Bukti-Bukti Monumental Peninggalan Prasejarah dan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

MUTIARAHINDU -- Zaman Prasejarah tidak meninggalkan bukti-bukti berupa tulisan. Zaman prasejarah hanya meninggalkan benda-benda atau alat-alat hasil kebudayaan manusia. Peninggalan seperti itu disebut dengan artefak. Artefak dari zaman prasejarah terbuat dari batu (jaman batu atau teknologi jaman batu) tanah liat dan perunggu (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:129).

Bukti-Bukti Monumental Peninggalan Prasejarah dan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
Kawasan Situs Cibalay di Ciampea, di kaki Gunung Salak.
Photo: @pamanridwan
Baca: Teori-Teori Masuknya Agama Hindu ke Indonesia

Berikut ini peninggalan zaman prasejarah di Indonesia.

1. Kapak Genggam
Kapak genggam juga disebut dengan  nama kapak perimbas. Alat ini berupa batu yang dibentuk menjadi semacam kapak. Teknik pembuatannya masih kasar, bagian tajam hanya pada satu sisi. Alat tersebut belum bertangkai, dan digunakan dengan cara digenggam. Daerah atau tempat ditemukannya benda prasejarah ini adalah di wilayah Indonesia, antara lain di; Lahat Sumatera   Selatan,   Kalianda, Lampung, Awangbangkal Kalimantan Selatan, Cabbenge Sulawesi Selatan dan Trunyan Bali. 

2. Alat Serpih
Alat serpih adalah merupakan batu pecahan sisa dari pembuatan kapak genggam yang dibentuk menjadi tajam. Alat tersebut berfungsi sebagai serut, gurdi, penusuk dan pisau. Daerah atau tempat ditemukannya benda-benda pra-sejarah ini adalah; di daerah Punung, Sangiran, dan Ngandong (lembah Sungai Bengawan Solo); Gombong Jawa Tengah; lahat; Cabbenge; dan Mengeruda Flores Nusa Tenggara Timur. 

3. Sumateralith
Sumateralith nama lainnya adalah Kapak genggam Sumatera. Teknik atau cara pembuatannya adalah lebih halus dari kapak perimbas. Bagian tajam sudah ada pada di kedua sisi. Cara menggunakannya masih digenggam. Daerah tempat ditemukannya benda prasejarah ini adalah bertempat di daerah Lhokseumawe Aceh dan Binjai Sumut.

4. Beliung persegi
Beliung persegi adalah merupakan alat alat- alat penemuan jaman prasejarah dengan permukaan memanjang dan berbentuk persegi   empat.   Seluruh   permukaan  alat tersebut telah digosok halus. Sisi pangkal diikat pada tangkai, sisi depan diasah sampai tajam. Beliung persegi berukuran besar berfungsi sebagai cangkul. Sedangkan yang berukuran kecil berfungsi sebagai alat pengukir rumah atau pahat. Daerah tempat ditemukan benda prasejarah ini adalah di beberapa daerah Indonesia, seperti; Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi. Gambar: 3.14 ini adalah hasil temuannya;

5. Kapak Lonjong
Kapak Lonjong adalah merupakan alat penemuan jaman prasejarah yang berbentuk lonjong. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam. Alat ini dapat digunakan untuk memotong kayu dan berburu. Daerah ditemukan benda ini adalah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti di; Sulawesi, Flores, Tanimbar, Maluku dan Papua. Gambar: 3.15 ini adalah hasil temuannya;

6. Mata panah
Mata panah adalah merupakan benda prasejarah berupa alat berburu yang sangat penting. Selain untuk berburu, mata panah digunakan untuk menangkap ikan, mata panah dibuat bergerigi. Selain terbuat dari batu, mata panah juga terbuat dari tulang. Daerah ditemukan benda prasejarah adalah di; Gua Lawa, Gua Gede, Gua petpuruh (Jatim), Gua Cakondo, Gua Tomatoa kacicang, Gua Saripa (sulsel) (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:131).

7. Alat dari tanah liat
Alat dari tanah liat adalah peralatan jaman pra sejarah yang dibuat dari tanah liat. Benda-benda tersebut antara lain; Gerabah, alat ini dibuat secara sederhana, tapi pada masa perundagian alat tersebut dibuat dengan teknik yang lebih maju.

8. Bangunan megalithic
Bangunan megalithic adalah bangunan- bangunan yang terbuat dari batu besar didirikan untuk keperluan kepercayaan. Bentuk bangunan ini biasanya tidak terlalu halus, hanya diratakan secara sederhana untuk dapat dipergunakan seperlunya. Adapun hasil-hasil terpenting dari kebudayaan megalithic antara lain: Menhir, Dolmen, Sacophagus (kranda), Batu kubur, dan Punden berundak-undak.

9. Nekara dari perunggu
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Diantara nekara-nekara yang  ditemukan  di negeri kita, sangat sedikit yang masih utuh, kebanyakan di antaranya sudah rusak dan yang tertinggal hanya berupa pecahan- pecahan sangat kecil. Adapun tempat ditemukannya Nekara perunggu di negara kita antara lain seperti di; Sumatera, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan Kepulauan Kei. Di Alor juga terdapat Nekara, namun bentuknya lebih kecil dan ramping, dibandingkan dengan nekara yang terdapat di daerah lainnya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:132).

Baca: Sejarah Masuknya Agama Hindu di Indonesia dan Perkembangannya

1. Peninggalan Sejarah Hindu di Indonesia
Sejarah menyatakan bahwa “Maha Rsi Agastya” yang menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan sebagai bukti yang terdapat pada beberapa prasasti di pulau  Jawa dan lontar-lontar di pulau Bali. Menurut data peninggalan sejarah tersebut dinyatakan bahwa Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia melalui Sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Karena begitu besar jasa-jasa Rsi Agastya dalam penyebaran ajaran Agama Hindu, maka namanya  disucikan di dalam prasasti, antara lain; Prasasti Dinaya yang berada di Jawa Timur dan bertahun Saka 682, dimana seorang patih raja yang bernama Gaja Yana membuatkan pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud untuk memohon kekuatan suci dari beliau (Rsi Agastya). Dan Prasasti Porong di Jawa Tengah bertahun Saka 785, juga menyebutkan keagungan serta kemuliaan jasa-jasa Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka terdapat istilah atau julukan yang diberikan untuk beliau, diantaranya Agastya Yatra yang artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Dan julukan Pita Segara, yang artinya “Bapak dari Lautan” karena beliau yang mengarungi lautan luas demi untuk Dharma.

Sebelum pengaruh Hindu masuk dan diterima oleh Bangsa Indonesia, berdasarkan hasil penelitian yang diadakan oleh J. Brandes menyatakan bahwa Bangsa Indonesia telah mengenal sepuluh (10) macam unsur kebudayaan asli. Kesepuluh jenis kebudayaan asli itu meliputi; sistem berlayar, sistem perbintangan, sistem mata uang, sistim gerabah, seni membatik, seni wayang, sistem berburu, pola menetap, sistem bertani, dan sistem religi. Dari berbagai sistem yang dikenal itu mereka meninggalkan berbagai kebudayaan seperti; yang berasal dari zaman megalith dan perunggu berupa; menhir, dolmen, sarkopagus, kuburan batu “pandhusa”, punden berundak-undak, arca perwujudan nenek moyang, dan berbagai jenis nekara. Bangsa Indonesia telah mengenal dan menganut sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang- nya. Pemujaan kepada roh nenek moyang mempergunakan arca perwujudan. Arca perwujudan itu diletakkan pada tempat “tanah” yang lebih tinggi dalam bentuk funden berundag-undag. Tekhnis pemujaan kepada arwah leluhurnya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:133).

Bersamaan dengan berkembangnya pengaruh Hindu keseluruh dunia termasuk Indonesia,  maka  terjadilah  akulturasi  antara  kebudayaan  asli  Indonesia dengan kebudayaan India yang dijiwai oleh agama Hindu. Selanjutnya secara berangsur-angsur peradaban Hindu mempengaruhi dan menjiwai peradaban asli Indonesia sesuai dengan sifat-sifatnya. Untuk semuanya itu terkait tentang bukti-bukti peninggalan sejarah ke ‘Hindu’ an, dapat diuraikan sebagai berikut;

1) Kutai
Kutai terletak di Pulau Kalimantan bagian Timur. Pada abad ke empat (4) Masehi berkembanglah disana sebuah kerajaan yang bernama Kutai, dipimpin oleh Aswawarman  yang  disebut-  sebut sebagai putra dari Kundungga. Di Kutai diketemukan 7 buah Prasasti yang berbentuk Yupa. Yupa adalah tiang batu/tugu peringatan untuk melaksanakan upacara kurban. Yupa sebagai prasasti bertuliskan huruf Pallawa, berbahasa sanskerta dan tersusun dalam bentuk syair. Salah satu diantara batu bertulis tersebut ada yang menuliskan “Sang Maha Raja Kundungga yang amat mulia, mempunyai putra yang masyur, Sang Açwawarman namanya, seperti Ançuman (Deva Matahari), menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Açwawarman mempunyai tiga putra, seperti api yang suci ketiganya. Yang terkemuka dari ketiganya  itu  ialah  Sang  Mulawarman  raja yang bijaksana, kuat, dan berkuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan yajna dengan mempersembahkan emas yang banyak”. Pada bagian lain disebutkan pula bahwa “Sang Mulawarman raja mulia dan terkemuka, telah mempersembahkan yajna berupa dua puluh ribu (20.000) ekor sapi kepada para brahmana bertempat di lapangan suci waprakeswara. Waprakeswara adalah lapangan suci sebagai tempat untuk memuja Çiwa.

R. Soekmono menyatakan bahwa, Kundungga adalah bukan kata sanskerta. Kundungga adalah seorang kepala suku penduduk asli Indonesia yang belum banyak mendapat pengaruh kebudayaan India. Purbatjaraka mengatakan, bahwa Kundungga bukan sosok yang terkenal di India. Mungkin beliau adalah orang Indonesia asli yang sudah menerima pengaruh kebudayaan India. Sehingga nama-nama keturunannya disesuaikan  dengan  budaya  India selatan. Sebagaimana kita ketahui melalui penuturan sejarah bahwa budaya orang-orang India selatan sering mempergunakan akhiran “warman” (pelindung) dalam memberikan nama-nama keturunannya. Sedangkan, Krom menyatakan bahwa, Kundungga adalah tipe India Selatan, karena disana diketemukan istilah tempat yang disebut Kundukura (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:134).

Dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ilmuwan tersebut di atas tentang asal sebutan Kundungga, yang utama patut kita ketahui dan diingat adalah apa saja peninggalan agama Hindu yang terdapat di Kutai pada masa lalu sampai sekarang. Berdasarkan penemuan peninggalan sejarah berupa batu bertulis (Yupa) dapat diketahui bahwa Agama Hindu telah berkembang dengan subur di Kutai. Hindu sebagai agama telah diterima oleh masyarakat Kutai dan pada abad ke empat (4) Masehi. Adapun pengaruh agama Hindu yang diterima oleh masyarakat Kutai adalah Hindu ajaran çiwa.

2) Jawa Barat
Jawa Barat merupakan bagian dari pulau jawa. Pada zaman raja-raja di nusantara ini, Jawa Barat merupakan salah satu daerah pusat berkembangnya Agama Hindu. Disekitar tahun 400-500 Masehi Jawa Barat diperintah oleh seorang raja yang bernama “Purnawarman” dengan kerajaannya bernama Taruma Negara. Kerajaan Taruma Negara meninggalkan banyak prasasti, diantaranya adalah prasasti; Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu, dan prasasti Canggal. Prasasti-prasasti itu kebanyakan ditulis dengan mempergunakan hurup Pallawa dan berbahasa sanskerta yang digubah dalam bentuk syair (Soekmono, “Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II” Kanisius, 1973).

Penemuan sebuah prasasti yang mengungkapkan tentang kehidupan manusia memiliki nilai tersendiri dalam membicarakan perkembangan agama Hindu di nusantara ini. Dalam prasasti Ciaruteun terdapat lukisan dua telapak kaki Sang Purnawarman yang disamakan dengan tapak kaki Deva Wisnu. Ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa raja Purnawarman penganut ajaran Hindu. Deva Wisnu dalam konsep Ketuhanan ajaran Hindu merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi sebagai Deva kemakmuran. Gambar telapak kaki gajah dari Sang Raja kita dapat temukan didalam prasasti Kebon Kopi, ini dapat dihubungkan dengan telapak kaki gajah Airawata (gajah Indra). Prasasti Tugu yang terdapat di Jakarta menuliskan bahwa, raja Purnawarman dalam tahun pemerintahannya yang ke 22 telah berhasil menggali sebuah sungai yang disebut sungai gomati. Sungai ini memiliki panjang 6122 busur ± 12 Km dalam waktu 21 hari. Setelah selesai diakan upacara korban serta sedekah berupa 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Dalam prasasti Canggal yang mempergunakan angka tahun candra sengkala “Sruti Indra rasa” berarti tahun 654 çaka (tahun 732 masehi) menyebutkan bahwa, Raja Sanjaya mendirikan sebuah Lingga sebagai simbol memuja Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Çiwa. Dalam prasasti ini juga memuat kata-kata pujian kepada Deva Brahma, Wisnu, dan Çiwa. Hal ini dapat dihubungkan dengan konsepsi Tri Murti (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:135).

Seluruh penemuan tersebut dapat dipergunakan sebagai referensi bahwa pada masa pemerintahan raja Purnawarman di Jawa Barat Agama Hindu dapat berkembang dengan sangat berat dan beliau adalah penganut Hindu idialis. Berikut ini adalah catatan peninggalan sejarah berupa Prasasti di Indonesia, antara lain:

No. Nama Prasasti =Lokasi Penemuan= Pembuatan =Peninggalan
1 Kutai= Kutai, Kaltim =Abad ke-4 M =Kutai
2 Ciaruteun =Bogor, Jabar =Abad ke-5 M =Tarumanegara
3 Tugu =Cilincing, Jakut= Abad ke-5 M =Tarumanegara
4 Jambu= Bogor, Jabar =Abad ke-5 M=Tarumanegara
5 Kebon Kopi =Bogor, Jabar =Abad ke-5 M =Tarumanegara
6 Cidanghiang =Pandeglang= Abad ke-5 M =Tarumanegara
7 Pasir Awi= Leuwiliang, Jabar =Abad ke-5 M= Tarumanegara
8 Muara Cianten= Bogor, Jabar =Abad ke-5 M =Tarumanegara
9 Canggal =Magelang, Jateng =Abad ke-7 M= Mataram Lama
10 Kalasan =Yogyakarta= Tahun 732 M= Mataram Lama
11 Dinoyo= Malang, Jatim =Tahun 760 M =Mataram Lama
12 Kedu= Temanggung, Jateng =Tahun 778 M= Mataram Lama
13 Sanur= Bali= Abad ke-9 M =Bali

Prasasti adalah benda peninggalan sejarah yang berisi tulisan dari masa lampau. Tulisan itu dicatat di atas batu, logam, tanah liat, dan tanduk binatang. Prasasti peninggalan Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tertua adalah Prasasti Yupa, dibuat sekitar tahun 350-400
M. Prasasti Yupa berasal dari Kerajaan Kutai. Yupa adalah tiang batu yang digunakan pada saat upacara korban. Hewan kurban ditambatkan pada tiang ini. Prasasti Yupa terdiri dari tujuh batu bertulis. Isi Prasasti Yupa adalah syair yang mengisahkan Raja Mulawarman. Berikut ini daftar prasasti-prasasti peninggalan kebudayaan Hindu.

3) Jawa Tengah
Suburnya peradaban agama Hindu di Jawa Tengah dapat kita ketahui dari diketemukannya prasasti Tukmas. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pallawa, berbahasa sanskerta dengan tipe tulisan berasal dari tahun 650 Masehi. Prasasti Tukmas memuat gambar-gambar atribut; Deva Tri Murti, seperti; Triçula lambang Deva Çiwa, Kendi lambang Deva Brahma, dan Cakra lambang Deva Wisnu. Prasasti ini juga menjelaskan tentang adanya sumber mata air yang jernih dan bersih yang dapat disamakan dengan sungai Gangga (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:136).

Sumber berita Tionghoa berasal dari masa pemerintahan raja-raja Tang  tahun 618-696 Masehi. Di Jawa Tengah dinyatakan berdiri Kerajaan Kaling yang pada tahun 674 Masehi diperintah oleh raja perempuan bernama “Raja Sima” yang memiliki sistem pemerintahan sangat jujur. Dikatakan Raja  Sima secara sengaja menaruh kantong berisi emas di tengah jalan, dan tidak seorangpun berani menyentuhnya. Dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun secara kebetulan kantong tersebut disentuh oleh kaki putranya. Hukuman mati dijatuhkan kepada putranya itu, namun setelah abdinya mengajukan permohonan hukuman potong kaki mengingat yang salah adalah kaki putranya, hukuman potong kaki untuk putranya pun dilaksanakan. Selanjutnya menurut prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi menyebutkan bahwa  Raja Sanjaya mendirikan Lingga sebagai tempat pemujaan Çiwa bertempat disebuah bukit Kunjarakunja. Di Gunung wukir terdapat candi induk dengan 3 buah candi perwara, di dalam candi induk terdapat Yoni sebagai alas Lingga. Raja Sanjaya adalah putra raja Sanaha sebagai saudara perempuan dari Raja Sima. Sanjaya adalah penerus dari kerajaan Mataram di Jawa Tengah.

Berdasarkan penuturan sejarah Jawa Tengah tersebut dapat ditarik suatu pernyataan bahwa pada masa pemerintaha raja-raja disana telah tumbuh peradaban Agama Hindu dengan sangat baik. Para raja dan masyarakatnya telah mendapat tuntunan ajaran agama dengan sangat baik sehingga kehidupan pada umumnya mejadi damai dan masyarakatnya-pun dapat mencapai kemakmuran dan keadilan. Semunya itu terjadi karena ajaran Hindu dipahami, dipelajari, dan dipraktikan dengan sungguh-sungguh, yang dapat dibuktikan dengan adanya beberapa peninggalan candi sebagai sarana pemujaan Tuhan oleh umat sedharma. Berikut ini adalah daftar peninggal candi Hindu di Indonesia;

No. =Nama Candi =Lokasi Penemuan =Pembuatan= Peninggalan
1 Prambanan= Yogyakarta =Abad ke-7 M =Mataram Lama
2 Dieng =Dieng, Jawa Tengah =Abad ke-7 M =Mataram Lama
3 Badut =Malang, Jawa Timur= Tahun 760 M =Kanjuruhan
4 Canggal =Jawa Tengah =Abad ke-8 M= Mataram Lama
5 Gedong Sanga ==Jawa Tengah =Abad ke-8 M =Mataram Lama
6 Penataran =Blitar, Jawa Timur =Abad ke-11 M =Kediri
7 Sawentar= Blitar Jawa Timur =Abad ke-12 M =Singasari
8 Candi Kidal= Jawa Timur =Abad ke-12 M =Singasari
9 Singasari =Jawa Timur =Abad ke-12 M =Singasari
10 Sukuh =Karang Anyar, Jateng =Abad ke-13 M =Majapahit (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:137).

Candi Prambanan dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak. Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utamanya adalah setinggi 47 m. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama yang kokoh dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta.

Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia. Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca, PuntaDeva, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati. Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm.

Candi Srikandi terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan bilik penampil. Candi Badut terletak di kawasan Tidar, kota Malang. Candi ini diperkirakan berusia lebih  dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo pada tahun 760 Masehi silam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:138).

Kata Badut di sini berasal dari bahasa sansekerta “Bha-dyut” yang berarti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya. Candi ini ditemukan pada tahun 1921 dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya.

4) Jawa Timur
Keberadaan kerajaan Kanjuruan dapat kita pergunakan sebagai salah satu landasan untuk mengetahui peradaban agama Hindu di Jawa Timur. Prasasti Dinaya merupakan bukti peninggalan sejarah kerajaan Kanjuruan. Prasasti ini banyak membicarakan tentang perkembangan agama Hindu di Jawa Timur. Prasasti Dinoyo ditulis mempergunakan hurup kawi (Jawa Kuno) dengan bahasa sanskerta menuliskan angka tahun 760 Masehi. Dikisahkan bahwa dalam abad ke 8 kerajaan yang berpusat di Kanjuruan bernama Deva Simha. Beliau memiliki putra yang bernama Limwa, setelah menggantikan ayahnya sebagai raja bernama Gajayana. Raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk memuliakan Maha Rsi Agastya. Arca Maha Rsi Agastya pada mulanya terbuat dari kayu cendana, kemudian diganti dengan arca batu hitam.

Peresmian arca Maha Rsi Agastya dilaksanakan dalam tahun 760 Masehi. Pelaksanaan upacaranya dipimpin oleh para pendeta ahli Veda. Pada saat itu pula Raja Gajayana dikisahkan mengahadiahkan tanah, lembu, dan bangunan untuk para brahmana dan para tamu. Dinyatakan bahwa salah satu bentuk bangunan itu yang berasal dari zaman kerajaan Kanjuruan adalah “Candi Badut”. Di dalam candi inilah diketemukan sebuah lingga sebagai perwujudan dari Deva Çiwa. Di dalam prasasti Dinaya juga dituliskan tentang perjalanan Maha Rsi Agastya dari India menuju Indonesia untuk menyebarkan dan mengajarkan Agama Hindu.

Selanjutnya perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur dapat kita ketahui dari berdirinya Dinasti Isyanawangça yang berkuasa tahun 929-947 Masehi (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:139).

Dinasti ini diperintah oleh Mpu Sendok, yang mempergunakan gelar  “Isyana Tunggawijaya”. Isyana Tunggawijaya berarti raja yang memuliakan pemujaan kehadapan Deva Çiwa. Setelah kekuasaan Isyana Tunggawijaya berakhir, berkuasalah raja Airlangga yang memerintah sampai tahun 1049 Masehi. Raja Airlangga dinobatkan sebagai pengganti raja Dharmawangça yang memerintah sampai tahun 1019 Masehi. Beliau bergelar “Çri Maharaja Rake Halu Çri Lokeçwara Dharmawangça Airlangga Anantawikramottungga Deva” yang dinobatkan oleh Pendeta Çiwa dan Budha. Raja Airlangga setelah mengundurkan diri dari tahtanya, beliau wafat tahun 1049 Masehi dan dimakamkan di candi belahan. Airlangga diwujudkan sebagai Deva Wisnu dengan arca wisnu duduk di atas garuda.

Banyak karya sastra bernafaskan ajaran Agama Hindu diterbitkan pada zaman Dharmawangça, diantaranya kitab Purwadigama yang bersumber pada kitab Menawa Dharmasastra. Sedangkan kitab Negara Kertagama, Arjuna Wiwaha, Sutasoma dan yang lainnya muncul pada zaman Majapahit. Pada zaman ini juga dibangun berbagai macam candi seperti candi Penataran di Blitar. Berdasarkan petunjuk peninggalan sejarah seperti tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa peradaban Agama Hindu di Jawa Timur sangat pesat.

Wujud patung Hindu antara lain hewan dan manusia. Patung berupa hewan dibuat karena hewan tersebut dianggap memiliki kesaktian. Patung berupa manusia dibuat untuk mengabadikan tokoh tertentu dan untuk menggambarkan Deva Devi. Contoh patung peninggalan kerajaan Hindu yang terkenal adalah Patung Airlangga sedang menunggang garuda. Dalam patung itu, Airlangga digambarkan sebagai penjelmaan Deva Wisnu. Jenis Patung peninggalan Hindu Indonesia adalah;

No. =Nama Patung =Lokasi Penemuan= Pembuatan =Peninggalan
1 Trimurti =- =- =-
2 Dwarapala =Bogor, Jabar= Abad ke-5 M= Tarumanegara
3 Wisnu Cibuaya I =Cibuaya, Jabar= Abad ke-5 M= Tarumanegara
4 Wisnu Cibuaya II =Cibuaya, Jabar= Abad ke-5 M =Tarumanegara
5 Rajasari =Jakarta =Abad ke-5 M =Tarumanegara
6 Airlangga =Medang Kemulan =Abad ke-10 M =Medang Kemulan
7 Ken Dedes =Kediri, Jatim= Abad ke-12 M= Kediri
8 Kertanegara =Jawa Timur =Abad ke-12 M= Singasari
9 Kertarajasa =Mojekerto, Jatim =Abad ke-13 M= Majapahit (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:140).

5) Bali
Keberadaan agama Hindu di Bali merupakan kelanjutan dari agama Hindu yang berkembang di Jawa. Pertama kalinya disebut-sebut dikembangkan oleh Maha Rsi Markandheya bertempat di Besakih yang sekarang dikenal dengan nama ‘Pura Besakih’. Agama Hindu yang datang ke Bali disertai oleh Agama Budha. Setelah di Bali kedua agama tersebut berakulturasi dengan harmonis dan damai. Kejadian ini sering disebut dengan sinkritisme Çiwa- Budha. Di sekitar zaman pra sejarah sebelum pengaruh Hindu berkembang di Bali masyarakatnya telah mengenal sistem kepercayaan dan pemujaan.
  1. Kepercayaan kepada gunung sebagai tempat suci. Gunung oleh masyarakat Bali dipandang sebagai tempat bersemayamnya para roh nenek-moyang yang telah disucikan.
  2. Sistem penguburan yang mempergunakan sarkopagus (peti mayat). Setiap orang yang meninggal dikubur dengan kepala menuju arah gunung dan kakinya menuju arah laut. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita bahwa gunung dan laut melambangkan sebagai ulu dan teben, kepala dan kaki, purusa dan peredana, serta utama mandala dan nista mandala.
  3. Kepercayaan adanya alam sekala dan niskala. Alam sekala merupakan tempat hidup dan kehidupan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan alam niskala diyakini sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya dan roh suci manusia setelah meninggalkan jasadnya.
  4. Kepercayaan adanya penjelmaan (Punarbhawa). Masyarakat Bali “Hindu” percaya bahwa roh seseorang yang meninggalkan jasadnya setelah kurun waktu tertentu menjelma kembali ke dunia nyata ini.
  5. Kepercayaan bahwa roh nenek-moyang orang bersangkutan dapat setiap saat memberikan perlindungan, petunjuk, sinar dan tuntunan rohani kepada generasinya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:141).

Demikianlah sistem kepercayaan masyarakat Bali sebelum pengaruh ajaran Hindu datang ke Bali. Sistem kepercayaan masyarakat Bali nampak memiliki pola sangat sederhana. Setelah datangnya Maha Rsi Markhandeya di Bali pola kepercayaan yang sederhana itu kembali disempurnakan. Keterangan tentang Maha Rsi Markhandeya menyebarkan pengaruh Hindu di Bali dapat diketahui melalui kitab Markhandeya Purana. Kitab tersebut menyatakan bahwa untuk pertama kalinya pengaruh Hindu di Bali disebarkan oleh Maha Rsi Markhandeya. Beliau datang ke Bali diperkirakan disekitar abad ke 4-5 Masehi melalui gunung Semeru (Jawa Timur) menuju daerah gunung Agung (Tolangkir) dengan tujuan hendak membangun asrama atau penataran. Kedatangan beliau untuk pertama kalinya diikuti oleh 400 orang pengiring, namun dikisahkan kurang berhasil. Setelah pulang ke Jawa, beliau kembali datang ke Bali dengan pengiring sebanyak 2000 orang. Kedatangan beliau yang ke dua ini berhasil menanam panca datu di kaki gunung Agung (Besakih) sekarang.

Selanjutnya dikisahkan bahwa Maha Rsi Markhandeya berkehendak untuk merabas hutan untuk dijadikan sawah guna meningkatkan kesejahtraan para pengiringnya. Hutan yang dirabas itu bernama Desa Sarwada (Desa Taro) sekarang. Di Desa Sarwada inilah beliau mendirikan tempat suci yang sekarang bernama Pura Desa Taro. Pada tempat suci ini beliau meninggalkan sebuah prasasti yang isinya mengisahkan kebesaran jiwa Maha Rsi Markhandeya.

Selama menetap di Bali Maha Rsi Markhandeya secara berangsur-angsur mulai meningkatkan kepercayaan masyarakat Bali.
  1. Masyarakat Bali mulai diajarkan melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Tuduh, Sang Hyang Prama Kawi, Sang Hyang Prama Wisesa dan yang lainnya adalah sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mempersembahkan upakara api, air, bunga dan buah beliau menyembah kehadapan Surya “nyuryasewana” tiga kali sehari memuja kebesaran Tuhan. Unsur-unsur upakara yang dipersembahkan itu disebut alat-alat bebali. Selanjutnya beliau mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan adalah untuk mewujudkan keselamatan, hendaknya didahului dengan mempersembahkan bebali kehadapan Sang Hyang Widhi. Ajaran yang demikian disebut agama bebali.
  2. Pada saat itu pula mulai dikenal tentang daerah Bali. Bali diartikan daerah yang segala sesuatunya mempergunakan sesajen atau sarana bebali. Masyarakat Bali yang menjadi pengiringnya dan mendiami daerah pegunungan disebut orang-orang Bali aga (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:14).
  3. Pura Besakih mulai dibangun dan difungsikan sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Waça guna memohonkaan keselamatan umatnya. Tempat suci lainnya yang dibangun oleh beliau adalah Pura Andakasa, Lempuyang, Watukaru, Sukawana dan yang lainnya.
  4. Warna merah dan putih mulai dipergunakan sebagai ider-ider atau umbul- umbul di tempat-tempat suci. Kedua warna itu melambangkan kesucian yang bersumber dari warna surya dan bulan.
  5. Upacara bebali untuk keselamatan binatang dan peternakan ditetapkan pada tumpek kandang atau hari sabtu-kliwon wuku uye. Sedangkan untuk keselamatan tumbuh-tumbuhan ditetapkan pada tumpek pengatag atau hari sabtu-kliwon wuku wariga. Personifikasi Tuhan Yang Mahaesa yang menganugrahkan keselamatan kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan disebut Sang Hyang Rareangon dan Sang Hyang Tumuwuh.

Upaya dan usaha pelestarian agama Hindu di Bali setelah Maha Rsi Markhandeya dilanjutkan oleh Mpu Sang Kulputih. Beliau disebut-sebut sebagai pemongmong Pura Besakih. Banyak peran yang dilaksanakan dan diambil oleh beliau dalam meningkatkan peran dan kualitas Agama Hindu.
  1. Mengajarkan tentang bebali dalam bentuk seni yang mengandung makna simbolis dan suci.
  2. Mengajarkan orang-orang Bali aga menjadi orang-orang suci untuk  Pura Kahyangan, seperti; Pemangku, Jro Gede, Jro Prawayah dan Jro Kebayan. Untuk menjadikan diri orang bersangkutan suci diajarkan pula tentang tata cara melakukan tapa, brata, yoga dan semadhi.
  3. Mpu Sang Kulputih juga mengajarkan masyarakat untuk melaksanakan hari-hari suci, seperti; Galungan, Kuningan, Sugian, Pagerwesi, Tumpek, dan yang lainnya. Disamping itu juga mengajarkan tentang tatacara membuat arca lingga dari kayu, logam atau uang kepeng sebagai perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi Waça beserta manifestasinya.

Bertempat di Pura Puseh (Desa Bedulu Gianyar) ditemukan peninggalan arca Çiwa. Menurut tipenya arca itu dinyatakan serupa dengan arca Çiwa yang terdapat di Candi Dieng. A.J Bernet Kemper mengatakan arca tersebut berasal dari abad ke 8 Masehi.

Prasasti Blanjong yang berangka tahun 913 Masehi menyebutkan bahwa Raja Putri Mahendradatta yang bergelar Gunapriya Dharmapatni mangkat di Buruan Kutri Gianyar. Beliau diwujudkan dalam bentuk Dhurga Mahisa Asura Mardhani yaitu Bhatari Dhurga yang sedang membunuh para setan yang ada di badan seekor kerbau. Prasasti tersebut kini tersimpan di Pura Blanjong Sanur (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:143).

Pada masa pemerintahan Raja Marakatta Pangkaja Sthanottungga Deva tahun 944-948 çaka (1022-1026 Masehi) datanglah Mpu Kuturan ke Bali. Beliau berasal dari Jawa Timur, setibanya di Bali membangun asrama di Padangbai (Pura Silayukti) sekarang. Oleh beliau masyarakat Bali diajarkan tentang silakrama, filsafat tentang makrokosmos dan mikrokosmos, Sang Hyang Widhi, Jiwatman, Karmaphala, Wali dan Wewalen. Beliau juga mengajarkan tentang Kusuma Deva, Widhi Sastra, Sangkara Yoga dan tatacara membangun Kahyangan atau bangunan suci lainnya. Bangunan suci yang ada sampai sekarang dibangun menurut ajaran beliau adalah;
  1. Sanggah Kemulan, Taksu dan Tugu untuk setiap rumah tangga dalam satu pekarangan.
  2. Sanggah Pamrajan yang terdiri dari; Surya, Meru, Gedong, Kemulan, Taksu, Pelinggih Pengayatan Sad Kahyangan, dan Paibon serta yang lainnya, untuk penyungsungan lebih dari satu kepala keluarga/pekarangan.
  3. Pura Dadiya, Pemaksan, Panti dan yang lainnya, yang penyungsungnya lebih dari satu paibon/pemerajan.
  4. Kahyangan Tiga (Pura Puseh, Baleagung, dan Dalem) sebagai tempat memuja Tri Murti dibangun pada setiap Desa Pekraman/adat.
Selain pembangunan tempat-tempat suci tersebut di atas, beliau juga mengajarkan tentang pembangunan Kahyangan Jagat, seperti; Pura Besakih, Pura Batur, Pura Uluwatu, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Pura Goalawah, Pura Pusering Tasik dan yang lainnya.

Pada masa Pemerintahan Raja Marakatta dilaksanakanlah penghormatan kepada Maha Rsi Agastya, sebagaimana disebutkan dalam prasasti tersebut yang berangka tahun 944 Çaka. Adapun kalimatnya berbunyi “Rasa nikang sapatha Bhatara Puntahyang Hyang Anggasti Maha Rsi purwa satya daksina
….”. Lontar Dwijendra Tattwa menjelaskan bahwa “kedatangan Maha Rsi Agastya di Bali mengajarkan agama Úiwa”. Selanjutnya dinyatakan bahwa beliau mengajarkan tentang ilmu gaib (Tantrisme atau Tantra) kepada para raja dan kaum bangsawan. Ajaran inilah yang sering disebut Aywawera.

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong yang berkedudukan di Gelgel tahun 1470-1550 Masehi datanglah Dang Hyang Dwijendra di Bali. Beliau juga disebut Dang Hyang Nirartha. Kedatangan beliau di Bali melalui Blambangan- Banyuwangi, mengarungi segara rupek (selat Bali) dan sampailah di Desa Pulaki. Dari sini beliau melanjutkan perjalanan menuju Desa Gadingwangi, Desa Mundeh, Mengwi, Kapal, Tuban, Buangan dan sampailah di Desa Mas. Dalem Waturenggong memerintahkan Ki Gusti Penyarikan Dauh Baleagung untuk mendak Dhang Hyang Nirartha datang ke Puri Gelgel menjadi Purohita Kerajaan (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:144).

Dang Hyang Nirartha banyak mengajarkan pengetahuan agama kepada para raja dan masyarakat Bali.
  1. Ilmu tentang pemerintahan.
  2. Ilmu tentang peperangan (Dharmayuddha).
  3. Pengetahuan tentang smaragama (cumbwana karma) ajaran tentang pertemuan smara laki dan perempuan.
  4. Ajaran tentang pelaksanakaan mamukur, maligia, dan mahasraddha.

Sejak kedatangan beliau (Dhang Hyang Nirartha) dari Jawa ke Bali dan setelah lama menjadi Purohita di Puri Gelgel, seizin Raja Dalem Waturenggong akhirnya Dang Hyang Nirartha berasrat untuk melanjutkan mengadakan perjalanan suci mengelilingi Bali. Dari Puri Gelgel beliau berjalan menuju Pura Rambut Siwi dan selanjutnya menuju Pura Uluwatu – Bukit Gong – Bukit Payung – Sakenan – Air Jeruk – Tugu – Genta Samprangan – Tengkulak – Goa Lawah – Pojok Batu – Pengajengan – Masceti – Peti Tenget dan tempat suci lainnya serta akhirnya beliau dinyatakan moksa di Pura Luhur Uluwatu (Dwijendra Tattwa, 1993: 35).

Berdasarkan data tersebut di atas sangatlah besar jasa Dhang Hyang Nirartha di Bali. Beliau telah mengajarkan tata cara pemerintahan, keagamaan, arsitektur, kesusasteraan, pembimbing masyarakat, tatacara pembangunan pelinggih Padmasana untuk pemujaan Sang Hyang Widhi dan yang lainnya dalam rangka mempermulia keimanan umat manusia.

Prasasti Bendosari yang berangka tahun 1272 Çaka ada memuat kata-kata “Bhairawa, Sora, dan Budha”. Prasasti ini diprediksi sudah ada pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Jawa. Hal ini memberikan indikasi bahwa Raja Hayam Wuruk juga sebagai pemuja sakti, surya dan budha. Sedangkan R. Goris dalam bukunya sekte-sekte di Bali, menyebutkan bahwa Agama Hindu berkembang di Bali dengan berbagai sekte. Disebutkan ada sembilan sekte yang mendominasi, diantaranya; úekta Úiwa Úiddhanta-Paúupata-Bhairawa- Wesnawa-Bodha/Sogata, Brahma-Rsi-Sora dan Ganesa. Keberadaan berbagai úekta tersebut sampai sekarang masih hidup dan berkembang serta luluh menyatu menjadi Úiwa-Úiddhanta (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:145).

Perkembangan agama Hindu boleh dikatakan tumbuh dan berkembang dengan subur di Indonesia sejak abad permulaan sampai akhir abad ke 15. Pada abad ke 14 masehi mengalami puncak keemasan pada masa kejayaan pemerintahan Majapahit di Jawa. Sedangkan abad ke 15 masehi pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali. Tiga setengah abad berikutnya yakni pada masa pemerintahan penjajah abad ke 19 Masehi keberadaannya mengalami kekurang beruntungan. Disekitar tahun 1927 Masehi oleh penjajah, pustaka Hukum Catur Agama dirubah menjadi pasuara Residen Bali-Lombok. Kitab Hukum Dharma Sastra dijadikan hukum Adat, Pengadilan Agama dijadikan Raad Van Kerta, dan Desa Adat “Pekraman” yang berfungsi sebagai lembaga agama masyarakat disandingkan dengan Desa Dinas.

Tahun 1938 Masehi pemerintah Belanda mengubah sistem pemerintahan di Indonesia “Bali” menjadi dua kelompok:
  1. Kaula Swapraja yaitu pemerintahan kerajaan dengan menerapkan sistem keadilan Raad Van Kerta.
  2. Kaula Guperman yaitu pemerintahan penjajah dengan menerapkan sistem keadilan lembaga landra sebagai lembaga keadilan masyarakat.
Kedua sistem ini sangat kurang menguntungkan terhadap tumbuh kembangnya kehidupan beragama “Hindu” di Indonesia. Sejak awal abad ke 20 (17 Agustus 1945) Negara Kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan, setelah itu kehidupan agama ditata berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2. Ini berarti bahwa kehidupan beragama Hindu” di Indonesia telah memiliki kekuatan hukum yang pasti. Seiring dengan itu maka;
  1. Pada tanggal 3 Januari 1946 terbentuklah Departemen Agama, yang bertugas menata kembali kehidupan beragama di Indonesia.
  2. Tahun 1950 diberlakukanlah Undang-Undang Nomor 44 tahuin 1950 tentang Pemerintahan Otonom. Pemerintah Bali mulai mengadakan pembinaan kepada umat Hindu, seperti tentang perayaan Hari Nyepi, pemeliharaan Pura Besakih dan yang lainnya.
  3. Tanggal 21-23 Februari 1959 diselenggarakanlah Pesamuhan Agung Bali bertempat di Gedung Fakultas Sastra Universitas Udayana yang dihadiri oleh pejabat pemerintah yang terkait, pemuka agama dan lembaga agama yang ada pada waktu itu. Yang akhirnya memutuskan untuk membentuk lembaga tertinggi umat Hindu yang disebut Parisada Hindu Dharma Bali.
  4. Tanggal 4 Juli Yayasan  Dwijendra Denpasar mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Agama Hindu Bali. Pada tahun 1968 sekolah ini dijadikan Sekolah Pendidikan Guru Agama Hindu Negeri. Sejak itu berdirilah sekolah yang sejenis sampai ke Mataram (Lombok) dan Blitar (Jawa).
  5. Tanggal 6 Juli 1960 Pemerintah Bali menetapkan hari raya; Nyepi, Galungan, Kuningan, Saraswati dan Pagerwesi sebagai hari libur daerah Bali (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:146).
  6. Tanggal 17-23 Nopember 1961 dilaksanakanlah Pesamuhan di Campuhan Ubud, mengasilkan Keputusan yang dikenal dengan sebutan Piagam Campuhan Ubud.
  7. Tanggal 3 Oktober 1963 berdirilah Lembaga Tinggi Pendidikan Agama Hindu yang disebut Maha Widya Bhuwana Institut Hindu Dharma, sekarang UNHI.
  8. Tanggal 7-10 Oktober 1964 dilaksanakanlah Mahasabha I dengan hasil; memutuskan PHDI bersidang setiap 4 tahun sekali. PHD Bali menjadi PHD Indonesia.
  9. Tanggal 3-5 September 1992 di Denpasar telah dilaksanakan pertemuan PHD sedunia yang disebut “World Hindu Fodaration Meeting for Peace Humanity.
Karya sastra peninggalan kerajaan Hindu berbentuk kakawin atau kitab. Kitab- kitab peninggalan itu berisi catatan sejarah. Umumnya karya sastra peninggalan sejarah Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta pada daun lontar. Karya sastra yang terkenal antara lain Kitab Baratayuda dan Kitab Arjunawiwaha. Kitab Baratayuda dikarang Empu Sedah dan Empu Panuluh. Kitab Baratayuda berisi cerita keberhasilan Raja Jayabaya dalam mempersatukan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Kitab Arjunawiwaha berisi pengalaman hidup dan keberhasilan Raja Airlangga. Berikut ini daftar kitab-kitab peninggalan sejarah Hindu di Indonesia.

No. Nama Kitab Lokasi Penemuan Pembuatan Peninggalan
  1. Carita Parahayangan Bogor, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
  2. Kresnayana Bogor, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
  3. Arjunawiwaha Kahuripan, Jatim Abad ke-10 M Medang Kemulan
  4. Lubdaka Kediri, Jatim Abad ke-11 M Kediri
  5. Baratayuda Kediri, Jatim Abad ke-12 M Kediri
Tradisi:
Tradisi adalah kebiasaan nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat saat ini. Tradisi agama Hindu banyak ditemukan di daerah Bali karena penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu. Tradisi agama Hindu yang berkembang di Bali, antara lain:
  1. Upacara nelubulanin ketika bayi berumur 3 bulan.
  2. Upacara potong gigi (mapandes) (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:147).
  3. Upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben. Dalam tradisi Ngaben, jenazah dibakar beserta sejumlah benda berharga yang dimiliki orang yang dibakar.

Ziarah, yaitu mengunjungi makam orang suci dan tempat suci leluhur seperti candi.

6) Nusa Tenggara Barat
Perkembangan agama Hindu di NTB (Lombok) dapat kita ketahui dari perjalanan suci “dharmayatra” Dhang Hyang Nirartha. Beliau dikenal dengan sebutan Pangeran Sangupati. Banyak peninggalan tempat suci dan sastra Hindu yang dapat kitapergunakan sebagai reprensi bahwa Hindu pada jaman itu telah berkembang sampai di Nusa Tenggara Barat. Keberadaan agama Hindu di NTB juga tidak terlepas dari peran serta kekuasaan raja-raja Karangasem pada masa itu.

7) Nusa Tenggara Timur
Masyarakat Nusa Tenggara Timur “Sumbawa” sampai saat ini masih mengenal sebutan Tuan Semeru. Nama Tuan Semeru adalah sebutan dari Dhang Hyang Nirartha. Hal ini memberikan indikasi bahwa beliau pernah menyebarkan ajaran Hindu ke daerah ini. Sekarang keberadaan agama Hindu di daerah ini kembangkan kembali oleh para transmigrasi asal Bali.

8)  Sulawesi
Perkembangan Agama Hindu di Sulawesi diprediksi sudah ada sejak abad  ke 3 Masehi. Hal ini ditandai dengan penemuan patung Budha yang terdapat di daerah Goa yang diperkirakan pembuatan sejaman dengan patung-patung Budha yang ada di India (R.Soekmono,1973:82). Tidak banyak yang bisa kita kemukakan dengan penemuan ini. Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa perkembangan Agama Hindu tumbuh subur di wilayah ini sebagai akibat dari adanya masyarakat transmigrasi yang berasal dari Bali dan sekitarnya.

9) Papua
Tidak jauh berbeda dengan daerah Sulawesi, bahwa perkembangan ke-Hindu an yang ada di Papua disebabkan oleh karena adanya masyarakat transmigrasi. Di samping itu, juga karena adanya penduduk yang mendapatkan tugas-tugas tertentu di daerah ini.

Demikian peradaban Hindu di Indonesia, yang menurut penuturan sejarah Indonesia, di mulai dari Kalimantan, Jawa, Bali, Sumatera, dan daerah yang lainnya. Runtuhnya Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu, peradaban agama Hindu dimulai kembali dari Bali yang telah menganut paham Hindu sejak Maha Rsi Markhandeya datang di Bali sampai sekarang (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:148).

Renungan Úrimadvàlmikiya Ràmàyaóa I.1

“Etadàkhyànamàyuûyaý paþhan ràmàyaóaý naraá, saputrapautraá sagaóaá pretya svage mahiyate.

Terjemahan:

Seseorang yang membaca ceritera Ràmàyaóa ini akan memperoleh umur panjang dan setelah meninggal akan memperoleh kebahagiaan di sorga bersama putra-putranya, cucu-cucunya, dan pengikutnya .

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Subscribe to receive free email updates: