Pengertian Moksa dan Tingkatan-Tingkatannya

MUTIARAHINDU -- Moksa merupakan bagian terakhir dari Panca Srada yaitu lima keyakinan umat Hindu. Adapun bagian dari kelima panca Srada adalah percaya adanya Brahman, percaya adanya Atman, percaya adanya Karma Pala, percaya adanya Punarbhawa, dan percaya adanya Moksa. Moksa sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata “Muc” yang artinya “Membebaskan” atau “Melepaskan” (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 2).

Foto: Istimewa
Berdasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya jiwa (atman) dari ikatan duniawi atau samsara (kelahiran kembali). Ngurah Nala dan Sudharta (2009: 41) menjelaskan apabila Atman itu sudah bersih, oleh karena Ia mentaati petujuk-petunjuk Sang Hyang Widhi (Tuhan), maka Atman itu tidak terikat dengan hokum karma, disebut Niskama Karma, dan Tidak lagi mengalami Punarbhawa, tidak mengalami Samsara. Keadaan inilah yang disebut Moksa atau kelepasan (pembebasan).

Moksa juga merupakan bagian dari Catur Purushàrtha yaitu empat tujuan hidup umat Hindu. Ada pun bagian-bagiannya adalah dharma (kebenaran), artha (kesejahteraan), kama (keinginan/kenikmatan duniawi), dan moksa (kebebasan sejati). Moksa dapat disamakan dengan nirwana, nisreyasa (keparamarthan) yang merupakan Brahman yang sangat gaib dan berada di luar pikiran manusia, dengan demikian Moksa dapat disamakan dengan Nirguna Brahman (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 2).
Alam Moksa tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, hanya orang yang mengalami yang bisa merasakan. Kata Moksa dapat juga disebut Mukti, yang berarti mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani selamanya. Orang-orang yang telah mencapai moksa (bebas dari reinkarnasi) akan mengalami kebenaran, kesadaran, kebahagian (Sat, Cit, Ananda).

Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya Atman (jiwa) dari ikatan duniawi (maya) sehingga menyatu dengan Brahman (Tuhan). Orang yang telah mencapai Brahman akan merasakan kebahagiaan tertinggi (Sat cit ananda). Semua orang dapat mencapai tingkatan ini asalkan mengikuti ajaran agama.

Kapan Saja Manusia Bisa Mencapai Moksa

Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 3) menjelaskan bahwa semua orang pada hakikatnya dapat mencapai moksa, bila mengikuti petunjuk-petunjuk agama. Hal ini dapat terwujud bilamana seseorang telah terbebas dari keterikatan. Upaya mencapai moksa dapat dilakukan dengan cara menyadari dan berupaya menumbuh-kembangkan usaha untuk melepaskan diri yang sejati dari keterikatan. Usaha-usaha itu diantaranya; dengan berperilaku yang baik, berdana-punya, beryajna, dan tirthayatra.

Selain itu dapat juga dilakuan dengan berusaha mengendalikan sifat-sifat tri Guna yang ada dalam diri manusia, yaitu sattwam, rajas dan tamas. Usaha untuk menyeimbangkan sifat-sifat tersebut memanng sangat sulit, namun yakinlah bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin diri. Menghayati dan pengamalan ajaran kitab suci, melakukan pemujaan, kerja secara tulus dan iklas, serta menanamkan keyakinan pada diri kita bahwa segala sesuatu berawal dan berakhir pada Tuhan. Orang mencapai moksa bila telah menyadari dirinya yang sejati. Moksa dapat dicapai di dunia maupun setelah hidup ini berakhir sepeti disebutkan dalam Bhagawadgita, XI. 54.

“Bhaktyā tv ananyayā úakya // ahaý evam-vidho ‘rjuna, // jñātuý draûþuý cha tattvena // praveûþuý cha paraýtapa”

Artinya :

“Tetapi, melalui jalan bakti yang tak tergoyahkan Aku dapat dilihat dalam realitasnya dan juga memasukinya, wahai penakluk musuh (Arjuna) Paramtapa”.

Tingkatan-Tingkatan Moksa

Berdasarkan beberapa sumber, moksa dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan. Ada pun tingkatan-tingkatannya adalah sebagai berikut;

Menurut Sudirga (2002: 89), tingkatan moksa dapat dibedakan menjadi tiga yakni Jiwa Mukti, Wideha Mukti dan Purna Mukti. Adapun maksud dari ketiganya adalah sebagai beriku:
  1. Jiwa Mukti, yaitu moksa yang diperoleh semasa masih hidup, dimana atman manusia tidak terpengaruh oleh gejolak indria dan maya. Moksa ini, dapat disamakan Sarupya (sadharmya) dan Samapya.
  2. Wideha Mukti yaitu moksa yang dicapai oleh manusia semasa hidupnya, di mana atmanya telah meninggalkan badan wadagnya (jasadnya), tetapi roh yang bersangkutan masih terkena pengaruh maya yang tipis. Moksa pada tingkatan ini, atma dinyatakan setarakan dengan Brahman, tetapi belum dapat menyatu dengan-Nya, hal ini diakibatkan masih ada pengaruh maya. Moksa Widehamukti dapat disejajarkan dengan salokya.
  3. Purna Mukti yaitu moksa yang paling sempurna, dimana atman manusia sudah bisa bersatu dengan Brahman. Moksa ini dapat diperoleh setelah meninggal. Istila Purna Mukti sejajar dengan Sayujya.

Kemudian Supartha (1991: 27) menjelaskan bahwa tingkatan moksa jika dilihat dari segi kebebasan yang dicapai Atman, maka moksa dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu:
  1. Moksa yaitu kelepasan yang masih meninggalkan badan bekas berupa jenazah atau badan kasar
  2. Adi Moksa yaitu kelepasan dengan meninggalkan bekas berupa abu.
  3. Parama Moksa ayitu kelepasan tanpa meninggalka bekas.

Penjelasan mengenai moksa juga terdapat dalam Brahma Purana. Titib (2006: 20) menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan moksa yakni Moksa dari keterikatan Ajnana (kebodohan), Keselamatan lepas dari ragasamksaya (sehancurnya keterikatan yang sangat mendalam atau amat melekat, dan Trsnaksaya (mengancurkan kehausan seperti Sangat terikat denga keduniawian (Suhardana, 2010: 25).

Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 7) menjelaskan bahwa moksa dibagi menjadi empat. Adapun keempatnya adalah sebagai berikut:
  1. Samipya yaitu moksa yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia ini. Moksa seperti ini dapat dilakukan oleh para Maharsi dan Yogi dengan cara melakukan Yoga Samadhi sehingga terlepas dari unsur-unsur maya, sehingga beliau dapat mendengar wahyu Tuhan. Dalam posisi moksa seperti ini Atman (jiwa) berada sangat dekat dengan Tuhan. Setelah Beliau selesai melakukan samadhi, maka keadaan para Maharsi dan Yogi kembali sebagai biasa, di mana , ikiran emosi, dan organ jasmaninya aktif kembali.
  2. Sarupya (Sadharmya) yaitu moksa yang didapat oleh seseorang di dunia ini, karena kelahiran orang tersebut, di mana kedudukan Atman (jiwa) merupakan pancaran dari kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya awatara Wisnu yakni Sri Rama, Buddha dan Sri Kresna. Walaupun Atman telah mengambil suatu perwujudan tertentu, namun ia tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini (maya).
  3. Salokya yaitu moksa yang dapat dicapai oleh Atman (jiwa), di mana Atman itu sendiri telah berada dalam posisi dan kesadaran yang sama dengan Sang Hyang Widhi (Brahman). Ketika ataman mecapai posisi Moksa ini, Atman telah mencapai tingkatan Deva (Dewa) merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi itu sendiri.
  4. Sayujya yaitu moksa yang tertinggi di mana Atman (jiwa) telah dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Dalam keadaan seperti inilah sebutan Brahman Atman Aikyam yang artinya “Atman dan Brahman sesungguhnya tunggal (satu)”.

Demikianlah tingkatan-tingkatan moksa dan pengertiannya sertakeberadaan orang yang dapat mencapai moksa, dan perlu diikuti dengan kesungguhan hati. “Karena itu penderitaan pikiran hendaklah diusahakan untuk dimusnahkan dengan kebijaksanaan, sebab tentunya lenyap oleh kebijaksanaan, seperti misalnya api yang menyala, pasti padam oleh air, jika telah musnah penderitaan pikiran, maka lenyaplah pula sakitnya badan (Sarasamuscaya, 503).”

Referensi

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Suhardana, Komang. 2010. Moksa Brahman Atman Aikyam. Surabaya: Paramita.
Sudirga dkk., Ida Bagus, Widya Dharma Agama Hidu. Ganesa. Bandung, 2004.
Suparta dkk., Drs. I Nyoman Suda. Pendidikan Agama Hindu. Ganesa, Bandung. 1991.
Titib, I Made. 2006. Persepsi Umat Hindu di Bali Terhadap Svarga, Neraka, Moksa Dalam Svargarohanaparva. Surabaya: Paramita.
Kitab Sarasamuccaya.
Kitab Bhagavadgita.


Subscribe to receive free email updates: