Contoh Cerita Paparan Ajaran Nawa Widha Bhakti Dalam Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Berikut ini adalah paparan ajaran nawa widha bhakti dalam bentuk cerita yang diambil dari cerita " Srawanam dan Prabhu Parikesit" sebagai berikut:

Contoh Cerita Paparan Ajaran Nawa Widha Bhakti Dalam Agama Hindu
Photo: adeirgha
Dalam kitab mahabrata dikisahkan, Prabu Parikesit sedang mengadakan perjalanan untuk berburu ke tengah hutan. Prabhu Parikesit adalah keturunan wangsa bharata, cucu dari Panca Pandawa yang disebut-sebut sebagai raja terakhir memimpin Kerajaan Astinapura. Di tengah hutan belantara itu berdiri sebuah pertapaan yang dipimpin oleh Maha Rsi Samiti.

Setelah lama melintasi perjalanan akhirnya Prabu Parikesit, sampailah beliau di tengah hutan dan memasuki wilayah pertapaan Maha Rsi Samiti. Sebagaimana biasanya apabila seorang Raja sedang melaksanakan perjalanan jauh, mau berkunjung kepertapaan layak mendapat sambutan dengan istimewa. Demikian juga sepanjang perjalanan disambut dan dihormati oleh setiap orang yang sedang melintas dijalanan tersebut. Penyambutan, penghormatan dan pelayanan yang istimewa adalah wujud dari appreasi atas kunjungan sang raja.

Namun demikian di pertapaan Maha Rsi Samiti saat itu sedang berlangsung ritual brata. Maha Rsi Samiti sedang melaksanakan tribrata; brata makan (Upawasa), brata tidur (Jagra), dan brata berbicara (Monobrata). Karena adanya ritual Tribrata inilah maka beliau tidak menyambut kedatangan Raja Parikesit sebagaimana mestinya. Prabhu Parikesit sangat tersinggung atas kejadian ini, sehingga kemarahannya ditumpahkan kepada seekor ular yang sedang lewat disana, ular itupun dipukulnya sampai mati, yang akhirnya bangkai ular itu dikalungkan dilehar Sang Rsi Samiti yang sedang melakukan Tribrata oleh Prabu parikesit. Kemudian sang Rsi ditinggalkan begitu saja dalam tri brata dengan leher dikalungi bangkai ular (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 238).

Maha Rsi Samiti memiliki seorang putra yang bernama Srenggi, (usianya masih tergolong anak-anak yang baru berumur sekitar 8 tahun. Namun Srenggi mempunyai bakat yang luar biasa dalam ketekunannya melaksanakan Gayatri mantram. Dalam usianya yang ke lima Srenggi sudah mampu melaksanakan japa mala Gyatri mantram sampai lebih dari ribuan kali, bila sedang berada diluar desanya sendiri.

Ketika Srenggi kembali dari taman pesraman mengambil bunga yang tadinya dipersiapkan untuk sembahyang, alangkah kagetnya mereka ketika melihat dan menyaksikan kondisi Ayahandanya sang Maha Rsi dengan posisi meditasi lehernya terlilit bangkai ular. Srenggi tidak terima dengan kejadian dan perbuatan orang yang tidak bertanggung-jawab itu terhadap orang tuanya. Ia berusaha untuk mencari tau siapa pelaku dari perbuatan amoral seperti itu.

Dalam waktu tidak terlalu lama maka srenggi sudah mendapatkan jawabannya bahwa pelakunya adalah seorang Raja yang bernama (Prabu Parikesit sebagai pelaku tunggal). Srenggi-pun segera mengejar Prabu Parikesit dan sekaligus melontarkan kutukan atas perlakuannya terhadap Ayahndanya sang Rsi. ”Dalam kurun waktu 7 hari Prabu Parikesit akan mati dengan cara yang menyedihkan digigit ular”.

Maha Rsi Samiti mendengarkan kesemuanya itu, dan beliau mengetahui kemampuan putranya sang Srenggi, karena kesidhiannya, mengingat sejak kecil Srenggi sangat rajin dan tulus melakukan Japa Mala. Kutukan tinggal kutukan tak boleh ditarik dengan apapun, akhirnya dalam kurun waktu yang ditentukannya 7 hari pasti akan terjadi kejadian yang sangat mengenaskan Prabu Parikesit sudah pasti akan menderita atas kutukannya itu. Tinggal satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Sang Rsi sekarang adalah masuk ke Istana kerajaan dan menyampaikan permasalahannya. Untuk mengamankan keberadaan Raja Parikesit dari gangguan ular, akhirnya beliau dibuatkan sebuh podium dengan penjagaan yang sangat ketat sehingga tidak ada lagi jalan bagi ular untuk bisa menghampiri Prabu Parikesit.

Dalam waktu tujuh hari itulah dipergunakan bertobat oleh Sang Prabu Parikesit, untuk mengadakan Srawanam, yaitu mendengarkan dengan cara seksama Ikang Tinutur Pineh Ayu dari sang Rsi Samiti selama 7 hari. Persis pada hari yang ke 7 (tujuh) Jiwa sang Prabu Parikesit meninggalkan Raga (Moksa). Dalam keadaan demikian akhirnya sang pelayan datang menyuguhkan hidangan (makan) buat sang Prabu Parikesit. Meskipun makanan itu sudah disortir secara sempurna oleh koki istana, namun Ular tersebut bersembunyi di balik kuping manggis, yang menjadi persembahan sang pelayan kepada rajanya.

Ketika makanan sang Prabu sudah dihidangkan di atas mejanya, pelayanpun meninggalkan ruangan sang raja, keluarlah ular tersebut dengan dari balik kuping manggis dan dengan serta merta mematuk sang Prabu yang sebenarnya sudah dalam keadaan Sunia, dan Berakhirlah Prabu Parikesit yang merupakan akhir dari bagian kejayaan Wangsa Bratha di Astinapura (Widyatmanta, Siman. 1958 : 68), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 239).

TAMAT

Mengikuti alur ceritera di atas, maka dapat dipahami bahwa dengan ajaran “nawa widha bhakti “srawanam” Prabu Parikesit mencapai moksa. Jnanam, Karma, dan Bhakti, dalam mewujudkan ajaran Hindu adalah  merupakan satu kesatuan yang utuh dan sulit untuk dipisahkan karena merupakan satuan integral satu dengan yang lainnya. 



Svami Satya Narayana mengatakan : Ketiga jalan tersebut bak gula batu, bentuk, berat, dan penampilan gula tersebut sangatlah berbeda, namun mereka mempunyai kesatuan yang utuh dan sulit untuk dibeda-bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan dalam bentuk Bhakti, maka hanya tinggal di dalam hati saja, Karma tanpa dilandasi dengan Jnanam maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti, akan bisa menimbulkan arogansi dan gersang, Bhakti tanpa Jnanam dan karma juga akan nyaplir (tidak menentu). Karena itu Bhakti kepada Tuhan merupakan ujung dari Jnanam dan karma (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 240).

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: