Ngembak Geni dan Banyu Pinaruh Dalam Tradisi Jawa

MUTIARAHINDU -- Ngembak Geni...sebuah rangkaian ritual dalam Hari Raya Nyepi. Istilah Geni di sini tidak mengacu kepada unsur api atau unsur apapun, melainkan sebuah kata filosofis yang lebih terkait dengan nafsu/ keinginan duniawi dalam diri setiap manusia. Ngembak Geni adalah sebuah kemenangan diri dari peperangan melawan Geni (nafsu/keinginan) saat melaksanakan Catur Brata Penyepian. 
Ngembak Geni dan Banyu Pinaruh dalam Tradisi Jawa
Banyu Pinaruh
Ritual ini sangat tampak sekali di pura yang ada di desa-desa umat Hindu etnis Jawa, setelah selama 24 jam melaksanakan Catur Brata Penyepian pada pagi harinya melaksanakan sembahyang bersama dan dilanjutkan anjangsana dari rumah ke rumah umat Hindu.

Ngembak Geni tahun ini yang jatuh pada tanggal 18 Maret 2018 bersamaan dengan Banyu Pinarab yang merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati. Banyu di sini yang secara harfiah artinya air juga merupakan kata yang Hlosofls; namun sah-sah saja jika dikaitkan dengan tirtha, dan tirtha itu bisa digunakan dengan cara diminum atau dibasuhkan atau untuk mandi.

Pinaruh sama artinya dengan Pangaweruh (dalam literatur Jawa Kuno) yang artinya Pengetahuan Yang Sejati. Jadi Banyu Pinarub yang dilaksanakan keesokkan hari setelah Hari Raya Saraswati membawa pesan bahwa hendaknya setiap manusia mandi, membasuh; meminum, mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati. Bagaimana caranya? Tentu bisa dengan mempelajari berbagai sastra suci Veda dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemenangan terhadap berbagai nafsu/keinginan (Geni) saat Catur Brata Penyepian yang secara ritual diwujudkan dalam pelaksanaan Ngembak Geni harus dilanjutkan dengan berusaha memahami hakekat hidup dan kehidupan dengan cara mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati (Banyu Pinaruh), inilah pesan yang disampaikan dalam momen pertemuan dua ritual tersebut diatas.

Sukoharjo.…sebuah kampung yang berada di Kab.Pringsewu Lampung Selatan, melaksanakan tradisi Ngembak Geni dan Banyu Pinaruh di pura yang cukup sederhana dengan umatnya yang lugu dan sederhana dengan balutan tradisi Jawa yang sederhana pula. Namun dalam berbagaikesederhanaan itu terpancar cahaya kebersamaan, semangat keagamaan, tulus-lascarya dalam satu cipta, rasa dan karsa; satu hari, satu visi, satu hakekat kehidupan sebagai umat Hindu yang hidup bersama-sama dalam satu wilayah.

Lantunan kidung-kidung Jawa yang begitu merdu mengiringi pemangku yang sedang menghaturkan puja dan beberapa umat yang larut dalam keheningan pikiran (meditasi). Sebelum memulai puja Tri Sandhya diawali dengan bersama-sama melantunkan Puja Ganesha, dan terdengar jelas di telinga penulis semuanya mengucapkan dengan fasih, meski belum lama ditradisikan mengingat dua tahun yang lalu pengucapan Mantra Ganesha belum ditradisikan.

Bila dirujuk ke Purana sebagai sastranya maka memuja Ganesha terlebih dahulu 1tu penting agar Dia menyingkirkan berbagai halangan dan rintangan dalam kegiatan apapun yang kita lakukan. Di rumah bersama anakanak penulis juga terbiasa japa Ganesha terlebih dahulu sebelum pemujaan lebih lanjut.

Setelah Puja Ganesha lalu dilanjutkan dengan pengucapan bersama-sama mantra untuk menyucikan dupa dan bunga; dan dilanjutkan dengan puja Tri Sandhya dan Kramaning Sembah lalu diakhiri dengan lantunan puja bersama-sama kepada Shakti (Saraswati/ Laksmi/Durgha).

Dan menurut penulis pakem ini tidak salah ataupun menyalahi Bhisama PHDI karena pakem dasar dalam Bhisama PHDI tentang tata cara persembahyangan dari Tri Sandhya hingga Kramaning Sembah masih dilaksanakan secara lengkap.

Bhisama menjadi dasar pedoman untuk selanjutnya bisa dikembangkan sesuai dengan Iksa Sakti Desa Kala Patra setempat. Justru ketika ditambah-kan japa di dalamnya maka itu sebuah nilai plus yang bisa dicontoh bukan malah dipertanyakan ataupun dikritik.

Setelah kegiatan persembahyangan selesai semua umat melingkar saling berjabat tangan ada juga yang berpelukan bahkan sampai meneteskan air mata bahagia. Saling merasakan satu kebersamaan sebagai keluarga besar Hindu, satu hati, satu jiwa, satu kehidupan. Betapa terlihat dan terasa, sungguh suasana haru dan bahagia yang tidak terbendung. Baik mereka yang sudah usia senja maupun yang muda tidak akan sanggup menyembunyikan rasa haru dan bahagia itu.

Acara kemudian dilanjutkan di bale nista mandala untuk menikmati prasadam secara bersama-sama. Semua haturan (ada nasi, lauk-pauk, buahbuahan, hasil bumi yang sudah dimasak, dll) yang dibawa secara pribadi dari rumah dikumpulkan menjadi satu di . tengah-tengah bale. Rasa kepemilikkan sudah sirna, tidak ada lagi yang merasa “itu prasadamku”. Lalu beberapa orang membagikan alas kertas/ daun kepada setiap umat dan yang lain membagikan semua prasadam secara merata hingga habis dan dilanjutkan dengan menikmati prasadam secara bersama-sama.

Selesai semua kegiatan persembahyangan di pura kemudian dilanjutkan dengan anjangsana (mengunjungi) dari rumah ke rumah umat Hindu dan disuguhkan berbagai makanan sebagai sevanam keluarga Hindu saat perayaan Nyepi terhadap tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan Sugeng riyadin Nyepi” .

Terlihat jelas bahwa sebagian besar umat Hindu yang sedang merayakan Nyepi memasang penjor di depan rumah masing-masing sebagai identitas.

Penulis: Agus Widodo
Source: Media Hindu Edisi 172 Juni 2018






Subscribe to receive free email updates: