Pengertian dan Makna Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu

MUTIARAHINDU – Nyepi merupakan salah satu hari raya suci umat Hindu yang telah diakui negara dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Nyepi merupakan hari suci umat hindu berdasarkan sasih atau bulan dan tahun masehi yang dirayakan setiap satu tahun sekali. Tepatnya pada pergantian tahun baru saka. Saka dalam bahasa sansekerta artinya tarich/ Bulan. Di Indonesia tahun saka dimulai setelah bulan mati atau Tilem ke IX yaitu sekitar bulan maret (Ngurah Nala dan Sudharta. 2009:171).

Foto: Mutiarahindu.com
Pengertian Hari Raya Nyepi

Secara etimologi Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya Sunyi. Jadi secara aeri Nyepi adalah hari raya yang diperingati dengan sepi (Susila. Dkk. 2009:181). Kemudian dalam buku Pedoman Dosen Agama Hindu (Tim Penyusun. 1998/1999) dijelaskan bahwa nyepi berasal dari kata sepi, sipeng atau hening. Jadi hari raya nyepi adalah hari raya suci agama Hindu yang berdasaarkan sasih atau bulan dan tahun masehi yang dirayakan dengan penuh keheningan dengan menghentikan segala aktifitas yang bersifat duniawi maupun dalam bentuk keinginan dan hawa nafsu. Berusaha mengendalikan diri agar dapat tenang dan damai lahir bathin dengan menjalankan catur brata penyepian (Tim Penyusun. 1998: 130).

Hari raya nyepi juga dikenal sebagai Hari Tahun Baru Saka yang dirayakan setiap awal sasih ke dasa atau sehari setelah hari Tilem Sasih kasanga (antara maret dan april pada tahu Masehi). Penetapan hari raya nyepi dapat dihitung berdasrkan peredaran Matahari dan Bulan mengelilingi bumi dan pergantian musim (Rudia Adiputra. Dkk. 2004:23)

Makna Pelaksanaan Hari Raya Nyepi

Secara umum Nyepi bermakna sebagai perdamaian lahir bathin dengan jalan saling maaf-memaafkan dan kunjung-mengunjungi atau dipusatkan pelaksanaannya dengan melaksanakan Dharmasanti pada suatu tempat tertentu (Tim Penyusun. 1998:130). Namun jika dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu dengan menerapkan Catur Brata Penyepian, Nyepi memiliki makna sebagai berikut:
  1. Amati Geni artinya tidak menyalakan api, jika dibawa ke dalam diri setiap manusia bermakna bahwa hendaknya orang yang melaksanakan amati Geni dapat mengendalikan api yang ada di dalam dirinya berupa pengedalian hawa nafsu.
  2. Amati Karya artinyaa tidak melakukan pekerjaan secara jasmani. Maksutnya disini bahwa pada saat melaksanakan brata penyepian hendaknya tidak melaksanakan kegiatan seperti bertani dan lainya. Tetapi manusia dituntut untuk meningkatkan kesucian rohani.
  3. Amati lelungan artinya tidak keluar rumah. Seorang yang melaksanakan brata penyepian diharapkan tidak keluar rumah, tetapi lebih mawas diri atau merenungkan perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan dan diperbaiki pada hari berikutnya.
  4. Amati Lelanguan artinya tidak menuruti kesenangan duniawi tetapi lebih manusia diharapkan lebih memusatkan pikiran terhadap tuhan yang maha esa.

Dari penjelasan diatas kita dapat mengambil makna bahwa pelaksanaan hari raya Nyepi bertujuan untuk mengendalikan indria-indria manusia dari obyek duniawi, serta merenungkan perbuatan-perbuat yang tidak baik untuk diperbaiki pada kehidupan berikutnya. Selain itu, pelaksanaan hari raya nyepi juga bermakna penyucian bhuana Agung dan Bhuana Alit (Makro dan Mikro Kosmos) guna mewujudkan keseimbangan dan kesejahteraan serta kebahagian lahir bhatin (Jagadhita dan Moksa) demi terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), Siwam (kesucian) dan sundaram (keharmonisan).

Di dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi (Titib. 2003:19-41) dijelaskan panjang lebar mengenai makna filosofi dari pelaksanaan hari raya Nyepi seperti misalnya sebagai berikut:

A. Hari Raya Nyepi Bermakna Sebagai Peringatan

Hari raya nyepi yang diperingati setiap tahun saka juga disebut saka warsa. Warsa artinya tahun dan Saka adalah nama keluarga raja yang terkenal di India yang menciptakan kedamaian diantara rakyat. Dikisahkan bahwa pada tahun 78 Masehi, Raja Kaniska I di India berhasil mendamaikan masyarakat dari sebelumnya terjadi peperangan yang berkelanjutan. Karena masyarakat merasa damai dibawa pimpinan Kaniska, maka tahun baru saka diperingati sebagai tahun kemenangan (kedamaian). Dari sini dapat kita mengambil makna bahwa peringatan Hari raya Nyepi atau Tahun baru saka adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap raja Kaniska atas keberhasilannya mendamaikan India. Selain itu, kita juga dapat mengambil makna bahwa perdamaian sangat penting diantara kita sebagai umat yang mempunyai nilai moral yang sangat tinggi. 

B. Nyepi bermakna sebagai Pendakian Spiritual

Makna pelaksanaan hari raya Nyepi secara spritual adalah untuk mewujudkan vindu atau sunya atau keheningan hati dengan cara melakukan brata, yakni janji atau tekat yang bulat untuk menghentikan atau mengendalikan aktivitas indriya (duniawi). Brata atau janji yang pantangan dilakukan meliputi 4 hal, yaitu: amatigeni atau patigeni, tidak memasak dan menyalakan lampu/penerangan, amatikarya, tidak melakukan pekerjaan apapun, amati lalanguan, tidak menikmati hiburan apapun dan amatilalungayan, tidak bepergian kemanapun. Dari ke empat hal tersebut dikenal dengan Catur Brata Penyepian.

Dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian umat Hindu melakukan tapa brata berupa upavasa, yaitu tidak menikmati makanan dan minuman yang diikuti dengan melaksanakan Maunabrata, yakni brata berupa menghentikan wicara (tutup mulut atau tidak berbicara) selama melaksanakan Nyepi. Selain itu, umat Hindu berusaha mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi dan terus introspeksi dan re-evaluasi terhadap perbuatan yang mereka telah lakukan selama tahun yang lalu untuk diproyeksikan di tahun yang akan datang. 

Nyepi juga bermakna sebagai penemuan Sang Diri (atman) dalam diri manusia bila benar-benar menekuni yoga brata penyepian seperti dijelaskan dalam Dalam ckakawin Arjuna Wiwaha, bahwa pada tempayan yang bersih berisi air yang jernih, bayangan bulan akan nampak jelas, demikian pula Tuhan Yang Maha Esa, Paramatman, Atman sebagai penghuni jasmani akan menampakkan diri (Titib. 2003:22).

C. Nyepi Bermakna sebagai Harmoni dan Toleransi yang Sejati

Tahun baru Saka merupakan tonggak peringatan atas kejayaan suku bangsa Kusana dan sekaligus adalah hari toleransi, mengembangkan kebersamaan dan introspeksi atas tindakan yang telah dilakukan, karena peperangan antar suku bangsa di anak benua India sebelumnya, tidak pernah menyelesaikan dan menuntaskan masalah. Hanya dengan kesadaran bahwa setiap makhluk mendambakan kasih dan penghargaan dan dengan mewujudkan perdamaian, dinasti Kusana berhasil memperoleh kejayaan. Ternyata dalam perkembangan sejarah, tahun Saka berpengaruh dan selanjutnya dipergunakan oleh dinasti-dinasti lainnya sampai ke India Utara, India Timur, India Selatan, Asia Tenggara dan Indonesia (Titib. 2003: 24).

Perayaan Nyepi, Tahun Baru Saka sesungguhnya merupakan tradisi keagamaan yang mengandung nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kualitas Sraddha (iman) dan Bhakti (taqwa) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nyepi bukanlah sekedar kegiatan rutin tahunan untuk menyongsong tahun baru Saka, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam yaitu sebagai perwujudan Yajna, yakni kasih sayang (parama-premé), pengorbanan suci yang tulus dan ikhlas demi berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kitab suci Yajurveda XXIII.62 dinyatakan: Ayam yajnobhuvanasya nabhib, Yajna adalah poros terciptanya alam semesta (Titib. 2003: 26).

D. Nyepi Bermakna Citra Bhuta-Bhuti

Dalam rangkaian hari raya nyepi terdapat pencaruan yang bermakna untuk menetralisir kekuatan negative agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Pencaruan atau Tawur dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Sang Hyang Siwa agar mengendalikan kekuatan jahat (raksasa) agar tidak mengganggu kehidupan manusia pada saat pelaksanaan Nyepi. Di Indonesia, kekuatan jahat diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh yaitu bentuk boneka besar yang usung sebagai simbolis dari makhluk-makhluk yang mengganggu hidup manusia. Penggambaran wujud tersebut dalam bahasa sansskerta adalah citra Bhuta-bhuti, yang sebaiknya setelah selesai prosesi upacara pengerupukan atau mabuhu-buhu hendaknya di pralina, dimatikan, suapaya kekuatan negatif tersebut dapat dietralisir. Upacara pralina dapat berupa Tirtha Pralina atau penyineb untuk mengembalikan kekuatan tersebut ke asalnya.


Reff

Ngurah Nala, I Gusti dan Sudharta, Tjokorda Rai. 2009. Sanatana Hindu Dharma (Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik Oka). Denpasar: widya Dharma.
Susila, I Nyoman. 2009. Materi Pokok Acara Agama Hindu Modul 1-9. Jakarta: Departemen Agama RI Didjen Bimas Hindu
Tim Penyusun. 1998. Buku Pedoman Dosen Agama Hindu (Hasil Rumusan Penyusunan Pedoman Pendidikan Agama Hindu Diperguruan Tinggi Umum 1995/1996). Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan  Masyarakat Hindu dan Budha.
Rudia Adiputra, I Gede. Dkk. 2004. Dasar-Dasar Agama Hindu. Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan  Masyarakat Hindu dan Budha.
Titib, I Made. 2003. Pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Edisi Revisi. Jakarta: Pustaka Mitra Jaya .



Subscribe to receive free email updates: