Contoh-Contoh Orang yang Dipandang Mampu Mencapai Moksa Dalam Ajaran Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Tujuan hidup umat Hindu ialah dapat mewujudkan catur purusartha, kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagadhita). Kebahagiaan batin yang tertinggi ialah bersatunya atman dengan Brahman yang disebut moksa. Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan, kemerdekaan atau terlepas dari ikatan karma, kelahiran, kematian, dan belenggu maya/penderitaan hidup keduniawian. Bersatunya atman dengan Brahman adalah tujuan terakhir atau tertinggi bagi umat Hindu. 

Tujuan tertinggi umat Hindu ini dapat dicapai dengan menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari secara baik dan benar, melaksanakan sembahyang batin dengan menetapkan cipta (dharana), memusatkan cipta (dhyana) dan mengheningkan cipta (semadhi). Mokûa adalah suatu kondisi di mana seseorang mampu melampaui atau lepas bebas dari segala sesuatu yang ada di dunia. Manusia tidak lagi terikat oleh keindahan dunia. Pandangan ini sejalan dengan kisah yang dialami banyak tokoh dalam cerita rama-sitha.

Contoh-Contoh Orang yang Dipandang Mampu Mencapai Moksa Dalam Ajaran Agama Hindu
Foto; Dharma Yoga
Tokoh Rama, yang digambarkan sebagai seorang yang bijaksana dan tidak lagi terikat dengan hal-hal duniawi. Ketika rama dijemput adiknya dan hendak dijadikan seorang raja namun rama menolaknya. Tokoh Anoman yang digambarkan selalu taat dan setia menjalankan kewajibannya (dharma) sebagai duta Rama ketika diutus mencari kabar tentang Devi sitha yang diculik Rahwana (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 40).

Masing-masing pribadi dari umat Hindu yang telah mencapai jiwa mukti dalam hidupnya tidak lagi terikat pada gelombang kehidupan di dunia ini. Baginya bekerja adalah sebagai pemujaan kepada Tuhan dan semua hasilnya diserahkan kepada Tuhan. Mereka memiliki pandangan yang sama terhadap keberhasilan dan kegagalan, terhadap suka dan duka, memiliki sifat cinta kasih terhadap semua yang ada di dunia ini. Dalam hubungan ini baca dan hayatilah sloka berikut:

Man-manà bhava mad-bhakto mad-yàji màý namoskuru, màm evai ûyasi yuktvai vam àtmànaý matparàyaóaá.

Terjemahan:

Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbakti pada-Ku, sembahlah Aku sujudlah pada-Ku. Setelah melakukan disiplin pada dirimu sendiri dan Aku sebagai tujuan, engkau akan datang padaku (Bhagawadgita IX. 34).

Seseorang yang telah mencapai jiwa mukti segala perbuatannya dipandang telah berubah menjadi Yoga dan dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagi orang yang telah mencapai moksa atau kebahagiaan hidup ini, yang bersangkutan selalu berfikir, berbicara dan berbuat senafas Brahman. Orang suci yang telah mencapai kesadaran dirinya yang sejati adalah mereka yang telah mencapai jiwa mukti. Ia telah mempersembahkan setiap pikiran, ucapan dan perbuatannya kepada Tuhan, dan dengan demikian segala perbuatannya akan menjadi ibadah.

Namun bagi masyarakat kebanyakan “biasa” yang belum mencapai kesadaran jiwa mukti, maka semua yang dikerjakannya merupakan sesuatu yang masih terikat dengan hasilnya. Mereka menganggap, semua fikiran, ucapan dan pekerjaan yang dilakukan oleh dirinya diharapkan memberikan fasilitas yang diinginkan. Mereka belum menyadari sepenuhnya bahwa semua yang ada ini diliputi dan dikuasai oleh kebutuhan. Seseorang yang demikian sesungguhnya adalah orang yang masih dipenuhi oleh sifat-sifat egoisme. Pekerjaan yang dilandasi oleh rasa egoisme dapat mendatangkan malapetaka dan penderitaan (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 41).

Sehubungan dengan hal itu baca, renungkan dan amalkanlah dalam hidup ini baik-baik sloka berikut:

Måityuá sarva-haraú càham udbhavaú ca bhavisyatàm, kirtiá úrir vàk cha nàrióàm småitir medhaa dhåtiá kûamà.

Terjemahan:

Aku ini kematian yang meliputi segala ciptaan, dan Aku ini asal mula yang akan ada nanti, dan dari sifat-sifat wanita, Aku adalah kemasyhuran, kemakmuran, ucapan, ingatan, kecerdasan, ketetapan dan kesabaran (Bhagawadgita X.34).

Dalam hubungan ini hendaklah mereka yang telah mencapai jiwa mukti dapat menuntun mereka-mereka yang belum mencapainya, sehingga hidupnya lebih berarti dan bermanfaat, serta secara pelan tetapi pasti akan menuju pada kesempurnaan. Berikut ini adalah beberapa contoh ilustrasi orang-orang yang dapat dipandang sudah mencapai “moksa” sebagai berikut:

Bhagawan Byasa (Wyasa)

Pada jamannya Waiwasta Manu ada yang bernama Bhagawan Byasa, putra bhagawan Parasara. Beliau telah mendapatkan sinar kesadaran bathin. Gelar beliau yang lain Sri Krsna Dwipayana, beliau adalah titisan Bhatara Wisnu. Kemudian beliau diminta oleh Dewa Brahma untuk mempelajari Weda pada jaman Waiwasta Manu.

Bhagawan Byasa mempunyai siswa empat orang masing-masing ahli dalam Veda. Antara lain Bhagawan Jemini, keahliannya adalah mempelajari kitab Samaveda. Bhagawan Pulaha menguasai isi kitab Rgveda keistimewaan beliau. Bhagawan Waisampayana menguasai dan memahami kitab Yajurveda sebagai kitab sucinya yang teristimewa. Bhagawan Sumantu (adalah) Atharwaveda pengetahuannya yang paling utama. Adapun hamba (Bhagawan Byasa) menguasai Itihasa dan Purana. (Gde dan Pudja. Gede, 1981:44).

Bhagawan Byasa adalah Maharsi yang mengumpulkan wahyu-wahyu suci Tuhan menjadi kitab suci Veda. Kebesaran jiwa Maharsi Wyasa ini menjiwai nenek moyang keturunan Bharata. Beliau adalah penegak keadilan dan kebenaran. Sari-sari ajarannya telah dikumpulkan oleh seorang Rsi, bernama Rsi Wararuci. Nama pustaka itu adalah “Sarasamuccaya”. Rsi Wararuci adalah penulis kitab Sarasamuccaya, yang kini menjadi sebagai salah satu kitab suci, sebagai penuntun jiwa dan prilaku umat manusia untuk mencapai kehidupan yang suci, kehidupan yang tidak terikat oleh hawa nafsu yang akhirnya dapat mencapai kebahagiaan abadi (Parisada Hindu Dharma Pusat, 1968:39) dalam  Mudana dan Ngurah Dwaja,(2015: 42).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Bhagawan Byasa adalah orang suci Hindu yang pada masa hidupnya selalu mengabdikan dirinya kepada Tuhan demi untuk kesejahteraan dan kebahagian umat manusia. Beliau adalah putra Bhagawan Parasara sebagai titisan dari Bhatara Wisnu yang oleh Dewa Brahma disuruh untuk menerima dan mempelajari veda (catur veda) sebagai wahyu Tuhan bersama empat orang muridnya. Bhagawan Byasa telah menyatu dengan Tuhan (Brahman) dengan meninggalkan hasil karyanya yang sangat bermanfaat untuk umat manusia (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 42-43).
.
Dang Hyang Dwijendra

Seorang keturunan brahmana (Brahmana wangsa) bernama Nirartha adik dari Danghyang Angsoka, putra dari Danghyang Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil istri, di Daha, putri dari Danghyang Panawaran yaitu golongan keturunan Bregu di Geria Mas Daha bernama Ida Istri Mas. Setelah bersuami-istri, Sang Nirartha dilantik (diniksa) oleh Danghyang Penawaran menjadi pendeta (Brahmana janma) diberi gelar Danghyang Nirartha. Dari perkawinan ini Danghyang Nirartha mendapat  dua orang putra, yang sulung putri diberi nama Ida Ayu Swabhawa alias Hyangning Salaga (yang berarti dewanya kuncup bunga melur) sebagai nama sanjungan karena cantik jelita rupa dan perawakannya serta pula ahli tentang ajaran batin. Adiknya seorang putra diberi nama Ida Kulwan (artinya kawuh/ barat) dan diberi nama sanjungan Wiraga Sandhi yang berarti kuntum bunga gambir, karena tampan dan gagah. Sugriwa, (1993:8) dalam Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 43).
.
Sementara itu kerusuhan yang sangat mengerikan telah melanda  tanah  Jawa. Banyak penduduk Majapahit berusaha menyelamatkan diri, pindah   ke arah timur antara lain ke; Pasuruan, Pegunungan Tengger, Brambangan (Banyuwangi) dan sampai ada yang menyeberang ke Bali. Saat itulah Danghyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan yang disertai oleh dua orang putra-putrinya. Sementara itu istrinya disebutkan tidak turut pindah ke Pasuruan. Setelah beberapa lama di Pasuruan, Danghyang Nirartha beristrikan Ida Istri Pasuruan. 

Diah Sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya, adalah nama sanjungan dari Ida Istri Pasuruan. Beliau adalah putri dari Danghyang Panawasikan, dan masih merupakan saudara sepupu dari Danghyang Nirartha. Perkawinan antara Danghyang Nirartha dengan Diah Sanggawati melahirkan dua orang putra, yang sulung bernama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) yang berarti burung yang sangat indah karena tampan dan adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan yang berarti fajar menyingsing.

Setelah beberapa lama berada di Pasuruan, kemudian Danghyang Nirartha bersama 4 (empat) orang putra-putrinya pindah ke Brambangan (Banyuwangi), namun istrinya tidak disebutkan turut. Brambangan (Blambangan) Banyuwangi pada saat itu diperintah oleh raja Sri Aji Juru. Danghyang Nirartha memperistri Sri Patni Keniten, dan dari perkawinannya melahirkan 3 (tiga) orang putra- putri. Yang sulung bernama Ida Rahi Istri, rupanya cantik dan pandai tentang ilmu kebatinan. Yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Ida Putu Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan) karena terkenal pandainya, kesaktiannya dan ahli ilmu gaib serta banyak hasil karya tulisannya. 

Yang bungsu bernama Ida Nyoman Keniten (yang berarti tenang dan disiplin air). Sri Patni Keniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan “jempyaning ulangun” yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara. Beliau adalah adik kandung dari Sri Aji Juru, turunan raja-raja (Dalem) dan turunan brahmana, terhitung buyut dari Danghyang Kresna Kepakisan di Mojopahit, dan putri kedua dari raja Brangbangan (Sugriwa, 1993:9).

Danghyang Nirartha adalah orang suci yang mulia dan istimewa. Beliau memiliki bau keringat yang harum, bagaikan minyak mawar. Setiap orang yang duduk berdekatan dengan beliau, turut harum tanpa menggunakan minyak wangi. Setelah beberapa lama berada di Brambangan terjadilah disarmoni dengan lingkungannya. Sebab itu Danghyang Nirartha berupaya untuk pindah dari Brambangan, hendak menyeberang ke Bali bersama 7 (tujuh) orang putra- putrinya beserta istrinya Sri Patni keniten (Mudana dan Ngurah Dwaja,(2015: 43-44).

Pada suatu hari menyebranglah Sang Pendeta bersama anakistrinyamengarungi laut selat Bali (Segara Rupek) dengan mempergunakan buah labu pahit (waluh pahit) bekas kele (perahu) kepunyaan orang Desa Mejaya. Sementara itu istri dan putra-putrinya diseberangkan dengan mempergunakan perahu (jukung) bocor yang disumbat dengan daun waluh pahit, kepunyaan orang Desa Mejaya. Atas tuntunan dan petunjuk Ida Sang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, dengan tiupan angin barat yang baik maka tiada berapa lama penyeberangan Danghyang Nirartha beserta istri dan putra-putrinya berlangsung dan tiba di pantai Bali barat dengan selamat. Sebab itu Danghyang Nirartha di tengah lautan berjanji “tidak akan pernah mengganggu hidupnya walan pahit seumur hidupnya sampai pada turunan-turunannya”.

Dalam penyeberangannya Danghyang Nirartha tiba lebih awal di pantai barat pulau Bali. Sambil menunggu kedatangan istri dan putra-putrinya, beliau sempat menggembalakan sapi bersama para pengembala sapi di daerah itu. Lambat laun di tempat itu didirikanlah Pura Kecil yang diberi nama Purancak. Setelah kedatangan istri dan putra-putrinya atas petunjuk dari penggembala sapi, Danghyang Nirartha beserta rombongan melanjutkan perjalanannya menuju arah timur. Selama dalam perjalanan dengan menelusuri hutan belantara, berbagai macam rintangan dan hambatan berhasil dilalui beliau dengan selamat. Atas kehendak Tuhan didirikanlah Pura Melanting sebagai tempat memuja Bhatari (Dewi) Melanting. Wilayah ini sekarang dikenal dengan nama Pulaki (Mpulaki/Dalem Melanting).

Dari wilayah Pulaki, Danghyang Nirartha beserta rombongannya melanjutkan perjalanannya ke arah timur dan akhirnya sampailah di Desa Gading Wangi. Pada saat itu penduduk Desa Gading Wangi sedang tertimpa wabah penyakit yang sangat membahayakan jiwa. Atas permohonan Kepala Desa (Bendesa) Gading Wangi dan rasa belas kasihan serta kesaktian beliau (Danghyang Nirartha) berkenan mengobati masyarakat yang tertimpa penyakit hingga sembuh total. Atas mujizat kesembuhan yang dimilikinya, sejak itu beliau diberi gelar Pendeta Sakti yang baru datang (Pedanda Sakti Bawu Rawuh), yang pandai bahasa kawi (jawa kuno) raja pendeta guru agama (Danghyang Dwijendra).

Setelah beberapa lama Danghyang Dwijendra berasrama di Desa Wani Tegeh, Pangeran Desa Mas berhasrat memohon kedatangan beliau ke Desa Mas. Kedatangan Danghyang Dwijendra ke Desa Mas diketahui oleh Ki Bendesa Mundeh, di tengah perjalanan sampai di Desa Mundeh berhasrat memohon berguru kepada Danghyang Dwijendra, dengan belas kasihan beliau maka Ki Bendesa Mundeh dianugrahi debu tapak kaki beliau ketika berdiri di tengah jalan saat itu. Di tempat itu lambat laun dibangun tempat suci bernama Pura Resi atau Pura Gria Kawitan Resi sebagai tempat pemujaan Danghyang Dwijendra Sugriwa, (1993:16) dalam Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 45).

Sangat panjang perjalanan Danghyang Dwijendra dalam pengabdiannya menegakkan dharma. Dari Jawa (Majapahit/Wilwatikta) menuju arah timur melalui; Daha, Pasuruan, dan Brambangan (Banyuwangi). Dari Banyuwangi beliau menyebrang ke Bali dengan peralatan seadanya dan sampailah di Pulaki. Dari Pulaki beliau melanjutkan perjalanan menuju ke; Desa Gading Wangi, Desa Mundeh (Pura Resi), Manga Puri (Mangui), Desa Kapal (Pura Sada), Desa Tuban, Desa Buagan (Pura Batan Nyuh), Puri Arya Tegeh Kuri (Badung), Desa Mas, Puri Gelgel (Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung sebagai utusan raja), Teluk Padang (Pura Silayukti) Padangbai.

Setelah lama berasrama di Gelgel, seijin “Dalem” beliau melanjutkan perjalanan untuk menjelajah Nusa Bali. Di mulai dari Jemberana (Pura Rambut Siwi), ke Tabanan (Pura Pakendungan dan atau Pura Tanah Lot), di Badung (Pura Hulu Watu, Pura Bukit Gong, Pura Bukit Payung, Pura Sakenan {di Serangan}), di Gianyar (Pura Air Jeruk {Sukawati}, Pura Tugu {Desa Tegal Tugu}, Genta Samprangan {Desa Samprangan}, Pura Tengkulak {di Desa Syut Tulikup}), di Klungkung (Pura Batu Klotok, Pura Gowa Lawah {Desa Kusamba}), di Buleleng, Bali Utara (Pura Pojok Batu).

Dari Pura Pojok Batu (Buleleng), beliau berhasrat untuk datang ke Lombok. Selama di Lombok beliau (Danghyang Dwijendra) diberi gelar Tuan Semeru. Di Lombok (Pura Suranadi {Lombok Barat}, Labuhan Aji {tempat pertemuan Seri Aji Selaparang – Tuan Semeru di Lombok Timur}).

Setelah Danghyang Dwijendra (Tuan Semeru) melintasi Lombok, beliau melanjutkan perjalanan menuju ke Sumbawa, untuk bertemu dengan saudaranya. Namun demikian sesuai imformasi yang disampaikan oleh penduduk sekitarnya bahwa “saudara beliau sudah tiada” dan sementara itu beliau tetap melanjutkan perjalanan menuju ke (‘Gunung Tambora’, Denden Sari {gadis kecil yang mendapatkan penyembuhan dari Tuan Semeru}) konon setelah di Bali dikawinkan dengan cucu beliau bernama Ida Ketut Buruan Manuaba Sugriwa, (1993:8-50) dalam dalam Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 45-46).

Demikian perjalanan panjang Danghyang Dwijendra berawal dari Jawa  (Bali – Lombok – Sumbawa) dan kembali ke Bali menuju Asrama Mas, dan sekembalinya ke Gelgel diiringkan (diantar) oleh Pangeran Dawuh menjadikan Dalem sangat gembira. Selama perjalanan beliau Danghyang Dwijendra banyak mengasilkan karya sastra (Buah Tangan Guru) yang sangat bermanfaat bagi umat sedharma. Sebelum Danghyang Dwijendra meninggalkan dunia maya ini, beliau bermaksud menyucikan (mediksa) putra-putranya dan membagikan harta warisannya yang disaksikan oleh Dalem Baturenggong. 

Setelah prosesi itu selesai, Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan untuk menuju alam sunya. Sampailah beliau pada penghulu sawah antara Desa Sumampan dengan Tengkulak, disana beliau disuguhi ajengan (makanan) dan lambat laun tempat itu di sebut dengan nama Pura Pangajengan. Dari tempat ini beliau melanjutkan perjalanan dan sampailah di Desa Rangkung sebelah barat yakni pelabuhan Masceti, yang lambat laun tempat ini disebut dengan nama Pura Masceti. Selama Danghyang Dwijendra bercakap-cakap dengan bhatara Masceti di pantai laut Kerobokan. Di sekitan tempat ini, pecanangan (tempat sirih dan perlengkapannya) beliau tersimpan dan dijaga oleh “Bhuto Hijo”. Lambat laun berdirilah di tempat ini Pura Peti Tenget (di tegal peti tenget).

Melalui tegal peti tenget Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanannya ke Pura Hulu Watu. Pada suatu hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia Danghyang Nirartha (Danghyang Dwijendra) menerima wahyu sabda Tuhan bahwa beliau pada hari itu dipanggil untuk pulang ke surga. Merasa bahagia suci hatinya karena saat yang dinanti-nantikan telah datang. Namun masih ada sebuah pustaka yang belum dapat diserahkan kepada salah seorang putranya. Tiba- tiba Mpu Danghyang melihat seorang bendega (Nelayan) bernama Ki Pasek Nambangan sedang mendayung jukungnya di laut di bawah ujung Hulu Watu itu, yang kemudian dipanggil oleh beliau. Setelah bendega itu menghadap lalu Danghyang berkata:

“Hai bendega, aku suruh engkau menyampaikan kepada anakku empu Mas di Desa Mas, katakan kepada beliau bahwa bapak menaruh sebuah pustaka untuk mereka di sini yang berisi ajaran kesaktian”.

Jawab Ki Bendega:

“Singgih pakulun sang sinuhun”, yang kemudian mohon diri setelah menyembah.

Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Danghyang Nirartha mulai melakukan yoga semashinya, bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Beberapa saat kemudian beliau moksa ngeluhur, cepat bagaikan kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambangan memperhatikan juga hal beliau dari tempat yang agak jauh, namun yang terlihat, hanya cahaya yang cemerlang dilihat ke angkasa Sugriwa:(1993:61) dalam dalam Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 46-47).

Tentang perjalanan Danghyang Dwijendra dalam kekawin Usana Bali, ada dijelaskan sebagai berikut:

....Kunang pwa sira Danghyang Nirartha, viyoga pwa sira sakeng Wilatikta, angalih maring Pasuruwan. Wus lama sirengkana angalap pwa sira putri Pasuruwan, dê Danghyang Panawasikan, riwêkasan hana wijanira laki-laki pêtang wiji, teher inaranan Ida Kulwan, Ida Wetan, Ida Ler, Ida Lor. Wus lami pwa sirengkana, riwêkasan kinon pwa sira dê Sri Juru angalih maring Brangbangan, dera sinung putri sadhaya, tinarima pwa sira Danghyang Nirartha, hana vijanira tigang viji, têhêr inaranan Ida Têlaga, Ida Kinetên, Ni Dayu Swabhawa (Kusuma, I Nyoman Weda. 2005:58).

..... Adava yan katakna, kumênêp wong ing jêro Brangbangan, dadya ta kesah pwa sira Danghyang Nirartha sakeng Brangbangan, mahawan pwa sira dening waluh kele wohing maja ya, ikang hastapada pinaka dayung kamodi. Kunang swami nira katêkeng putra sadhaya, wiwat dening banyaga alayar jukung beser, sira tunggal wiwat dening waluh kele. Marmene tan wênang sang Dwija anginum dening tabu tikta, apan awanira angalih Bali ring dhangu. Kunang sadateng pwa sireng Bahyaga tumedun sireng pelabuhan Purancak.]

..... Enengakêna pwa lampah irengkana, wus kalumbrah ring Gelgel, yanana Sang Pandita sakeng Yawadwipa mahasiddhi, sakti ring yoga sira, karêngo dê Sri Maharaja Wisnu Atmaka ring Gelgel, atehêr pwa sira aputusan Kyayi Panulisan Bali rajya, angaturakên sira Danghyang Nirartha (Kusuma, I Nyoman Weda. 2005:59).

Terjemahannya:

.....Selanjutnya Danghyang Nirartha pindah/pergi dari Majapahit menuju Pasuruan. Beliau agak lama menetap di sana dan kemudian kawin dengan putri Pasuruan yakni anak Danghyang Panawasikan. Dan perkawinannya itu beliau memperoleh empat orang putra laki-laki yang diberi nama Ida Kulwan, Ida Wetan, Ida Ler dan Ida Lor. Setelah beberapa lama beliau berada di sana (Pasuruan) akhirnya Danghyang Nirartha disuruh oleh Sri Juru pergi menuju Brangbangan (Blambangan). Oleh Sri Juru, Danghyang Nirartha diberikan seorang putri untuk dikawini. Dari perkawinan tersebut beliau memperoleh tiga orang putra, yang diberi nama Ida Telaga, Ida Keniten dan Ni Dayu Swabhawa.

.....Panjang kalau diceriterakan, akhirnya Danghyang Nirartha pindah dari Brangbangan mempergunakan (berkendaraan) Waluh Kele, tangan dan kaki digunakan sebagai dayung dan kemudi. Istri beserta putra-putranya diangkut oleh nelayan dengan menggunakan jukung (perahu kecil) yang bocor. Danghyang Nirartha sendirian menaiki Waluh Kele. Itulah sebabnya sang pendeta tidak boleh menyantap Waluh Kele (Labu Pahit), karena dahulu merupakan kendaraan Danghyang Nirartha menuju Bali. Adapun kedatangan beliau bersama putra-putrinya di Bali mendarat di pelabuhan Purancak.

.....Sampai di sana diceriterakan dahulu, keberadaan beliau di pulau Bali, akhirnya didengar di kerajaan Gelgel. Beliau terkenal sangat sakti dalam melaksanakan yoga. Akhirnya Sri Maharaja Wisnu Atmaka di Gelgel, mengutus Raja Kyayi Panulisan Bali untuk memohon kesediaan Danghyang Nirartha tinggal di Gelgel.

Demikianlah akhir riwayat hidup Danghyang Dwijendra. Kahyangan tempat beliau ngaluhur (moksa) kemudian disebut lengkapnya bernama Pura Luhur Huluwatu.

yad-yad vibhùtimat sattvaý úrimad ùrjitam eva và,
tat-tad evàvagaccha tvam
mama tejo-‘ýsa-úaýbhavam.

Terjemahan:
Apapun yang memiliki kemuliaan, kemakmuran dan kekuasaan; ketahuilah bahwa semuanya itu, ini berasal dari sepercik kecemerlangan-Ku, (Bhagawadgita X.41).

Demikianlah beberapa contoh orang suci yang telah mencapai jiwa mukti dalam perjalanan hidupnya yang patut dicontoh oleh kalangan masyarakat biasa yang masih sangat terikat akan duniawi. Hendaklah di antara mereka dapat saling mengisi, mengasihi, sehingga kehidupan ini berlangsung dengan damai, tenteram, harmonis saling mengasihi dan menyayangi satu dengan yang lainnya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 47-49).
.


Perenungan Bhagawadgita X.20
Aham àtmà guðàkeúa sarva-bhùtàúya-sthitaá,
aham àdiú cha madhyaý ca bhùtànàm anta eva cha.

Terjemahan:

Aku adalah Sang Diri yang ada dalam hati semua makhluk, wahai Gudakesa, Aku adalah permulaan, pertengahan dan akhir dari semua makhluk.

Tuhan “Brahman” telah menciptakan semua yang ada ini. Pada semua ciptaan- Nya beliau bersemayam untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini. Pada saatnya nanti semua yang diciptakan ini kembali kepada-Nya.

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: