seorang anak yang dengan suara penuh kasih sayang, memangil dirinya dengan sebutan  "ibu" dan menawarkan pertolongan.

Si Ibu tuapun lalu berkata; anakku maukah kamu membantu ibu menyeberangi jalan ini, karena jalan sangat licin dan rumah ibu ada di seberang jalan sana. Muditha menghampiri dan memegang  tangan  si  ibu  dan  mengalungkan  di lehernya sambil berkata; "mari ibu kita berjalan pelan-pelan, saya akan menuntun ibu sampai ke rumah". Ketika mereka berjalan berdua si ibu bercakap-cakap dengan Muditha, dengan nada yang penuh kasih. Si ibu menanyakan nama, rumah dan orang tuanya dan dijawab oleh Muditha dengan sangat ramah.

Setelah sampai di rumah si ibu tua itu, lalu Muditha mohon pamit, si ibu dengan berlinang air mata lalu berkata: "Semoga Tuhan merestuimu anakku. ibu akan selalu mendoakan agar kamu bahagia". Muditha merasa bahagia karena mendapat kesempatan menolong orang lain. Ketika dia menemui kembali teman-temannya, mereka menanyakan kepadanya mengapa dia mau berusaha bersusah-susah menolong si ibu tua itu, padahal dia tidak kenal dengannya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 285).

Muditha menjawab "saya menolong karena saya yakin dia adalah ibu dari seseorang. Mengapa kamu menolong ibu orang lain? tanya temannya. Tentu saja, bukan sa ja menghormati tapi menyayangi, bahkan sangat menyayangi. Bila saya menemui wanita yang sebaya dengan ibu saya, saya selalu ingat sama ibu saya", kata Muditha.

Mengapa kamu lebih sayang sama ibumu bukan sama ayahmu, tanya temannya. Kedua-duanya saya sayangi, tapi saya lebih sayang sama ibu saya, karena ibu saya lebih menderita dari ayah saya. Penderitaan waktu melahirkan, pengorbanan waktu merawat saya dari bayi sampai sekarang. Mungkin selama hidup tidaklah pernah saya dapat melunasi hutang budi kepada Ibu.

Di samping itu ayah saya pernah berkata : "Anakku di dunia ini tidak ada hutang yang lebih berat dari pada kepada ibu. Barang siapa yang tidak menghormati dan menyayangi ibunya, dia tidak akan bisa menjadi manusia yang baik", Demikian ayah saya menasehati saya. Semua teman-temannya sangat terkesan dengan Muditha. Kutukan orang tua seperti awan di langit, sinar matahari tidak akan bisa menembus kalau awan menghalangi. Betapa pun taat dan bhakti seseorang kepada Tuhan, kalau dia tidak hormat kepada orang tuanya, maka anugerah Tuhan tidak akan bisa sampai kepadanya. Demikianlah ceritanya, camkanlah......! (oleh : Kimudà), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 286).

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: