Meru Ekspresi Kuasa Leluhur

MUTIARAHINDU -- Meru mulai dikenal saat Mpu Kuturan menata Bali Dwipa. Bentuk pelinggih beratap tumpang ini awalnya dikembangkan terkait stana pemujaan tiga dewa Tri Murti yang akan di tempatkan di Pura Kahyangan Jagat. Tujuannya melengkapi konsepsi pemujaan Tri Murti yang dikembangkan di tingkat rumah tangga, yakni perluasan fungsi pelinggih kemulan (rong tiga), tidak saja untuk memuja leluhur namun juga untuk stana dewa Tri Murti, demikian juga pada skala Desa Pakraman/Adat dibangun Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem), serta dirancang pelinggih meru tumpang tiga untuk di Pura yang berstatus Kahyangan Jagat.

Meru Ekspresi Kuasa Leluhur
Pelinggih Meru di Besakih
Bertolak dari bentuk meru tumpang tiga ini, kemudian dikembangkan lebih luas menjadi bentuk meru tumpang lima, tujuh, sembilan, sebelas, dan tumpang dua. Kuasa dewa-dewa penjuru mata angin (pengider-ideran) melandasi rancangan ini. Tingkatan atap tumpang meru merupakan simbolisasi pengelukunan dasa aksara (penyatuan sepuluh huruf suci) sebagai jiwa (pangurip) dari alam semesta. Sepuluh huruf suci tersebut merupakan urip bhuwana “jiwa alam semesta” yang letaknya di sepuluh penjuru alam semesta yang disatukan ditengah. Hal ini menegaskan para dewatalah yang berkuasa atas hidup alam raya yang dibuat dalam bentuk meru. 

Jumlah tumpang atap meru menjadi ekspresi kuasa dewa-dewa dalam simbol aksara suci yang distanakan pada pelinggih meru tersebut. Meru tumpang dua mengekspresikan kuasa Purusha dan Pradhana dalam simbol dwi aksara (I dan Ya) yang berada di tengah. Meru tumpang tiga menunjukkan kuasa Tri Purusha (Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa) dengan simbol tri aksara (I, Omkara, dan Ya). Meru tumpang lima merepresentasikan kuasa Pancadewata dengan simbol panca Brahma penguasa arah Timur, Selatan, Barat dan Utara (Sa, Ba, Ta, A, I), ditambah Omkara di tengah. Meru tumpang tujuh menunjukkan kuasa Sapta Dewata/Rsi dengan kuasa arah Timur, Selatan, Barat dan Utara (Sa, Ba, Ta, A, I) ditambah tiga huruf di tengah dengan simbol huruf: I, Omkara, dan Ya. 

Selanjutnya Meru tumpang sembilan menunjukkan kuasa Dewata Nawa Sanga. Dewa penguasa sembilan arah mata angin, dengan simbolik delapan huruf suci: Sa, Ba, Ta, A, Na, Ma, Si, Wa, ditambah Omkara di tengah. Terakhir, Meru tumpang sebelas sebagai ekspresi kuasa Eka Dasa Dewata, yakni sebelas dewa penguasa arah mata angin, dengan simbol sebelas huruf suci: Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya, ditambah Omkara di tengah.

Di sisi lain Lontar Andha Bhuana, menerangkan Meru berasal dari kata, “me”, yang berarti meme = ibu (pradana tattwa), sedangkan “ru”. berarti guru = bapak (purusa tattwa), sehingga penggabungan kedua kata tersebut menjadi meru yang diartikan sebagai cikal bakal leluhur. Selanjutnya disebutkan meru adalah simbol alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Singkatnya, Lontar Andha Bhuana menegaskan dua makna meru, yaitu sebagai simbolis alam semesta dan simbolis cikal bakal leluhur. 
  1. Meru sebagai Dewa Pratista. Lontar Tantu Pagelaran, Kekawin Dharma Sunia dan Usana Bali menyatakan meru untuk Dewa Pratista, terkait fungsi meru sebagai tempat pemujaan atau pelinggih dewata. Alam semesta yang maha luas disimbolkan sebagai “gunung" yakni Gunung Mahameru, tempat bersemayamnya para dewa. Puncak Gunung Mahameru inilah yang kemudian diwujudkan sebagai pelinggih meru. 
  2. Meru sebagai Atma Pratista. Lontar Andha Bhuana menguraikan fungsi meru sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau Dewa Pitara. Proses pemaknaan jumlah tumpang meru untuk Atma Pratista menjadi petanda status sosial tradisional leluhur, yakni hirakhi kuasa sebagai Dalem “raja di raja”, raja bawahan, arya mantri-pepatih, atau jasa pendams ping setia kerajaan. Hak penggunaan jumlah tumpang meru yang berbeda-beda ini adalah “anugrah“ dari kuasa Dalem.


Penulis: I Putu Gede Suyoga
Source : Wartam/edisi39/Mei/2018/28

Subscribe to receive free email updates: