Cara dan Sikap Pengucapan Mantra

MUTIARAHINDU -- Secara etimologi mantara berari “itu yang melindungi” (tra = melindungi) ketika diulang-ulang atau direnungkan (man= berpikir, merenungkan). Kata mantra memiliki dua arti: bagian puitis dari Veda dan, nama-nama dan suku kata yang dipergunakan untuk melakukan permohonan kepada Tuhan atau para Dewa. Yang pertama bersifat Ceda dan yang kedua Tantrik (Mantra Samhita, 2013 : 6).

Cara dan Sikap Pengucapan Mantra
Foto: mutiarahindu.com
Dikatakan juga bahwa mantra adalah satu kata atau ucapan yang mengandung makna atau kekutan spiritual. Di dalam buku John Grimes (1948 : 187) yang berjudul A Concise Dictionary of Indian Philosophy dijelaskan bahwa menurut filsafat Sakta, mantra menyelamatkan orang yang merenungkan makna dari mantra itu.

Di dalam buku Rahasia Yantra, Mantra dan Tantra (Dr. L. R. Chawdhri, (2003 : 97) dijelaskan bahwa Mantra digunakan dalam sadhana Tantra atau berbagai ritual, diucapkan atau diulang-ulang dalam berbagai kombinasi dan konteks, yang kemudian membuat pola vibrasi tertentu. Seseorang juga dapat mencapai kesehatan yang baik, nasib baik dan kemenangan atas musuh dengan mengucapkan mantra tertentu.

Baca: Fungsi dan Tujuan Mantra

Di dalam melakukan mantra atau pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa ada beberapa cara antara lain:
  1. Denga mengucapkan kata suci atau Mantra
  2. Dengan menggunakan bahasa simbol dalam bentuk Upakara.
  3. Dengan menggunakan Upakara dan Mantra sekaligus, yang lazim disebut Yajna Upakara (Mantra Samhita, 2013 : 15).
Mengenai sikap dalam mengucapkan mantara dilakukan dengan tangan berbentuk kojong yang disebut Deva Pratistha, yang mengandung arti filosofis manunggaling (menyatukan) bayu, sabda, idhep yaitu manunggalnya tenaga, ucapan dan pikiran atau terpusatnya cipta, rasa dan karsa, yang dapat menimbulkan perasaan atau suasana spiritual dari mantra itu.


Dengan manunggalnya bayu, sabda, idhep di dalam mantra berarti kita bersaksi kepada hakikat inti hidup yang sejati pada diri kita yaitu sinar suci Sanghyang Widhi Wasa (Brahman) dengan harapan, mantar yang diucapkan dapat diterima-Nya, kemudian Sanghyang Widhi berkenan melimpahkan anugrah-Nya (Mantra Samhita, 2013 : 16).

Apabila keadaan tidak memungkinkan, maka sikap ketika mengucapkan mantra seperti tersebut di atas dapat diabaikan (dikondisikan dengan keadaan), artinya cukup dengan mengucapkan mantara dalam hati (dalam pikiran saja).

Referensi

Chawdhri, Dr. L. R. 2003. Rahasia Yantra, Mantra dan Tantra. Surabaya : Paramita.
Dana, I Nengah dan Suratnaya, Dewa K .2013. Mantra Samhita, Himpunan Doa Hindu. Jakarta : Media Hindu

Subscribe to receive free email updates: