Sloka Kitab Suci Veda Yang Menjelaskan Sumber Hukum Hindu

MUTIARAHINDU -- Himpunan sabda suci Tuhan Yang Maha Esa disebut Veda, dan bentuknya berupa syair-syair yang indah disebut mantra. Veda bagaikan seorang ibu yang membimbing mereka yang beriman untuk memperoleh kemakmuran, panjang umur, kehidupan yang penuh semangat kerja, kemasyhuran, kekayaan dan kemuliaan. Sloka adalah sejenis puisi yang mengandung ajaran, biasanya terdiri dari 4 (empat) larik yang berirama yang mengandung sampiran dan isi (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:80).

Sloka Kitab Suci Veda Yang Menjelaskan Sumber Hukum Hindu
Foto: sallytikaram
Berikut ini Sloka-slokas kitab suci yang menjelaskan sumber Hukum Hindu antara lain adalah sebagai berikut:

Berikut ini dapat disajikan beberapa sloka dari kitab suci yang menggariskan Veda sebagai sumber hukum yang bersifat universal, antara lain sebagai berikut:

“Yaá pàvamànir adhyeti åûibhiá saý bhåaý rasam. sarvaý sa pùtam aúnati svaditaý màtariúvanà” 

Terjemahan:

“Dia yang menyerap (memasukkan ke dalam pikiran) melalui pelajaran- pelajaran pemurnian intisari mantra-mantra Veda yang diungkapkan kepada para rsi menikmati semua tujuan yang sepenuhnya dimurnikan yang dibuat manis oleh Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi napas hidup semesta alam (Ågveda IX.67.31).

“Pàvamànir yo adhyeti- åûibhiá saýbhåaý rasam tasmai sarasvati duhe
kûiraý sarpir madhùdakam”.

Terjemahan:

‘Siapapun juga yang mempelajari mantram-mantram veda yang suci yang berisi intisari pengetahuan yang diperoleh para rsi, Devi pengetahuan (yakni Sang Hyang Saraswati) menganugerahkan susu, mentega yang dijernihkan, madu dan minuman Soma (minuman para Deva)’(Ågveda IX.67.32).

“Iyam te rad yantasi yamano dhruvo-asi dharunah.
kryai tva ksemaya tva rayyai tva posaya tva”. 

Terjemahan:

Wahai pemimpin, itu adalah negara mu, engkau pengawasnya. Engkau mawas diri, teguh hati dan pendukung warga negara. Kami mendekat padamu demi perkembangan pertanian, kesejahteraan manusia, kemakmuran yang melimpah” (Yajurveda IX.22) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:81).

“Ahaý gåbhóàmi manasà manàýsi mama cittam anu cittebhir eta. mama vaseûu hrdayàni vah krnomi, mama yàtam anuvartmàna eta”.

Terjemahan:

“Wahai para prajurit, Aku pegang (samakan) pikiranmu dengan pemikiran- Ku. Semoga anda semua mengikuti aku menyesuaikan pikiran mu dengan pikiran-ku. Aku tawan hatimu. Temanilah aku dengan mengikuti jalan-Ku, (Atharvaveda, VI.94.2).

Veda merupakan karunia ibu Saraswati, dan orang-orang yang mempelajari serta mengamalkannya dengan keyakinan yang mantap akan terpenuhi keinginannya. Mantra-mantra Veda mengandung kekuatan kedevataan dan sabda suci ini hendaknya diajarkan kepada semua orang dalam profesi apapun di masyarakat bahkan orang-orang asingpun tidak tertutup untuk mempelajari kitab suci Veda, ajarannya bersifat abadi memberikan perlindungan kepada umatnya. Selanjutnya kitab smrti menjelaskan sebagai berikut;

“Kàmàtmatà na praúasta na caiwe hàstya kàmatà, kàmyo hi wedàdhigamaá karmayogasca waidikaá” 

Terjemahan:

Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan akan phala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Veda (Manawa Dharmasastra, II.2).

“Teûu samyag vartta màno gacchatya maralokatàm, yathà samkalpitàýúceha sarwan kaman samaúnute”

Terjemahan:

Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan (Manawa Dharmasastra, II.5) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:82).

“Yo’ varnanyeta te mùle hetu úàstràúrayad dvijaá, sa sàdhubhir bahiûkàryo nàstiko vedanindakaá”. 

Terjemahan:

Setiap dwijati yang menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua sumber hukum (Sruti dan Smrti) harus dijauhkan dari orang-orang bijak sebagai seorang atheis dan yang menentang Veda (Manawa Dharmasastra, II.11).

“Kitrúaá sisyo ‘dhyàpya ityàha; àcàrya putrah úuúrusur jnànado dharmika úuciá,
àptaá úakto rthadaá sàdhuá
svo ‘dhyàpyo daúa dharmataá”.

Terjemahan:

Menurut hukum suci, kesepuluh macam orang-orang berikutnya adalah putra guru yaitu ia yang berniat melakukan pengabdiannya, ia yang memberikan pengetahuan, orang yang sepenuh hatinya mentaati UU, orang yang suci, orang yang berhubungan karena perkawinan atau persaudaraan orang yang memiliki kemampuan rohani, orang yang menghadiahkan uang, orang yang jujur dan keluarga (mereka) dapat mempelajari Veda (Manawa Dharmasastra, II.109) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:83).

“Yam eva tu úuciý vidyàm niyataý brahmacàrinam, tasmai màý brùhi vipràya nidhipàyà pramàdine”.

Terjemahan:

Tetapi serahkanlah saya kepada seorang brahmana yang anda ketahui pasti bahwa ia orang yang sudah suci, yang bisa mengendalikan panca indranya, berbudi baik dan tekun (Manawa Dharmasastra, II.115).

“Pitådeva manuûyànàm Vedaú cakûuá sanàtanam, aúakyaý càprameyaý ca vedaúàstram iti sthitiá”. 

Terjemahan:

Veda adalah mata yang abadi dari para leluhur, Deva-Deva, dan manusia; peraturan-peraturan dalam Veda sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan yang pasti (Manawa Dharmasastra, XII.94).

“Ya veda vàhyà småtayo yàs ca kàs ca kudåûþayaá, sarvàsta niûphalàá pretya tamo niûþhà hi tà småtàá” 

 Terjemahan:

Semua tradisi dan sistem kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber dari kegelapan (Manawa Dharmasastra, XII.95).

“Utpadyànte cyavante ca yànyato ‘nyàni kànicit, tànyarvakalika tayà niûphalànya nåtàni ca”.

Terjemahan:

Semua ajaran yang timbul, yang menyimpang dari Veda segera akan musnah, tidak berharga dan palsu karena tak berpahala (Manawa Dharmasastra, XII. 96) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:84).

“Vibhartti sarva bhùtàni veda úàstraý sanàtanam, tasmàd etat param manye yajjantorasya sàdhanam”. 

Terjemahan:

Ajaran Veda menyangga semua makhluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insan (Manawa Dharmasastra, XII. 99).

“Senàpatyaý ca ràjyaý ca daóða netåtwam eva ca, sarva lokàdhipatyaý ca veda úàstravid arhati”.

Terjemahan:

Panglima angkatan bersenjata, Pejabat pemerintah, Pejabat pengadilan dan penguasa atas semua dunia ini hanya layak kalau mengenal ilmu Veda itu (Manawa Dharmasastra, XII.100).

“Doûair etaiá kula-ghnànàý varna-saókara-kàrakaih, utsàdyante jàti-dharmàá kula-dharmàú ca úàúvatàá”. 

Terjemahan:

Karena dosa dan kehancuran keluarga ini membawa keruntuhan bagi hukum golongan (varna dharma), kebiasaan keluarga dan hukum keluarga hancur untuk selama-lamanya, (Bhagawadgìtà, I.43) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:85).

“Atha cet tvam imaý dharmyaý saògràmaý na kariûyasi,
tatah sva-dharmaý kirtiý ca hitvà pàpam avàpsyasi”.

Terjemahan:

Akhirnya bila engkau tidak berperang, sebagaimana kewajiban, dengan meninggalkan kewajiban dan kehormatan, maka penderitaanlah yang akan kau peroleh, (Bhagawadgìtà, II.33).

“Yadà yadà hi dharmasya glànir bhavati bhàrata, abhyutthànam adharmasya tadàtmànam srjàmy aham”. 

Terjemahan:

Sesungguhnya manakala dharma berkurang kekuasaannya dan tirani hendak merajalela, wahai arjuna, saat itu aku ciptakan diriku sendiri, (Bhagawadgìtà, IV.7).

“Paritràóàya sàdhànàý vinàsàya ca duûkrtàm, dharma-saýsthàpanàrthaya sambhavàmi yuge-yuge”.

Terjemahan:

Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan orang-orang jahat, Aku lahir ke dunia dari masa ke masa, untuk menegakkan dharma, (Bhagawadgìtà, IV.8).

“Kûipram bhavati dharmàtmà úaúvac-chàntiý nigacchati, kaunteya pratijànihi
na me bhaktaá pranaúyati”.

Terjemahan:

Dengan segera ia menjadi orang benar dan mencapai kedamaian yang kekal abadi; ketahuilah, wahai Arjuna, para pemuja-Ku pasti tak akan memusnahkan, (Bhagawadgìtà, IX.31) dalam(Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:86).

“Çrutyuktaá paramo dharmas- tathà smrti gato ‘parah, çistàcàrah parah proktasrayo dharmàá sanàtanàá.

Kunang kengetakena, sasing kajar de sang hyang çruti dharma ngaranika, sakajar de sang hyang smrti kuneng dharma ta ngaranika, çistacara kunang, acaranika sang çista, dharma ngaranika, sista ngaran sang hyang satyawadi, sang apta, sang patisthan, sang panadahan upa deça sangksepa ika katiga, dharma ngaranira.

Terjemahan:

Adapun yang patut untuk diingat-ingat, semua apa yang diajarkan oleh Çruti disebut dharma, semua yang diajarkan oleh Smrti pun dharma namanya, demikian pula tingkah laku orang çista disebut dharma, yang disebut çista adalah yang berkata-kata benar, orang yang dapat dipercaya, orang yang menjadi tempat pensucian, orang yang menjadi tempat menerima ajaran kerohanian, singkatnya ketiganya itu, dharma namanya, (Sarasamuçcaya, 40).

“Çruyatàm dharmasàswam çrutwà çaiwopadhàryatàm, atmanah pratikùlani na paresàm samàcara.

Matangnyan rengo sarwadàya, paramàrtha ning sinangguh dharma telas rinengonta çupwanantà ta ri hati, ikang kadi ling mami ngùni wih, sasing tak kahyun yàwakta, yatika tanulahakenanta ring len.

Terjemahan:

Karena itu dengarkanlah segala upaya, makna yang dianggap dharma, setelah engkau mendengarnya, camkan itu baik-baik di hati, sebagai mana yang telah saya katakan sebelumnya, segala sesuatu yang tidak berkenan di hatimu, yang itu janganlah hendaknya engkau lakukan kepada orang lain, (Sarasamuçcaya, 44) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:87).

“Dharmaçcennàwasideta kapàlenàpi jiwataá,
àdhyo smityawagantawyam dharma wittà hi sadhawaá”.

Yadyapin atyanta daridra keta ngwang, mahuripa ta dening tasyan, yan langgeng apageh ring dharmàprawrtti, hidepen ta sugih jugàwakta, apan anghing dharmaprawrtti, màs manik sang sàdhu ngaranira, yatika prihen arjanan, yatika ling mami màs manik tan kena ring corahhayàdi.

Terjemahan:

Walaupun sangat miskin dan hidup dari hasil meminta-minta, jika tetap teguh dalam menjalankan dharma, anggaplah dirimu kaya juga, sebab perbuatan dharma itulah merupakan artha kekayaan orang yang saleh, yang itu supaya diusahakan, yang itu yang kukatakan harta kekayaan yang tak dapat dicuri, dirampas dan sebagainya, (Sarasamuçcaya, 50).

“Dharmamàçarato wrttiryadi nopagamisyati,
na nama kin çilochàmbu çàkàdyapi wipatsyate”.

Lawan ling mami, ika sang kewala tumungkulanang dharma-prawrtti, tàtan penemwa upajìwananira, apa matangnya tar polih angasag, gagan, wwai, lwirning sulabha takwanani harakanira.

Terjemahan:

Lagi pula kata ku, orang yang tekun melaksanakan dharma, tidak akan tidak memperoleh penghidupannya, apa sebabnya tidak mendapatkan makanan, sayur-sayuran, air, segala macam itu seakan-akan menawarkan dirinya untuk menjadi makanannya, (Sarasamuçcaya, 51).

Dharma “hukum” hendaknya dipedomani dan dilaksanakan dengan sungguh- sungguh dalam pengabdian hidup ini guna mewujudkan hidup yang sejahtera dan bahagia. Demikian hendaknya perbuatan kita dalam keseharian, betapapun sibuknya dalam melaksanakan dharma. Usahakanlah sebagai sambilan mencari harta dalam kesibukan hidup ini. Bagaikan sepasang sapi yang menyandang bajak di belakangnya, mengelilingi sawah disambilkan juga mencabut rumput yang dekat padanya sehingga menjadi senang (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:88).

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: