Perang Asimetris Dari Mahabharata Hingga Kini

MUTIARAHINDU -- Presiden ke-35 Amerika Serikat, John F. Kennedy pada tahun 1962 telah mengungkapkan adanya perang gaya baru yang mencari kemenangan bukan dengan menghadapinya, namun dengan cara merontokkan dan menyusutkan musuhnya. Jenis perang ini dikenal dengan peperangan asimetris (asymmetric warfare). Pasalnya dalam perang tidak semata-mata mengangkat senjata api maupun bambu runcing untuk melawan musuh.

Foto; Mutiarahindu.com
Dalam perang asimetris, tidak dapat diketahui dengan pasti siapa musuh yang sebenarnya. Sehingga dalam peperangan ini tidak akan tercium bau mesiu maupun suara tembakan, tetapi pengaruhnya lebih mengerikan dari bom nuklir.

Namun tidak dapat dipungkiri jika terjadi aksi fisik di dalamnya. Teknik penyerangan nir-militer ini biasanya digunakan oleh aktor, kelompok, maupun negara yang memiliki kekuatan militer lemah menghadapi sebuah negara dengan militer yang kuat.

Perang ini dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim dan di luar aturan peperangan yang berlaku dengan spektrum perang yang sangat luas mencakup astagatra (perpaduan antara trigatra: geografi, demografi dan sumber daya alam; dan pancagatra: ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya).

Perang asimetris memiliki ciri yang lebih soft dan seolah lebih murah dari perang simetris yang cenderung high cost. Namun di balik permainan yang lembut dan murah ini, serangan perang asmetris mampu menghasilkan korban dan kerugian yang tidak kalah besarnya dari perang militer.

Serangan perang asimetris bertujuan untuk membelokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme, melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat dan menghancurkan ketahanan pangan dan energy security yang menyebabkan ketergantungan negara target atas dua hal tersebut.

Rod Thorton menyebutkan tiga bagian perang asimetris, pertama cyber warfare atau operasi ofensif dalam perang informasi; kedua, senjata penghancur massal seperti senjata biologi, kimia, nuklir, dan radiologi; dan ketiga, senjata konvensional yang direkayasa menjadi non-konvensional dengan taktik-taktik modern, seperti peningkatan teknologi amunisi dengan daya ledak besar. Penyerangan nir-militer sendiri memiliki dampak yang sangat dasyat karena dalam melumpuhkan suatu negara. Selain itu, masa pemulihannya juga relatif lama dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Perang asimetris atau perang generasi keempat yang dalam perkembangannya lebih banyak menggunakan kekuatan intelektual daripada militer ini bukanlah teknik baru. Teknik ini telah diterapkan ketika dan sebelum perang saudara Bharatayudha oleh Sri Krishna di pihak Pandava dan Sakuni di pihak Kaurava.

Sejak awal kemunculan Sakuni dalam Mahabharata, ia telah menerapkan metode pertempuran asimetris terhadap Pandava. Mulai dari upaya pembunuhan Bima, istana kardus hingga permainan dadu, yang semua ini dilakukan untuk menyingkirkan Pandava dari Bumi Astinapura. Sebagai upaya pertahanan Pandava, Sri Krishna hadir untuk mengimbangi siasat Sakuni, sehingga Pandava dapat memenangkan pertempuran meskipun dengan jumlah pasukan yang jauh lebih kecil.

Pada masa kini, upaya serangan asimetris salah satunya dilakukan melalui cyber (dunia maya). Dunia maya sebagai alat penghubung interaksi tanpa terhalangi oleh jarak dan waktu ini dalam waktu yang bersamaan memiliki ancaman akibat penyalahgunaan teknologi yang dapat mengacaukan kehidupan masyarakat bahkan negara sejalan dengan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap suatu teknologi.

Seperti dalam Mahabharata (teknik perang asimetris juga dilawan dengan teknik perang asimetris) sehingga suatu negara wajib memiliki cyber-security atau cyber-army. Mengapa? karena serangan dunia maya tidak dapat dihentikan dengan meriam, pesawat tempur dan alat perang militer lainnya.
Maka, setiap warga negara harus cerdas dalam memilih dan menggunakan teknologi informasi, tidak mudah tersulut oleh api kebohongan dan isu-isu permecah persatuan yang gentayangan di dunia maya.

Penulis: Ni Made Sumaryani (Tim peneliti The Hindu Center Of Indonesia, Anggota Vivekananda Spirit Indonesia.

Sumber; Media Hindu hal 52-53 edisi 169. Maret 2018.

Subscribe to receive free email updates: