Cerita Belajar Mewujudkan Hidup Bahagia dan Tenang Dalam Ajaran Agama Hindu

MUTIARAHINDU -- Di tengah-tengah hutan rimba ada sebuah pesraman yang dipimpin oleh seorang Rsi bernama Rsi Çuka. Dalam aktivitas keseharian Rsi Çuka selalu memberikan dharma wecana kepada murid-muridnya tentang tapa, brata, yoga, dan semadi. Dari sekian banyak murid-muridnya ada seorang raja bernama Raja Jenaka. Raja Jenaka disamping mempunyai kerajaan yang sangat besar, megah dan kaya juga berkeinginan belajar spiritual (tapa, brata, yoga, dan semadi) kepada Rsi Çuka yang sangat terkenal ilmu spiritualnya. 

Cerita Belajar Mewujudkan Hidup Bahagia dan Tenang Dalam Ajaran Agama Hindu
Foto: @balifest
Berbagai macam materi ujian diberikan kepada para siswanya agar dapat mencapai moksa dalam kehidupan ini. Belajar meninggalkan keduniawian, melepaskan semua ikatan material, latihan-latihan menyatukan atman dengan Brahman selalu diupayakan dalam proses pembelajaran. Pada suatu hari Rsi Çuka agak terlambat memberikan dharma wecana, sehubungan Raja Jenaka ada keperluan kerajaan yang sangat mendesak dan tidak boleh diwakili. Rsi Çuka dengan sengaja menunggu Raja Jenaka, ingin menguji kesabaran para muridnya apakah dapat mengekang sad ripu sebagai dasar belajar yoga.

Dari pengamatan Rsi Çuka banyak para muridnya gelisah dan gusar dan kadang-kadang timbul marah, tidak sabar menunggu sampai ada yang protes; bahwa pelajaran dimulai saja, mengapa kita dibeda-bedakan antara orang biasa dengan raja. Setelah raja datang dharma wecana baru dimulai dan Rsi Çuka memberikan wejangan; diantara kita harus dapat mengendalikan diri, sad ripu, dan amarah, sehingga ketenangan batin dapat diwujudkan pada diri kita masing-masing. Setelah dharma wecana selesai maka pelajaran dilanjutkan dengan yoga, semadi. Pembelajaran ini dilakukan dengan penuh konsentrasi, pikiran-pikiran siswanya terpusat pada proses pembelajaran.

Suasana khusuk, hening, sepi tercipta di pasraman Rsi Çuka. Sesekali hanya suara jangkrik yang terdengar, para muridnya sedang asyik melakukan yoga semadi, tiba-tiba Rsi Çuka berteriak bahwa sedang  ada  ‘kebakaran’  di kota kerajaan. Di antara para murid nya pada bubar, berlarian pergi ke kota kerajaan ingin menyelamatkan harta dan rumahnya yang kebakaran. Tetapi raja Jenaka tidak bergeming sedikitpun, dia telah masuk dalam keadaan semadi, beliau berbahagia dalam atman. Rsi Çuka mengamati wajah Raja Jenaka dengan perasaan sangat gembira. Setelah beberapa murid-muridnya yang lari kembali dan menyampaikan bahwa di kota raja tidak ada kebakaran, Rsi Çuka pun memberikan penjelasan arti dari peristiwa tersebut. 

Penundaan mulainya dharma wecana adalah untuk menghormati raja, karena beliau telah menghapuskan keakuan nya, kebangsawanannya dan mempunyai kerendahan hati dengan tekun berlatih mengendalikan sad ripu serta berhasil dengan sangat baik. Ini perlu dicontoh oleh semua siswa, katanya. Dan peristiwa kebakaran di kota kerajaan sebenarnya tidak pernah terjadi, peristiwa kebakaran adalah rekayasa Rsi Çuka dan itu merupakan salah satu materi ujian dari Rsi Çuka. Kalau mau berhasil sebagai seorang spiritual (yoga) harus berani melepaskan semua ikatan keduniawian. Tanpa ada kemauan untuk melenyapkan keterikatan duniawi ini tertutup kemungkinanya dapat mencapai tujuan sebagai seorang yogi (http://hinduismegue.blogspot.com - 27 Juli 2014).

Pelatihan-pelatihan itu membutuhkan ketekunan, ketulusan, kesujudan, keyakinan dan tanpa pamrih. Akhir-akhir ini tidak sedikit umat sedharma dari berbagai tingkatan usia sedang melakukan latihan-latihan yoga dan semadi. Berbagai judul buku penuntun berlatih yoga dan semadi untuk yang baru memulai belajar sudah cukup banyak beredar di toko-toko buku. Suasana ini sangat membantu umat Hindu untuk meningkatkan pembelajaran spiritualnya melalui ajaran raja marga yoga.

Untuk dapat mewujudkan tujuan hidup umat sedharma dan tujuan Agama Hindu, setiap individu dapat memilih di antara  ke  empat  marga  yoga (catur marga/yoga) tersebut. Pada hakikatnya semuanya adalah sama tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya, yang utama adalah bagaimana umat dengan sungguh-sungguh, yakin, tulus, dan disiplin untuk melaksanakannya. Segala sesuatu yang dilaksanakan dengan sungguh- sungguh, yakin, tulus, dan penuh disiplin maka betapapun sulitnya hambatan dan tantangan yang dihadapi termasuk untuk mencapai ‘moksa’ akan dapat diwujudkan.

Dikutip dari buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII Hal. 37-38
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015


Subscribe to receive free email updates: