Manusia Purba Pada Zaman Pra Sejarah dan Kebudayaan Agama Hindu Pada Zaman Maesolitik, Neolitik, dan Zaman Perundagian

MUTIARAHINDU -- Zaman pra-sejarah adalah zaman dimana belum dikenalnya tulisan. Zaman prasejarah berlangsung sejak adanya manusia, sekitar ± (dua) juta tahun yang lalu, hingga manusia mengenal tulisan. Untuk mengetahui kehidupan prasejarah, para ahli mempelajari fosil, tentang bagian tubuh binatang, tumbuhan, dan atau manusia yang membatu. Kondisi lingkungan alam pada jaman pra-sejarah sangatlah berbeda dengan lingkungan yang ada sekarang. Hal ini disebabkan karena ketika itu banyak terjadi peristiwa alam, seperti pengangkatan daratan, naik-turunnya air laut, dan kegiatan gunung berapi. Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar sangat banyak ragamnya. Binatang dan tumbuhan itu kini sudah banyak yang punah (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 97).

Manusia Purba Pada Zaman Pra Sejarah dan Kebudayaan Agama Hindu Pada Zaman Maesolitik, Neolitik, dan Zaman Perundagian
Foto: arkeofili.
Araştırmacılar, Çatalhöyük'teki çiftçilerin 8.200 yıl önce yaşanan iklim değişikliğine nasıl uyum sağladığının kanıtlarını ortaya çıkardı.
Manusia purba yang hidup pada zaman pra-sejarah dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
  1. Meganthropus palaeojavanicus: manusia yang paling purba;
  2. Homo erectus atau Pithecanthropus: manusia yang sudah berjalan tegak;
  3. Homo sapiens: manusia purba yang sudah mirip manusia sekarang.

Ketiga   kelompok    manusia    purba ini  memiliki  masa   perkembangan  dan migrasi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Berdasarkan temuan-temuan  fosil  manusia  purba di berbagai penjuru dunia, kini para  ahli palaeoantropologi dapat menyusun sejarah makhluk manusia.  Sejarah yang disusun itu menyangkut proses perkembangan jasmani manusia maupun proses migrasi manusia untuk menghuni seluruh permukaan bumi yang ada ini. Proses penyusunan dan perkembangan tentang jasmani manusia yang dilakukan oleh para ahli palaeoantropologi mengikuti teori evolusi, seperti yang dikemukakan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. 

Menurut temuan fosil pra manusia yang telah ditemukan saat ini, makhluk yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal manusia adalah makhluk Australopithecus (kera dari selatan). Jika diamati dari bentuk fosil yang ada, tampak ada 4 (empat) perubahan jasmani dalam makhluk pra-manusia yang sangat menentukan proses evolusi menuju manusia sejati. Melalui proses evolusi inilah manusia kemudian mampu mengembangkan kehidupannya dengan lebih baik dari sebelumnya.

Makhluk ini berkembang dengan pola migrasi. Dinyatakan ada 4 (empat) jenis makhluk Australopithecus yang ditemukan di Afrika, seperti; Australopithecus afarensis, Australopithecus africanus, Australopithecus robustus, dan Australopithecus boisei (Soekmono, 1958: 10) DALAM (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 98).

Menurut pandangan Hindu, manu adalah manusia yang pertama diciptakan oleh Brahman /Ida Sang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti atau penciptaan. Ciptaan Brahman setelah alam semesta adalah tumbuh- tumbuhan, kemudian binatang, dan setelah itu manusia. Manu yang disebut manusia adalah makhluk yang tersempurna dengan bayu, sabda, dan idep yang dimilikinya. Bayu adalah tenaga yang mengantarkan manusia memiliki kekuatan atau tenaga. Sabda adalah unsur suara yang menyebabkan manusia dapat berbicara atau bertutur kata yang baik dan sopan. Sedangkan idep adalah pikiran, hati, dan rasa yang menyebabkan manusia dapat berlogika. Ketiga unsur utama inilah yang menyebabkan manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Kitab Bhagawadgita menyebutkan sebagai berikut:

“Prakrtim purusa chai ‘wa widdhy anadi ubhav api, vikarams cha gunams chai ‘wa, viddhi prakrti sambhavan“ (Bhagawan Gita, XIII.19).

Terjemahannya:

Ketahuilah bahwa Prakrti dan Purusha kedua-duanya adalah tanpa permulaan, dan ketahuilah juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dari Prakrti.

“Tapo wācam ratim caiwa kāmam ca wiwerkatham dharman wyawecayat, srstim sasarja caiwemām srastumicchannimah prajāh (Menawa Dharmasastra I.25)

Terjemahannya:

Ketawakalan, ucapan, kesenangan, nafsu dan kemarahan serta segala isi alam, Tuhan ciptakan karena Ia ingin menciptakan segala makhluk ini.

“Mangkana pwa Bhatara Siwa, irikang tattwa kabeh, ri wekasan lina ring sira mwah, nihan drstopamanya kadyangganing wereh makweh mijilnya tunggal ya sakeng way” (Bhuwana Kosa. lp. 22b).

Terjemahannya:

Demikian halnya Bhatara Siwa (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya akan kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air.

Berdasarkan uraian dan penjelasan pustaka suci tersebut di atas, sangat jelas menyatakan bahwa menurut pandangan Hindu, manusia diciptakan oleh Brahman/Sang Hyang Widhi wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti. Selanjutnya hidup dan berkembang sesuai dengan budaya dan lingkungan alam sekitarnya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 99).

Pada zaman migrasi disebutkan ada dua tingkatan masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dan tingkat lanjut. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana sering disebut zaman Paleolitik. Masa ini berlangsung sejak (2 juta tahun yang lalu hingga 10.000 tahun sebelum Masehi), yaitu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden). Pada zaman ini alat yang digunakan adalah kapak batu dan alat serpih.

Oleh manusia purba, masa migrasi dilanjutkan dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Zaman ini juga disebut sebagai zaman maesolitik yang berlangsung sejak (10.000 - 4000 tahun sebelum masehi).  Di zaman maesolitik manusia sudah hidup di gua-gua atau di tepi pantai agak menetap. Pada zaman ini manusia purba sudah menggunakan peralatan kapak pendek, kapak Sumatralit, mata panah, dan alat-alat tulang.

Setelah masa maesolitik kehidupan manusia purba menuju ke masa bercocok tanam. Zaman ini disebut juga zaman Neolitik dan berlangsung sejak (4000- 2000 tahun sebelum masehi). Di zaman Neolitik, manusia sudah dapat menanam berbagai jenis tumbuhan dan menernakan hewan. Mereka sudah hidup menetap dan menggunakan alat-alat batu yang sudah diasah halus, seperti kapak persegi dan kapak lonjong. Pada masa inilah manusia tidak  lagi menjadi pengumpul makanan (food-gatherer), tetapi juga penghasil makanan (food-producer). Perubahan ini disebut Revolusi neolitik. Mereka percaya pada roh nenek moyang dan mulai mendirikan bangunan megalitik. Di Indonesia, cara bercocok tanam di bawa oleh orang-orang Nusantara yang berbahasa Austronesia dari Taiwan dan Filipina Utara.

Zaman Perundagian disebut juga zaman  Logam  Awal  atau  kehidupan  masa perundagian yang berlangsung sejak (2000 tahun sebelum masehi sampai dengan abad IV masehi). Sejak zaman Logam Awal manusia mulai mengenal pembuatan alat-alat dari logam seperti nekara, kapak perunggu, bejana gepeng, dan perhiasan. Budaya ini disebut budaya Dongson. Mereka hidup di perkampungan tetap. Ada kelompok pengrajin benda tertentu dan perdagangan mulai maju. Di masa ini mulai terbentuk golongan masyarakat sebagai; pemimpin, pendeta, orang awam, dan budak. Hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa ini adalah;
  1. Kapak Genggam: berfungsi untuk menggali umbi, memotong dan menguliti binatang.
  2. Kapak Perimbas: berfungsi untuk merimbas kayu, memecahkan tulang, dan sebagai senjata yang banyak ditemukan di Pacitan. Maka Ralph Von Koeningswald menyebutkan kebudayaan Pacitan. Dan pendukung kebudayaan Pacitan adalah jenis Phitecantropus (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 100).
  3. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang: berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek dan tombak. Benda-benda ini banyak ditemukan di Ngandong, dan sebagai pendukung kebudayaan ini adalah Homo Wajakensis, dan Homo Soloensis. Alat-alat yang dimanfaatkan untuk hidup adalah;
  4. Serpih (flakes) – terbuat dari batu bentuknya kecil, ada juga yang terbuat dari batu induk (kalsedon) : berfungsi untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
  5. Kapak Sumatera (Pebble): Sejenis kapak genggam yang sudah digosok, tetapi belum sampai halus. Terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah.
  6. Kjokenmoddinger: Dari bahasa Denmark yang artinya sampah dapur.
  7. Abris Sous Roche: Adalah tempat tinggal yang berwujud goa-goa dan ceruk-ceruk di dalam batu karang untuk berlindung.
  8. Batu Pipisan: Terdiri dari batu penggiling dan landasannya. Berfungsi untuk menggiling makanan, menghaluskan bahan makanan.
  9. Kapak Persegi: Adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern.
  10. Kapak Lonjong: Adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong memanjang. Ditemukan di Irian, seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
  11. Kapak Bahu: Adalah kapak persegi namun pada tangkai diberi leher sehingga menyerupai botol persegi. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.
  12. Menhir: tugu batu yang didirikan sebagai pemujaan roh nenek moyang memperingati arwah nenek moyang dan lain-lain (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 101).
Renungan Yajurveda, XXVI.2

Yathemàm vàcaý kalyànim àvadàni janebhyaá, brahma-ràjanyàbhyàý úùdràya càryàya ca,
svàya càraóàya ca.

Terjemahan:

“Hendaknya engkau menyebarkan ajaran Veda yang suci ini kepada para brahmana, ksatriya, para vaisya, para sudra, orang-orang kami dan orang- orang asing dengan cara yang sama.


Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: